Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah mampir ke kawasan Dukuh Atas? Berkat Citayam Fashion Week, Dukuh Atas-Sudirman kini seolah jadi objek wisata baru. Namun, bila diamati lagi, sebenarnya fenomena street fashion ini menyimpan aneka potensi.
Desainer sekaligus National Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC), Ali Charisma, mengaku masih meraba, sebenarnya istilah apa yang bisa dilekatkan dengan Citayam Fashion Week.
Kendati demikian, ia tetap melihat fenomena ini mampu memberikan dampak positif terhadap industri mode.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apa event? Bisa dibilang event atau dibilang kayak movement? [Apapun itu] fenomena Citayam Fashion Week ini sangat positif di industri fashion secara bisnisnya," kata Ali saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (28/7).
Dari kacamata mode, fenomena Citayam Fashion Week bisa dikategorikan sebagai street fashion.
Seperti dilansir dari JD Institute of Fashion Technology, street style fashion atau street fashion merupakan gaya pakaian tertentu yang berasal dari budaya fashion Inggris. Gaya busana cenderung berbeda dari gaya busana mainstream dan berdasar preferensi individu.
Gaya busana mainstream memang seperti apa? Anda bisa ambil contoh crop top yang umum dikenakan perempuan. Salah satu fashion item remaja Citayam ini tak hanya dikenakan kaum Hawa, tetapi juga kaum Adam. Pun ini memang sempat menuai cemoohan netizen.
Ali menjelaskan street fashion sebenarnya masih terbagi dalam beberapa kelas.
"Citayam [Fashion Week] ini didominasi atau mayoritas ke menengah bawah, mungkin bukan menengah lagi, tapi [kelas] bawah. Produk [fashion] harganya ratusan ribu [atau kurang], bisa ditemukan di Tanah Abang, Thamrin City. Tapi, memang presentasinya beda, menggunakan fashion show yang sebelumnya enggak ada yang kayak gini," jelas dia.
Aksi lenggak-lenggok melintasi zebra cross dekat area Stasiun Sudirman-BNI City beberapa waktu lalu, lanjut Ali, lebih jadi hiburan buat konsumen produk mode kelas bawah.
Pun ini juga bukan strategi untuk meraup konsumen. Sebab, konsumen yang biasa membeli baju murah tidak akan melihat style, kreativitas tetapi harga. Yang penting mah murah!
Hanya saja, Ali melihat Citayam Fashion Week mampu memberikan dampak positif dengan menggairahkan industri fashion dari kacamata berbeda. Ada tersisip kampanye penggunaan produk lokal. Ada pula gerakan sustainable fashion atau mode berkelanjutan termasuk dengan recycle.
"Bisa jadi tourist destination. Apa pun yang dijual menghidupkan pedagang. Kalau akan sustain, ya ada toko [yang jual sesuatu] sesuai target market. Itu menurut saya peluang bisnis, lalu hubungannya dengan pariwisata," katanya.
"Kemungkinan juga bisa jadi [seperti] Harajuku. Anak-anak mejeng pakai baju aneh. Perlu ada platform. Memang ada media sosial, tapi kalau hanya online, vibe-nya enggak dapet."
Tanpa embel-embel 'Fashion Week'
Fenomena Citayam Fashion Week dianggap punya potensi. (Foto: CNNIndonesia/Adi Ibrahim)
Ali berpendapat istilah 'fashion week' yang dilekatkan dengan fenomena di Dukuh Atas-Sudirman ini tidak cocok. Pasalnya, pekan mode alias fashion week di dunia mode internasional mengacu pada gelaran terstruktur.
Fashion week akan memiliki elemen desainer profesional, professional buyer, ada aktivitas penjenamaan (branding), jualan (B-to-B), dalam ekosistem yang terstruktur.
"Kalau ini bukan fashion week yang kita kenal," imbuhnya.
Terlepas dari bentuknya, Ali menilai para remaja ini memerlukan dukungan. Toh area yang digunakan nongkrong adalah area publik. Kemudian, perlu diperjelas, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Bagaimana dengan kemacetan akibat tongkrongan remaja yang makin ramai? Dia berkata ini perlu dicarikan solusi.
"Jangan tiba-tiba dilarang. Kalau dianggap menggerakkan ekonomi, ya perlu dibantu. Bisa aja jadi Harajuku. Kalau di Indonesia bisa bawa misi tertentu misalnya Indonesia ini terkenal dengan sampah, ya sampah apa pun termasuk sampah fashion. Nanti bisa muncul konsep recycle, bisa bikin produk fashion lalu ditampilkan," katanya.
Sempat ada usulan relokasi Citayam Fashion Week sebab aktivitas di area Dukuh Atas-Sudirman ini memicu kemacetan. Menurut Ali relokasi kemungkinan bisa.
Akan tetapi, untuk mendapatkan atmosfer serupa, sebaiknya ini diawali dengan riset alasan para remaja ini nongkrong di area tersebut.
"Akses transportasi mudah, mungkin pedagang kaki lima banyak, ada fasilitas, secara estetik hasil foto di situ keren, letaknya di tengah kota jadi Jakarta banget. Semuanya itu juga yang harus ada. Kalau ada [tempat dengan kriteria itu] bisa sih [dipindah], vibe-nya kurang lebih sama," ujarnya.
"kalau dipindah ke tempat terpencil, terus enggak menarik buat mereka ke sana, menjangkau ke sana susah, sama aja kayak menutup."