Jakarta, CNN Indonesia -- Isu keperawanan kembali mencuat. Gara-garanya Deddy Corbuzier yang kembali membahas masalah keperawanan dalam podcast-nya.
Isu keperawanan dalam siniar Deddy membuat netizen bersuara, termasuk influencer Livy Renata. Dalam cuitannya, Livy berharap nantinya tidak ada lagi bintang tamu yang dibuat kurang nyaman dengan pertanyaan Deddy soal keperawanan.
Berbeda dengan keperjakaan, keperawanan lebih santer dibahas dan cenderung memberatkan perempuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agar tidak salah kaprah, Anda perlu tahu beberapa mitos dan fakta soal keperawanan yang sebaiknya ditinggalkan.
1. Keperawanan bisa dijelaskan secara medis
Fakta: Keperawanan lebih dikaitkan dengan budaya
Anda tidak akan menemukan istilah perawan atau keperawanan di dunia medis. Tidak ada bagian tubuh atau organ manusia yang disebut 'perawan' atau berkaitan dengan keperawanan.
"Kita mesti ingat lagi bahwa keperawanan [atau keperjakaan] itu konstruksi sosial, bukan konstruksi medis atau anatomis," kata seksolog Zoya Amirin pada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Pendapat serupa pun diungkapkan psikolog Gardenia Junissa Siregar dan dokter spesialis kandungan Ni Komang Yeni Dhana Sari.
Menurut Yeni, perawan atau tidak bukan termasuk dalam diagnosis medis. Sementara Gardenia menilai definisi perawan itu terlalu abstrak dan berkaitan dengan budaya.
2. Selaput dara robek berarti sudah tidak perawan
 Ilustrasi. Ada banyak mitos soal keperawanan yang tersebar di tengah masyarakat. (iStockphoto) |
Fakta: Selaput dara tidak berhubungan dengan keperawanan
Keperawanan dalam konstruksi sosial dikaitkan dengan selaput dara. Perempuan dianggap sudah tidak perawan karena sudah melakukan hubungan seksual sehingga selaput daranya robek. Dengan demikian, selaput dara robek berarti sudah tidak perawan.
Padahal, robeknya selaput dara tidak selalu akibat penetrasi penis ke vagina. Cedera atau kecelakaan bisa merobek selaput dara.
Selaput dara juga bukan selaput yang sepenuhnya menutupi lubang vagina. Seperti dikutip dari Times of India, selaput dara merupakan selaput tipis dan elastis di luar atau dalam vagina. Kondisi elastisitas dan ketebalan selaput berbeda-beda sehingga selaput bisa saja tidak robek meski sudah berhubungan seksual.
3. Masturbasi bikin keperawanan hilang
Fakta: Masturbasi tidak berhubungan dengan keperawanan
Konteks keperawanan dikaitkan dengan hubungan seks lebih dari satu orang. Oleh karenanya, masturbasi tidak berhubungan dengan keperawanan. Pasalnya, masturbasi merupakan aktivitas seksual yang dilakukan secara mandiri (solo sex).
Simak mitos keperawanan lainnya di halaman berikutnya..
Hubungan Seks dan Menstrual Cup Renggut Keperawanan?
Ilustasi. Banyak mitos soal keperawanan tersebar di tengah masyarakat. (iStockphoto/Teerasak1988)
4. Hubungan seks akan merenggut keperawanan
Fakta: Jika keperawanan dikaitkan dengan selaput dara, tidak semua perempuan mengalami robek selaput dara saat berhubungan seks
Kondisi selaput dara pada tiap perempuan bisa berbeda. Selaput dara merupakan selaput tipis dan elastis.
Ada sebagian perempuan yang mengalami pendarahan akibat selaput dara robek saat berhubungan seksual. Namun, ada pula yang tidak mengalami pendarahan karena selaput dara cukup elastis dan tebal.
5. Tes keperawanan itu bisa dipraktikkan
Fakta: Satu-satunya cara untuk mengetahui orang pernah berhubungan seks atau tidak itu adalah dengan bertanya langsung
Seperti dikutip dari Healthline, tes keperawanan adalah praktik untuk mengetahui perempuan pernah berhubungan seks dengan penetrasi vagina atau tidak. Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan memeriksa area panggul.
Kadang, pemeriksaan melibatkan pemeriksaan vagina secara visual untuk melihat apa selaput dara masih utuh. Padahal selaput dara bisa saja robek atau berubah tidak hanya karena hubungan seks.
Selain itu, ide keperawanan membuat perempuan meletakkan keberhargaan dirinya pada selaput dara. Hubungan seks pun dikaitkan dengan keperawanan yang 'direnggut' atau 'hilang' sehingga membuat perempuan tidak lagi utuh sebagai perempuan.
"Pengalaman seksual pertama kali itu sesederhana pengalaman baru. Gagasan tentang keperawanan ini memberikan penekanan yang tidak semestinya pada kemurnian seksual bagi perempuan, yang mengarah pada melihat perempuan dan anak perempuan sebagai penjaga gebang seksual," jelas edukator seksual Erica Smith.
6. Penggunaan menstrual cup akan merusak keperawanan
Fakta: Menstrual cup ditempatkan jauh di bawah mulut rahim
Penggunaan menstrual cup dan tampon tidak akan mencederai selaput dara. Menstrual cup ditempatkan jauh di bawah mulut rahim atau serviks sehingga selaput tetap aman.