Peringati G30S, Ada Apa Saja di Museum Lubang Buaya?
CNN Indonesia
Jumat, 30 Sep 2022 09:39 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Museum Pengkhianatan PKI di Lubang Buaya. (Gilang Fauzi/CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --
Museum Lubang Buaya yang berada di Jalan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, menjadi saksi sejarah kelam penculikan dan pembunuhan tujuh perwira TNI Angkatan Darat RI pada peristiwa G30S atau Gerakan 30 September 1965.
Pada malam di tanggal tersebut, sebanyak tujuh perwira AD diculik dan dibunuh secara kejam. Para pelaku aksi sadis tersebut menculik para perwira tersebut dan membawa mereka ke Lubang Buaya.
Tujuh perwira itu antara lain Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tistodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lubang Buaya sendiri merupakan sebutan untuk sumur sempit tempat dibuangnya tujuh perwira TNI AD setelah disiksa. Lokasi jenazah tujuh pahlawan revolusi itu ditemukan semuanya pada 4 Oktober 1965 di kawasan hutan karet Lubang Buaya.
Jenazah tujuh perwira itu ditemukan di dalam sumur tua, yang ditutupi daun kering. Sumur tua di Lubang Buaya itu sendiri memiliki kedalaman sekitar 15 meter. tujuh perwira TNI AD itu pun kemudian dianugerahi sebagai pahlawan revolusi.
Untuk mengenang jasa para pahlawan revolusi, kamu bisa menyambangi Museum Lubang Buaya atau juga yang dikenal sebagai Monuman Pancasila Sakti.
Lalu, ada apa saja sih di sana? Berikut obyek yang bisa kamu lihat di Museum Lubang Buaya
Monumen Pancasila Sakti
Monumen Pancasila Sakti. (Foto: ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)
Tujuh perwira TNI AD yang gugur pada peristiwa tersebut kemudian mendapat gelar Pahlawan Revolusi.
Sebagai bentuk penghormatan kepada para Pahlawan Revolusi, pemerintah mendirikan Monumen Pancasila Sakti di sekitar lokasi pembuangan jasad tepatnya sekitar 45 meter sebelah utara dari cungkup sumur maut.
Patung para Pahlawan Revolusi berdiri dengan latar belakang sebuah dinding setinggi 17 meter dengan hiasan patung Garuda Pancasila.
Di bawah patung tersebut terdapat sebuah relief yang menggambarkan peristiwa, kejadian, dan penumpasan G30S/PKI oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan rakyat.
Sumur Maut Lubang Buaya
Sumur tua yang menjadi lokasi pembuangan jenazah korban G30S/PKI dikenal dengan nama Sumur Maut. Sumur ini berdiameter 75 centimeter dengan kedalaman mencapai 12 meter.
Dengan diameter itu, para Pahlawan Revolusi yang dibuang ke dalam sumur berada dalam kondisi saling bertumpuk. Sumur maut Lubang Buaya hanya mampu memuat satu badan.
Usai sumur tersebut ditemukan pada 3 Oktober 1965, kemudian jasad para korban dievakuasi pada 4 Oktober dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Rumah Penyiksaan
Ruang Penyiksaan terletak di sebelah sumur maut. Pada saat terjadinya pemberontakan, serambi rumah ini konon digunakan oleh gerombolan G30S/PKI sebagai tempat menawan dan menyiksa para perwira TNI AD sebelum akhirnya dibunuh dan dimasukkan ke dalam sumur maut.
Pos Komando
Pos Komando merupakan tempat dimana anggota PKI melakukan berbagai kegiatan seperti rapat dan koordinasi. Rumah kecil yang dijadikan Pos Komando ini sebelumnya merupakan rumah milik seorang penduduk daerah Lubang Buaya yang bernama Sueb.
Pada peristiwa G30S/PKI, rumah tersebut digunakan oleh pimpinan gerakan yaitu Letkol Untung untuk mempersiapkan penculikan terhadap tujuh perwira TNI AD.
Dapur Umum
Dapur umum ini digunakan oleh gerombolan PKI untuk melawan anggota pasukan pemberontakan. Rumah ini dipertahankan keasliannya mulai dari bentuk, isi rumah hingga perabotan yang ada di dalamnya.
Mobil-mobil Tua Peninggalan Pahlawan Revolusi
Monumen Pancasila Sakti menyimpan kendaraan yang digunakan oleh gerombolan PKI untuk mengangkut para perwira TNI AD menuju markas mereka di Lubang Buaya.
Dua mobil tua juga dapat dijumpai di sana. Kedua mobil itu yakni mobil dinas yang pernah digunakan oleh Jendral TNI Ahmad Yani sewaktu menjabat menteri/panglima Angkatan Darat pada 1962-1965. Kemudian, mobil dinas milik Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto yang pernah digunakan untuk memimin operasi penumpasan pemberontakan G30S/PKI.
Museum Paseban
Museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1981 bertepatan dengan dwi windu Hari Kesaktian pancasila itu menyimpan barang-barang pribadi milik para perwira TNI AD yang diculik oleh gerombolan PKI. Mulai dari pakaian, peluru yang ditemukan dalam tubuh korban, hingga barang-barang pribadi lain yang digunakan dalam peristiwa tersebut tersimpan di sana.
Museum Pengkhianatan PKI
Museum Pengkhinatan PKI menyuguhkan beberapa diorama yang menceritakan tentang Pemberontakan PKI di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari peristiwa tiga daerah, peristiwa revolusi sosial di Langkat, pengacauan Surakarta, pemberontakan PKI di Madiun, Musso yang merupakan pimpinan PKI tertembak mati, dan pembunuhan masal di Tirtomoyo.
Jakarta, CNN Indonesia --
Museum Lubang Buaya yang berada di Jalan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, menjadi saksi sejarah kelam penculikan dan pembunuhan tujuh perwira TNI Angkatan Darat RI pada peristiwa G30S atau Gerakan 30 September 1965.
Pada malam di tanggal tersebut, sebanyak tujuh perwira AD diculik dan dibunuh secara kejam. Para pelaku aksi sadis tersebut menculik para perwira tersebut dan membawa mereka ke Lubang Buaya.
Tujuh perwira itu antara lain Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tistodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lubang Buaya sendiri merupakan sebutan untuk sumur sempit tempat dibuangnya tujuh perwira TNI AD setelah disiksa. Lokasi jenazah tujuh pahlawan revolusi itu ditemukan semuanya pada 4 Oktober 1965 di kawasan hutan karet Lubang Buaya.
Jenazah tujuh perwira itu ditemukan di dalam sumur tua, yang ditutupi daun kering. Sumur tua di Lubang Buaya itu sendiri memiliki kedalaman sekitar 15 meter. tujuh perwira TNI AD itu pun kemudian dianugerahi sebagai pahlawan revolusi.
Untuk mengenang jasa para pahlawan revolusi, kamu bisa menyambangi Museum Lubang Buaya atau juga yang dikenal sebagai Monuman Pancasila Sakti.
Lalu, ada apa saja sih di sana? Berikut obyek yang bisa kamu lihat di Museum Lubang Buaya
Monumen Pancasila Sakti
Monumen Pancasila Sakti. (Foto: ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)
Tujuh perwira TNI AD yang gugur pada peristiwa tersebut kemudian mendapat gelar Pahlawan Revolusi.
Sebagai bentuk penghormatan kepada para Pahlawan Revolusi, pemerintah mendirikan Monumen Pancasila Sakti di sekitar lokasi pembuangan jasad tepatnya sekitar 45 meter sebelah utara dari cungkup sumur maut.
Patung para Pahlawan Revolusi berdiri dengan latar belakang sebuah dinding setinggi 17 meter dengan hiasan patung Garuda Pancasila.
Di bawah patung tersebut terdapat sebuah relief yang menggambarkan peristiwa, kejadian, dan penumpasan G30S/PKI oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan rakyat.
Sumur Maut Lubang Buaya
Sumur tua yang menjadi lokasi pembuangan jenazah korban G30S/PKI dikenal dengan nama Sumur Maut. Sumur ini berdiameter 75 centimeter dengan kedalaman mencapai 12 meter.
Dengan diameter itu, para Pahlawan Revolusi yang dibuang ke dalam sumur berada dalam kondisi saling bertumpuk. Sumur maut Lubang Buaya hanya mampu memuat satu badan.
Usai sumur tersebut ditemukan pada 3 Oktober 1965, kemudian jasad para korban dievakuasi pada 4 Oktober dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Rumah Penyiksaan
Ruang Penyiksaan terletak di sebelah sumur maut. Pada saat terjadinya pemberontakan, serambi rumah ini konon digunakan oleh gerombolan G30S/PKI sebagai tempat menawan dan menyiksa para perwira TNI AD sebelum akhirnya dibunuh dan dimasukkan ke dalam sumur maut.
5 Obyek Lain yang Bisa Disambangi di Museum Lubang Buaya
Lokasi sumur tua di Museum Lubang Buaya. (Foto: ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)
Pos Komando
Pos Komando merupakan tempat dimana anggota PKI melakukan berbagai kegiatan seperti rapat dan koordinasi. Rumah kecil yang dijadikan Pos Komando ini sebelumnya merupakan rumah milik seorang penduduk daerah Lubang Buaya yang bernama Sueb.
Pada peristiwa G30S/PKI, rumah tersebut digunakan oleh pimpinan gerakan yaitu Letkol Untung untuk mempersiapkan penculikan terhadap tujuh perwira TNI AD.
Dapur Umum
Dapur umum ini digunakan oleh gerombolan PKI untuk melawan anggota pasukan pemberontakan. Rumah ini dipertahankan keasliannya mulai dari bentuk, isi rumah hingga perabotan yang ada di dalamnya.
Mobil-mobil Tua Peninggalan Pahlawan Revolusi
Monumen Pancasila Sakti menyimpan kendaraan yang digunakan oleh gerombolan PKI untuk mengangkut para perwira TNI AD menuju markas mereka di Lubang Buaya.
Dua mobil tua juga dapat dijumpai di sana. Kedua mobil itu yakni mobil dinas yang pernah digunakan oleh Jendral TNI Ahmad Yani sewaktu menjabat menteri/panglima Angkatan Darat pada 1962-1965. Kemudian, mobil dinas milik Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto yang pernah digunakan untuk memimin operasi penumpasan pemberontakan G30S/PKI.
Museum Paseban
Museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1981 bertepatan dengan dwi windu Hari Kesaktian pancasila itu menyimpan barang-barang pribadi milik para perwira TNI AD yang diculik oleh gerombolan PKI. Mulai dari pakaian, peluru yang ditemukan dalam tubuh korban, hingga barang-barang pribadi lain yang digunakan dalam peristiwa tersebut tersimpan di sana.
Museum Pengkhianatan PKI
Museum Pengkhinatan PKI menyuguhkan beberapa diorama yang menceritakan tentang Pemberontakan PKI di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari peristiwa tiga daerah, peristiwa revolusi sosial di Langkat, pengacauan Surakarta, pemberontakan PKI di Madiun, Musso yang merupakan pimpinan PKI tertembak mati, dan pembunuhan masal di Tirtomoyo.