Legenda Mbah Bungkul dan Proses Masuknya Islam di Surabaya
CNN Indonesia
Sabtu, 23 Apr 2022 11:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Kisah mengenai Mbah Bungkul salah satunya muncul dalam Prasasti Trowulan. (istockphoto/5bf5911a_905)
Jakarta, CNN Indonesia --
Islammasuk ke Indonesia melalui proses yang sangat panjang. Setiap daerah punya kisah masuknya Islam masing-masing.
Beberapa kisah diketahui lewat bukti sejarah seperti prasasti atau peninggalan sejarah lainnya. Sebagian lainnya dikisahkan secara lisan dan turun temurun.
Di Surabaya ada satu legenda yang cukup terkenal, yakni Legenda Mbah Bungkul atau Ki Ageng Mahmuddin, seorang pria yang dikenal sebagai penguasa Muslim salah satu daerah di Surabaya pada abad ke-14.
Dosen Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR), Adrian Perkasa menyebut, meskipun tidak ada sumber-sumber tertulis yang bisa menjelaskan bagaimana legenda atau folklore serta prasasti meriwayatkan kisah Mbah Bungkul, tapi sumber lisan masih cukup banyak.
"Sumber yang didapat hanya berasal dari tradisi lisan atau legenda," jelas Adrian dalam keterangan tertulis.
Meski tak dijelaskan secara rinci bagaimana penyebaran agama Islam yang dimaksud, namun Mbah Bungkul dikisahkan pernah mengadakan sebuah sayembara untuk mencari menantu dengan cara melarung buah delima.
"Saat sayembara, akhirnya larung delima itu didapatkan oleh Raden Paku atau Sunan Giri yang merupakan tokoh Wali Songo paling terkenal," jelas Adrian.
Legenda lain juga menyebutkan bahwa Mbah Bungkul berkaitan dengan tokoh Empu Supo, yang dalam tradisi legenda dikenal sebagai pembuat pusaka. Kata Adrian, jika melihat para komunitas empu pembuat keris dan pusaka yang masih ada saat ini, mereka banyak mengisbatkan Mbah Bungkul dan Empu Supo sebagai orang yang sama.
Hanya saja, hal ini belum terbukti, sebab hampir seluruh daerah di pesisir utara Jawa Timur menyebutkan keberadaan makam Empu Supo di daerahnya, misal di Lamongan dan Tuban. Sehingga belum jelas kebenaran terkait Mbah Bungkul dan Empu Supo sebagai orang yang sama.
Simak kisah legenda Mbah Bungkul selengkapnya di halaman berikutnya..
Kisah lainnya mengatakan bahwa Mbah Bungkul bahkan sudah ada dan telah memeluk Islam sejak kejayaan Majapahit. Hal ini merujuk pada Prasasti Trowulan atau Canggu yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk.
Dalam prasasti itu diriwayatkan beberapa desa yang mendapat keistimewaan bebas pajak, mendapat akses ke kerajaan, serta bebas melaksanakan ibadah.
"Desa-desa itu terletak di daerah aliran sungai besar Jawa Timur, seperti Brantas dan Bengawan Solo," jelas Adrian.
Desa-desa yang memiliki keistimewaan dari Majapahit ini bahkan melaksanakan ibadah lima waktu yang memang berkaitan dengan agama Islam. Hal itu mengindikasikan bahwa Islam sudah ada di daerah Bungkul sejak masa kejayaan Majapahit pada kekuasaan Hayam Wuruk.
"Ki Ageng Bungkul sebagai penguasa punya peran istimewa sehingga bisa mendapatkan privilege pada masa kejayaan majapahit," jelas Adrian.
Pada masa itu, letak geografis Bungkul juga cukup strategis. Wilayah ini juga dekat dengan aliran sungai yang tentu saja memberi berbagai keuntungan.
Dari sisi ekonomi, sebelum dibangunnya jalur darat oleh Daendels, sungai merupakan kawasan strategis ekonomi karena menjadi jalur utama aktivitas perdagangan.
"Secara religi, daerah Bungkul sangat strategis dalam persebaran ajaran islam, hal itu bisa dilihat dari keberadaan legenda yang menyebutnya sebagai mertua Sunan Giri, serta adanya makam Adipati dan Demang dalam kompleks makam Mbah Bungkul tersebut," jelasnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Islammasuk ke Indonesia melalui proses yang sangat panjang. Setiap daerah punya kisah masuknya Islam masing-masing.
Beberapa kisah diketahui lewat bukti sejarah seperti prasasti atau peninggalan sejarah lainnya. Sebagian lainnya dikisahkan secara lisan dan turun temurun.
Di Surabaya ada satu legenda yang cukup terkenal, yakni Legenda Mbah Bungkul atau Ki Ageng Mahmuddin, seorang pria yang dikenal sebagai penguasa Muslim salah satu daerah di Surabaya pada abad ke-14.
Dosen Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR), Adrian Perkasa menyebut, meskipun tidak ada sumber-sumber tertulis yang bisa menjelaskan bagaimana legenda atau folklore serta prasasti meriwayatkan kisah Mbah Bungkul, tapi sumber lisan masih cukup banyak.
"Sumber yang didapat hanya berasal dari tradisi lisan atau legenda," jelas Adrian dalam keterangan tertulis.
Meski tak dijelaskan secara rinci bagaimana penyebaran agama Islam yang dimaksud, namun Mbah Bungkul dikisahkan pernah mengadakan sebuah sayembara untuk mencari menantu dengan cara melarung buah delima.
"Saat sayembara, akhirnya larung delima itu didapatkan oleh Raden Paku atau Sunan Giri yang merupakan tokoh Wali Songo paling terkenal," jelas Adrian.
Legenda lain juga menyebutkan bahwa Mbah Bungkul berkaitan dengan tokoh Empu Supo, yang dalam tradisi legenda dikenal sebagai pembuat pusaka. Kata Adrian, jika melihat para komunitas empu pembuat keris dan pusaka yang masih ada saat ini, mereka banyak mengisbatkan Mbah Bungkul dan Empu Supo sebagai orang yang sama.
Hanya saja, hal ini belum terbukti, sebab hampir seluruh daerah di pesisir utara Jawa Timur menyebutkan keberadaan makam Empu Supo di daerahnya, misal di Lamongan dan Tuban. Sehingga belum jelas kebenaran terkait Mbah Bungkul dan Empu Supo sebagai orang yang sama.
Simak kisah legenda Mbah Bungkul selengkapnya di halaman berikutnya..
Ada Sejak Majapahit Berjaya
Ilustrasi. Beberapa kisah dan bukti sejarah mengaitkan sosok Mbah Bungkul dengan proses masuknya Islam di Surabaya. (istockphoto/5bf5911a_905)
Kisah lainnya mengatakan bahwa Mbah Bungkul bahkan sudah ada dan telah memeluk Islam sejak kejayaan Majapahit. Hal ini merujuk pada Prasasti Trowulan atau Canggu yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk.
Dalam prasasti itu diriwayatkan beberapa desa yang mendapat keistimewaan bebas pajak, mendapat akses ke kerajaan, serta bebas melaksanakan ibadah.
"Desa-desa itu terletak di daerah aliran sungai besar Jawa Timur, seperti Brantas dan Bengawan Solo," jelas Adrian.
Desa-desa yang memiliki keistimewaan dari Majapahit ini bahkan melaksanakan ibadah lima waktu yang memang berkaitan dengan agama Islam. Hal itu mengindikasikan bahwa Islam sudah ada di daerah Bungkul sejak masa kejayaan Majapahit pada kekuasaan Hayam Wuruk.
"Ki Ageng Bungkul sebagai penguasa punya peran istimewa sehingga bisa mendapatkan privilege pada masa kejayaan majapahit," jelas Adrian.
Pada masa itu, letak geografis Bungkul juga cukup strategis. Wilayah ini juga dekat dengan aliran sungai yang tentu saja memberi berbagai keuntungan.
Dari sisi ekonomi, sebelum dibangunnya jalur darat oleh Daendels, sungai merupakan kawasan strategis ekonomi karena menjadi jalur utama aktivitas perdagangan.
"Secara religi, daerah Bungkul sangat strategis dalam persebaran ajaran islam, hal itu bisa dilihat dari keberadaan legenda yang menyebutnya sebagai mertua Sunan Giri, serta adanya makam Adipati dan Demang dalam kompleks makam Mbah Bungkul tersebut," jelasnya.