Waspadai Gangguan Pendengaran yang Bisa Terjadi pada Segala Usia

Mayapada Hospital | CNN Indonesia
Kamis, 16 Jun 2022 13:00 WIB
Gangguan pendengaran bisa terjadi pada semua usia. Baik pada bayi, anak-anak, dewasa, sampai usia tua yang disebabkan oleh banyak hal. Ilustrasi. Gangguan pendengaran bisa terjadi pada semua usia. Baik pada bayi, anak-anak, dewasa, sampai usia tua yang disebabkan oleh banyak hal. (Foto: Istockphoto/kokouu)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gangguan pendengaran bisa terjadi pada semua usia. Baik pada bayi, anak-anak, dewasa, sampai usia tua yang disebabkan oleh banyak hal.

Penyebabnya, mulai dari infeksi, faktor kongenital, paparan suara bising dan keras dalam waktu yang lama, tumor, penyakit degeneratif.

Bagian yang terganggu bisa terjadi pada telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam yaitu rumah siput (koklea) dan sistem saraf pendengaran.


Setidaknya ada tiga tipe gangguan pendegaran yang terjadi. Pertama, gangguan pendengaran konduktif di mana kelainan terjadi pada telinga luar seperti penumpukan kotoran telinga dan infeksi, kelainan pada telinga tengah seperti infeksi maupun lubang pada gendang telinga.

Kedua, gangguan pendengaran sensorineural di mana kelainan terjadi pada telinga bagian dalam lebih tepatnya pada ujung saraf pendengaran pada rumah siput (koklea) di telinga bagian dalam yang terhubung ke otak).

Dan yang ketiga, gangguan pendengaran campuran (kombinasi dari gangguan pendengaran konduksi dan sensorineural).

Konsultan Neurotologi, Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher Mayapada Hospital Surabaya dr. Haris Mayagung Ekorini, Sp.THT-KL (K) mengatakan, apabila ada gejala akibat gangguan pendengaran yakni sulit mendengar, dan sering meminta orang lain untuk mengulang pembicaraan serta telinga berdenging atau tinnitus, bisa disertai dengan keluarnya cairan dari telinga (otore), sebaiknya temui dokter.

"Lakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami gejala di atas, terutama ketika gangguan pendengaran tersebut mengganggu kegiatan sehari-hari. Segera temui dokter bila mendadak tidak bisa mendengar apa pun," kata dr. Haris dalam keterangannya, Rabu (15/6).

Sementara Konsultan Otologi, Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Diana Rosalina, Sp.THT-KL (K) mengatakan, gejalan gangguan pendengaran pada bayi dan anak-anak dapat berbeda dengan orang dewasa.

Gangguan pendengaran pada anak, kata dia, seperti tidak kaget saat mendengar suara nyaring, lambat saat belajar bicara atau tidak jelas saat berbicara, dan tidak mendengar atau menoleh ketika namanya dipanggil. Kata dia, gejala tersebut bisa merupakan gangguan pendengaran.

"Segera konsultasikan anak Anda ketika tanda-tanda tersebut terjadi untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut," kata dr. Diana.

Kemudian, KL Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher, Mayapada Hospital Bogor BMC, dr. Anantha Sena, Fellow Otologi Sp.THT menyampaikan, gangguan pendengaran dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

"Seperti penuaan, genetik, paparan suara keras, beberapa penyakit seperti diabetes, hipertensi, gangguan jantung, stroke, tumor dan cedera otak, serta infeksi selama kehamilan seperti TORCH yang dapat memicu terjadinya kelainan bawaan gangguan pendengaran pada bayi," kata dr. Anantha.

Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher, Mayapada Hospital Tangerang dr. Alexander Nur Ilhami, Sp.THT-KL mengatakan, saat ini gangguan pendengaran pada bayi atau anak dapat segera dideteksi.

Menurut dia, skrining pendengaran bayi baru lahir (Newborn Hearing Screening) adalah suatu program untuk mengidentifikasi gangguan pendengaran pada bayi baru lahir. Sejalan dengan perkembangan teknologi skrining seperti ditemukannya Otoacoustic Emission (OAE), Automated Auditory Brainstem Response (AABR), Auditory Brainstem Response (ABR) dan Auditory Steady State Response (ASSR), skrining pendengaran pada bayi sudah menjadi program yang realistis.

"Tujuan pengobatan gangguan pendengaran adalah untuk mengatasi penyebab yang mendasari dan mencegah perburukan gangguan yang terjadi. Pada gangguan sensorineural akibat proses penuaan, rehabilitasi pendengaran bertujuan untuk membantu kemampuan pasien untuk mendengar dengan alat bantu dengar (ABD) serta membantu pasien untuk beraptasi. Pada gangguan pendengaran tipe konduktif umumnya dapat disembuhkan dengan pengobatan maupun tindakan pembedahan," kata dr. Alexander.

Dalam kesempatan ini, Fellow Otologi, Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Kepala Leher Mayapada Hospital Kuningan dr. Ayu Astria, Sp.THT-KL menyampaikan, penyebab gangguan pendengaran tipe konduktif dapat diatasi dengan pembedahan, termasuk kelainan pada gendang telinga maupun tulang pendengaran (ossicles).

"Timpanoplasti adalah prosedur operasi untuk memperbaiki gendang telinga. Tujuan timpanoplasti adalah untuk memperbaiki lubang atau kelainan pada gendang telinga. Selain itu, operasi ini juga dapat bertujuan untuk memperbaiki fungsi pendengaran dan mencegah infeksi telinga tengah," kata dr. Ayu Astria.

Adapun THT Center Mayapada Hospital memiliki layanan skrining pendengaran pada bayi, diagnostik, dan perawatan end-to-end ditunjang dengan dokter spesialis THT dan konsultan untuk penyakit dan kondisi yang berhubungan dengan telinga, hidung, dan tenggorokan pada anak-anak dan dewasa.

Layanan THT Center Mayapada Hospital menyediakan konsultasi, perawatan hingga tindakan operasi dengan tindakan advanced oleh tenaga medis profesional yang terlatih. Mayapada Hospital juga membuka layanan tanya dokter untuk konsultasi berbagai kondisi kesehatan. Pertanyaan-pertanyaan terpilih akan dijawab oleh Dokter Mayapada Hospital.

(rea/rea)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER