Renungan Harian Katolik 8 Juni 2022: Tuhan Datang untuk Menggenapi
CNN Indonesia
Rabu, 08 Jun 2022 04:34 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Rabu 8 Juni 2022 merupakan hari biasa dengan warna liturgi hijau dalam kalender liturgi Katolik. Berikut renungan harian Katolik hari ini, Rabu 8 Juni 2022.(condesign/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Rabu 8 Juni 2022 merupakan hari biasa dengan warna liturgi hijau dalam kalender liturgi Katolik.
Renungan harian Katolik hari ini mengajak kita untuk mengamati bagaimana Nabi Elia dan Yesus melontarkan kritik.
Kritik itu sah-sah saja selama sifatnya membangun dan cara penyampaian yang tepat. Sebelum masuk renungan harian Katolik hari ini, silakan menyimak bacaan pertama dari Kitab 1 Raja-raja dan bacaan Injil dari Matius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bacaan I
1 Raja-raja 18: 20-39
Sekali peristiwa Raja Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel. Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau Tuhan itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia."
Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun. Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi Tuhan, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya.
Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api.
Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api. Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama Tuhan.
Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!" Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!" Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: "Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggilah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api."
Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: "Ya Baal, jawablah kami!" Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu.
Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: "Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga."
Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian.
Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah Tuhan yang telah diruntuhkan itu. Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub.
Kepada Yakub ini telah datang firman Tuhan: "Engkau akan bernama Israel." Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama Tuhan dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih.
Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu. Sesudah itu ia berkata: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk kedua kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya.
Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya, sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air.
Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya Tuhan, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.
Jawablah aku, ya Tuhan, jawablah kau, supaya bangsa ini mengetahui bahwa Engkaulah Allah, ya Tuhan, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali." Lalu turunlah api Tuhan menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.
Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah!"
Demikianlah sabda Tuhan U: Syukur kepada Allah.
Injil
Matius 5: 17-19
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Karena Aku berkata kepadamu: Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekali pun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat-tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga.
Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga."
Demikianlah sabda Tuhan U: Terpujilah Kristus.
Renungan harian Katolik hari ini
Saat ada sesuatu mengganjal, siapa yang bakal tahan buat terus diam tanpa mengkritik? Melontarkan kritik tidak berarti bahwa kita sudah paling benar dan beres hidupnya, tetapi ada bentuk perhatian dan kasih.
Akan tetapi, saat kritik dibalut perasaan paling benar dan penyampaian yang tidak menyenangkan, tentu ini bukan lagi kasih.
Nabi Elia menyampaikan kritik tanpa bermaksud menjatuhkan rakyat Israel berikut Raja Ahab. Saat mereka berteriak memanggil allahnya nabi-nabi Baal, tidak ada yang menyahut.
Mungkin jika dalam istilah zaman sekarang, Elia 'mengompori' mereka dengan berkata,
"Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga."
Hal ini pun mengobarkan semangat mereka untuk semakin keras memanggil. Meski tanpa hasil, Elia tidak lantas mengolok atau menertawakan mereka tetapi memohon pada Allah untuk menunjukkan mujizat-Nya.
Kemudian dalam bacaan Injil, Yesus datang tanpa memposisikan diri sebagai seorang yang akan mengubah segala hal. Dengan rendah hati ia berkata,
"Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."
Ia tidak mengkritik habis-habisan apa yang diajarkan dalam hukum Taurat justru Ia meminta pada para murid untuk melakukan dan mengajarkan apa yang ada dalam hukum Taurat.
Sebelum melontarkan kritik, hendaknya kita berhenti sejenak dan merenungkan. Apa intensi kita dalam memberikan kritik? Intensi ini tentu yang berkaitan dengan kasih misalnya, untuk menghindarkan seseorang dari bahaya, mengingatkan orang akan perbuatannya yang cenderung kebablasan atau demi tercipta harmoni dalam lingkungan.
Kemudian, baru rangkai kata sebagai bungkus kritik agar tidak bernuansa menyerang, memojokkan atau mempermalukan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Rabu 8 Juni 2022 merupakan hari biasa dengan warna liturgi hijau dalam kalender liturgi Katolik.
Renungan harian Katolik hari ini mengajak kita untuk mengamati bagaimana Nabi Elia dan Yesus melontarkan kritik.
Kritik itu sah-sah saja selama sifatnya membangun dan cara penyampaian yang tepat. Sebelum masuk renungan harian Katolik hari ini, silakan menyimak bacaan pertama dari Kitab 1 Raja-raja dan bacaan Injil dari Matius.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bacaan I
1 Raja-raja 18: 20-39
Sekali peristiwa Raja Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel. Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau Tuhan itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia."
Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun. Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi Tuhan, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya.
Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api, tetapi mereka tidak boleh menaruh api.
Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api. Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama Tuhan.
Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!" Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!" Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: "Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggilah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api."
Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: "Ya Baal, jawablah kami!" Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu.
Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: "Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga."
Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian.
Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah Tuhan yang telah diruntuhkan itu. Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub.
Kepada Yakub ini telah datang firman Tuhan: "Engkau akan bernama Israel." Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama Tuhan dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih.
Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu. Sesudah itu ia berkata: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk kedua kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya.
Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya, sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air.
Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya Tuhan, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.
Jawablah aku, ya Tuhan, jawablah kau, supaya bangsa ini mengetahui bahwa Engkaulah Allah, ya Tuhan, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali." Lalu turunlah api Tuhan menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.
Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah!"
Demikianlah sabda Tuhan U: Syukur kepada Allah.
Renungan harian Katolik hari ini
Foto: iStockphoto/artisteer
Injil
Matius 5: 17-19
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Karena Aku berkata kepadamu: Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekali pun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat-tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga.
Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga."
Demikianlah sabda Tuhan U: Terpujilah Kristus.
Renungan harian Katolik hari ini
Saat ada sesuatu mengganjal, siapa yang bakal tahan buat terus diam tanpa mengkritik? Melontarkan kritik tidak berarti bahwa kita sudah paling benar dan beres hidupnya, tetapi ada bentuk perhatian dan kasih.
Akan tetapi, saat kritik dibalut perasaan paling benar dan penyampaian yang tidak menyenangkan, tentu ini bukan lagi kasih.
Nabi Elia menyampaikan kritik tanpa bermaksud menjatuhkan rakyat Israel berikut Raja Ahab. Saat mereka berteriak memanggil allahnya nabi-nabi Baal, tidak ada yang menyahut.
Mungkin jika dalam istilah zaman sekarang, Elia 'mengompori' mereka dengan berkata,
"Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga."
Hal ini pun mengobarkan semangat mereka untuk semakin keras memanggil. Meski tanpa hasil, Elia tidak lantas mengolok atau menertawakan mereka tetapi memohon pada Allah untuk menunjukkan mujizat-Nya.
Kemudian dalam bacaan Injil, Yesus datang tanpa memposisikan diri sebagai seorang yang akan mengubah segala hal. Dengan rendah hati ia berkata,
"Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya."
Ia tidak mengkritik habis-habisan apa yang diajarkan dalam hukum Taurat justru Ia meminta pada para murid untuk melakukan dan mengajarkan apa yang ada dalam hukum Taurat.
Sebelum melontarkan kritik, hendaknya kita berhenti sejenak dan merenungkan. Apa intensi kita dalam memberikan kritik? Intensi ini tentu yang berkaitan dengan kasih misalnya, untuk menghindarkan seseorang dari bahaya, mengingatkan orang akan perbuatannya yang cenderung kebablasan atau demi tercipta harmoni dalam lingkungan.
Kemudian, baru rangkai kata sebagai bungkus kritik agar tidak bernuansa menyerang, memojokkan atau mempermalukan.