Legenda Pintu Penangkal Petir di Masjid Agung Demak

CNN Indonesia | Senin, 03/05/2021 17:30 WIB
Kisah Masjid Agung Demak, yang arsitekturnya merupakan harmonisasi Hindu-Islam, selalu menarik untuk dipahami. Tampak depan Masjid Agung Demak di Demak, Jawa Tengah. (iStockphoto/5bf5911a_905)
Jakarta, CNN Indonesia --

Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Tempat ibadah yang terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, ini dibangun oleh Raden Patah dari Kerajaan Demak dibantu para Wali Songo pada abad ke-15 Masehi setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit.

Tak sulit menemukan letak Masjid Agung Demak, pasalnya masjid ini telah menjadi situs ziarah dan objek wisata sejarah yang populer di kota Demak.

Kisah mengenai Masjid Agung Demak selalu mengundang decak kagum, karena tempat ibadah ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya Wali Songo yang membantu menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Oleh sebab itu, kota Demak disebut sebagai kota wali.


Mengutip situs resmi Pemerintah Kabupaten Demak, pembangunan masjid yang dilakukan oleh raja pertama Demak, Raden Patah, bersama dengan Wali Songo.

Momen tersebut tercatat pada temuan prasasti bergambar bulus (hewan sejenis kura-kura) yang bernama Candra Sengkala Memet atau Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang memiliki makna tahun 1401 Saka.

Gambar bulus ini terdiri dari angka satu (1),kaki empat berarti angka empat (4), badan bulus yang bulat berarti angka nol (0), serta ekor bulus berarti angka satu (1).

Harmonisasi Hindu-Islam

Mengutip situs resmi Cagar Budaya Kemdikbud, Masjid Agung Demak dibangun dengan gaya khas Majapahit, yang membawa corak kebudayaan Bali. Gaya ini berpadu harmonis dengan langgam rumah tradisional Jawa Tengah.

Persinggungan arsitektur Masjid Agung Demak dengan bangunan Majapahit bisa dilihat dari bentuk atapnya. Kubah melengkung yang identik dengan ciri masjid sebagai bangunan Islam malah tak tampak.

Kecuali mustoko yang berhias asma Allah dan menara masjid yang sudah mengadopsi gaya menara masjid Melayu, arsitektur Masjid Agung Demak yang terlihat justru adaptasi dari bangunan peribadatan agama Hindu.

Bentuk ini diyakini merupakan bentuk akulturasi dan toleransi masjid sebagai sarana penyebaran agama Islam di tengah masyarakat Hindu.

Dengan bentuk atap berupa tajuk tumpang tiga berbentuk segi empat, atap Masjid Agung Demak lebih mirip dengan bangunan suci umat Hindu, pura yang terdiri atas tiga tajuk.

Bagian tajuk paling bawah menaungi ruangan ibadah. Tajuk kedua lebih kecil dengan kemiringan lebih tegak ketimbang atap di bawahnya. Sedangkan tajuk tertinggi berbentuk limas dengan sisi kemiringan lebih runcing.

Masjid Agung Kauman merupakan masjid tertua di kota Semarang yang dibangun pada tahun 1749, masa kesultanan Demak. Masjid yang terletak di Jalan Bangunharjo ini telah menjadi cagar budaya dan harus dilindungi.Ruang ibadah utama di Masjid Agung Demak. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)

Di dalam bangunan utama terdapat ruang utama, mihrab, dan serambi. Ruang utama yang berfungsi sebagai tempat shalat jamaah, letaknya di bagian tengah bangunan.

Sedangkan, mihrab atau bangunan pengimaman berada di depan ruang utama, berbentuk sebuah ruang kecil dan mengarah ke arah kiblat (Makkah).

Di bagian belakang ruang utama terdapat serambi berukuran 31 x 15 meter yang tiang-tiang penyangganya disebut Soko Majapahit yang berjumlah delapan buah itu dan diperkirakan berasal dari kerajaan Majapahit.

Atap Masjid Agung Demak bertingkat tiga (atap tumpang tiga), menggunakan sirap (atap yang terbuat dari kayu) dan berpuncak mustaka. Atap ini menggambarkan iman, Islam, dan ihsan.

Dinding masjid terbuat dari batu dan kapur. Pintu masuk masjid diberi lukisan bercorak klasik. Seperti masjid-masjid yang lain, Masjid Agung Demak dilengkapi dengan sebuah bedug.

Di masjid ini juga terdapat Pintu Bledeg, bertuliskan Condro Sengkolo, yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Pawestren merupakan bangunan yang khusus dibuat untuk shalat jama'ah wanita yang dibangun menggunakan konstruksi kayu jati, dengan bentuk atap limasan berupa sirap (genteng dari kayu) kayu jati.

Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, 4 di antaranya berhias ukiran motif Majapahit. Luas lantai yang membujur ke kiblat berukuran 15 x 7,30 m.

Pawestren ini dibuat pada zaman K.R.M.A. Arya Purbaningrat, tercermin dari bentuk dan motif ukiran maksurah atau khalwat yang bertarikh tahun 1866 M.

Legenda Pintu Penangkal Petir di Masjid Agung Demak

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK