12 Penyebab Pembengkakan Jantung, Bukan Cuma karena Penyakit
CNN Indonesia
Rabu, 30 Nov 2022 10:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Pembengkakan jantung sejatinya bukan penyakit, melainkan tanda dari masalah kesehatan. Berikut penyebab pembengkakan jantung yang sering terjadi. (Foto: Istockphoto/stevanovicigor)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kondisi pembengkakan jantung tidak bisa disepelekan karena bisa menimbulkan komplikasi hingga berujung pada kematian. Untuk itu, penting untuk mengenal penyebab pembengkakan jantung.
Melansir Mayo Clinic, pembengkakan jantung atau dalam bahasa medis disebut kardiomegali sejatinya bukan penyakit, melainkan tanda dari masalah kesehatan.
Pembengkakan jantung adalah kondisi ketika ukuran jantung membesar melebihi kondisi normal. Biasanya, hal ini terjadi karena jantung harus memompa darah lebih keras dari biasanya, sehingga merusak otot jantung.
Salah satunya bisa karena seseorang melakukan olahraga berat dengan intensitas yang rutin. Artinya, pembengkakan jantung tak selalu karena penyakit, namun juga karena aktivitas dan kondisi sehari-hari.
Gejala Pembengkakan Jantung
Mengutip laman Siloam Hospitals, berikut beberapa gejala pembengkakan jantung.
Napas pendek, terutama ketika beraktivitas fisik atau berbaring datar
Sesak napas, terutama ketika berbaring
Berat badan bertambah
Mudah merasa lelah
Jantung berdebar
Irama jantung tidak teratur
Dada terasa nyeri
Tungkai kaki dan perut ikut membengkak
Penyebab Pembengkakan Jantung
Ilustrasi. Penyebab pembengkakan jantung atau kardiomegali (Foto: Istockphoto/wildpixel)
Biasanya, jantung membesar karena organ ini merespons perubahan kondisi atau beban kerja jantung di dalam tubuh. Misalnya, jantung harus memompa darah lebih keras dari biasanya, sehingga otot jantung rusak dan ukurannya membengkak.
Beberapa masalah pembengkakan jantung juga terjadi karena munculnya tekanan di dalam tubuh dalam jangka pendek, misalnya pada masa kehamilan yang menimbulkan kelainan otot jantung atau kardiomiopati peripartum.
Kondisi ini biasanya terjadi sementara, meski jika tidak ditangani dengan cepat juga bisa menyebabkan kelainan jantung secara permanen hingga menyebabkan kematian. Namun, hal ini tidak sering terjadi.
Berdasarkan Mayo Clinic, berikut penyebab pembengkakan jantung.
1. Cacat bawaan sejak lahir
Cacat bawaan sejak lahir dapat membuat struktur dan fungsi jantung tidak normal, termasuk ukurannya yang lebih bengkak dari biasanya.
2. Serangan jantung
Serangan jantung dapat menimbulkan kerusakan jaringan parut dan struktural pada jantung, sehingga organ ini kesulitan memompa darah dan menimbulkan ketegangan. Ketegangan ini bisa membuat jantung bengkak hingga gagal jantung.
3. Penyakit kelainan otot jantung
Penyakit kelainan otot jantung atau dalam bahasa medis disebut kardiomiopati juga bisa menimbulkan pembengkakan jantung. Sebab, hal ini membuat jantung jadi kaku atau tebal, sehingga sulit memompa darah.
4. Penumpukan cairan di jantung
Penumpukan cairan di jantung atau disebut efusi perikardial juga bisa menyebabkan jantung membengkak. Khususnya ketika penderitanya melakukan rontgen dada.
5. Penyakit katup jantung
Penyakit katup jantung terjadi karena adanya kerusakan katup jantung, sehingga membuat aliran darah jadi terganggu dan membuat ruang jantung jadi lebih besar.
6. Tekanan darah tinggi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi membuat jantung harus memompa lebih keras dari biasanya untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Hal ini menimbulkan ketegangan, otot jantung membesar, dan akhirnya memicu pembengkakan jantung.
7. Tekanan darah tinggi di arteri paru-paru
Tak hanya di jantung, tekanan darah tinggi di arteri paru-paru juga bisa berujung pembengkakan jantung. Sebab, sama-sama membuat jantung bekerja lebih berat untuk memindahkan darah antara paru-paru dan jantung.
8. Darah rendah
Kondisi darah rendah atau anemia juga perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan pembengkakan jantung. Ketika anemia, penderita akan mengalami kekurangan sel darah merah atau berada di level yang rendah.
Akibatnya, kadar oksigen di dalam tubuh juga akan menurun karena minimnya darah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Hal ini membuat jantung yang harus mengambil peranan untuk memompa lebih banyak darah, sehingga terjadi ketegangan dan pembengkakan.
9. Gangguan tiroid
Gangguan tiroid atau kondisi ketika kelenjar tiroid kurang aktif (hipotirodisme) dan tiroid terlalu aktif (hipertirodisme) juga bisa membuat jantung jadi membesar.
Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk zat besi di dalam tubuh. Sebab, zat besi yang terlalu banyak di dalam tubuh berpotensi membuat zat ini mengendap di ruang jantung kiri bawah, sehingga bisa memicu pembengkakan.
11. Endapan protein dan lemak di sekitar jantung
Endapan protein yang tidak biasa di jantung atau disebut amilodosis jantung dapat menimbulkan penebalan dinding jantung, sehingga jantung ikut membengkak. Tak hanya protein, lemak yang mengendap di sekitar jantung juga bisa memicu kondisi ini.
12. Olahraga fisik terlalu berat
Olahraga fisik yang terlalu berat dan dilakukan secara rutin juga bisa membebani kerja jantung, sehingga ukurannya membesar. Hal ini biasanya terjadi di kalangan atlet, meski tidak selalu.
Lanjut baca halaman dua...
Deteksi Pembengkakan Jantung
Jika Anda mengalami gejala pembengkakan jantung, tidak ada salahnya melakukan deteksi pembengkakan tersebut. Tujuannya agar bisa menentukan penyebab pembengkakan secara akurat dan mendapat penanganan lebih cepat dan tepat sehingga dapat mengurangi risiko.
Deteksi pembengkakan jantung bisa dilakukan melalui:
Radiologi: pencitran dengan foto rontgen (x-ray), MRI, atau CT-scan untuk melihat bentuk, ukuran, dan kelainan pada struktur jantung.
Ekokardiogram: penggunaan teknologi gelombang suara dengan minimal efek samping dan risiko untuk melihat gambar jantung yang sedang berdetak sehingga dokter bisa mengamati ukuran dan ruang-ruang jantung, bentuk dan fungsi katup, serta kemungkinan adanya gangguan lain.
Elektrokardiogram (EKG): perekaman aktivitas kelistrikan jantung untuk mengevaluasi aliran listrik dan irama jantung.
Jika Anda terdeteksi mengalami pembengkakan jantung, Anda bisa melakukan terapi sebagai penanganan. Berikut beberapa tindakan medis untuk penanganan pembengkakan jantung.
Pemasangan stent pada pembuluh darah koroner
Operasi bypass koroner
Perbaikan atau penggantian katup jantung
Tindakan ablasi untuk menangani kelainan irama jantung
Pemasangan alat pacu atau kejut jantung
Pemasangan pompa jantung artifisial
Transplantasi jantung
Cara Mencegah Pembengkakan Jantung
Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Anda dapat mencoba hal-hal berikut sebagai cara mencegah pembengkakan jantung.
Batasi konsumsi makanan berlemak, tinggi gula, dan garam
Berhenti minuman alkohol
Berhenti merokok
Jaga berat badan ideal
Kelola stres
Konsumsi lebih banyak sayur, buah, dan ikan
Olahraga ringan secara teratur
Demikian informasi seputar penyebab pembengkakan jantung. Semoga bermanfaat.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kondisi pembengkakan jantung tidak bisa disepelekan karena bisa menimbulkan komplikasi hingga berujung pada kematian. Untuk itu, penting untuk mengenal penyebab pembengkakan jantung.
Melansir Mayo Clinic, pembengkakan jantung atau dalam bahasa medis disebut kardiomegali sejatinya bukan penyakit, melainkan tanda dari masalah kesehatan.
Pembengkakan jantung adalah kondisi ketika ukuran jantung membesar melebihi kondisi normal. Biasanya, hal ini terjadi karena jantung harus memompa darah lebih keras dari biasanya, sehingga merusak otot jantung.
Salah satunya bisa karena seseorang melakukan olahraga berat dengan intensitas yang rutin. Artinya, pembengkakan jantung tak selalu karena penyakit, namun juga karena aktivitas dan kondisi sehari-hari.
Gejala Pembengkakan Jantung
Mengutip laman Siloam Hospitals, berikut beberapa gejala pembengkakan jantung.
Napas pendek, terutama ketika beraktivitas fisik atau berbaring datar
Sesak napas, terutama ketika berbaring
Berat badan bertambah
Mudah merasa lelah
Jantung berdebar
Irama jantung tidak teratur
Dada terasa nyeri
Tungkai kaki dan perut ikut membengkak
Penyebab Pembengkakan Jantung
Ilustrasi. Penyebab pembengkakan jantung atau kardiomegali (Foto: Istockphoto/wildpixel)
Biasanya, jantung membesar karena organ ini merespons perubahan kondisi atau beban kerja jantung di dalam tubuh. Misalnya, jantung harus memompa darah lebih keras dari biasanya, sehingga otot jantung rusak dan ukurannya membengkak.
Beberapa masalah pembengkakan jantung juga terjadi karena munculnya tekanan di dalam tubuh dalam jangka pendek, misalnya pada masa kehamilan yang menimbulkan kelainan otot jantung atau kardiomiopati peripartum.
Kondisi ini biasanya terjadi sementara, meski jika tidak ditangani dengan cepat juga bisa menyebabkan kelainan jantung secara permanen hingga menyebabkan kematian. Namun, hal ini tidak sering terjadi.
Berdasarkan Mayo Clinic, berikut penyebab pembengkakan jantung.
1. Cacat bawaan sejak lahir
Cacat bawaan sejak lahir dapat membuat struktur dan fungsi jantung tidak normal, termasuk ukurannya yang lebih bengkak dari biasanya.
2. Serangan jantung
Serangan jantung dapat menimbulkan kerusakan jaringan parut dan struktural pada jantung, sehingga organ ini kesulitan memompa darah dan menimbulkan ketegangan. Ketegangan ini bisa membuat jantung bengkak hingga gagal jantung.
3. Penyakit kelainan otot jantung
Penyakit kelainan otot jantung atau dalam bahasa medis disebut kardiomiopati juga bisa menimbulkan pembengkakan jantung. Sebab, hal ini membuat jantung jadi kaku atau tebal, sehingga sulit memompa darah.
4. Penumpukan cairan di jantung
Penumpukan cairan di jantung atau disebut efusi perikardial juga bisa menyebabkan jantung membengkak. Khususnya ketika penderitanya melakukan rontgen dada.
5. Penyakit katup jantung
Penyakit katup jantung terjadi karena adanya kerusakan katup jantung, sehingga membuat aliran darah jadi terganggu dan membuat ruang jantung jadi lebih besar.
6. Tekanan darah tinggi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi membuat jantung harus memompa lebih keras dari biasanya untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Hal ini menimbulkan ketegangan, otot jantung membesar, dan akhirnya memicu pembengkakan jantung.
7. Tekanan darah tinggi di arteri paru-paru
Tak hanya di jantung, tekanan darah tinggi di arteri paru-paru juga bisa berujung pembengkakan jantung. Sebab, sama-sama membuat jantung bekerja lebih berat untuk memindahkan darah antara paru-paru dan jantung.
8. Darah rendah
Kondisi darah rendah atau anemia juga perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan pembengkakan jantung. Ketika anemia, penderita akan mengalami kekurangan sel darah merah atau berada di level yang rendah.
Akibatnya, kadar oksigen di dalam tubuh juga akan menurun karena minimnya darah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Hal ini membuat jantung yang harus mengambil peranan untuk memompa lebih banyak darah, sehingga terjadi ketegangan dan pembengkakan.
9. Gangguan tiroid
Gangguan tiroid atau kondisi ketika kelenjar tiroid kurang aktif (hipotirodisme) dan tiroid terlalu aktif (hipertirodisme) juga bisa membuat jantung jadi membesar.
Sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk zat besi di dalam tubuh. Sebab, zat besi yang terlalu banyak di dalam tubuh berpotensi membuat zat ini mengendap di ruang jantung kiri bawah, sehingga bisa memicu pembengkakan.
11. Endapan protein dan lemak di sekitar jantung
Endapan protein yang tidak biasa di jantung atau disebut amilodosis jantung dapat menimbulkan penebalan dinding jantung, sehingga jantung ikut membengkak. Tak hanya protein, lemak yang mengendap di sekitar jantung juga bisa memicu kondisi ini.
12. Olahraga fisik terlalu berat
Olahraga fisik yang terlalu berat dan dilakukan secara rutin juga bisa membebani kerja jantung, sehingga ukurannya membesar. Hal ini biasanya terjadi di kalangan atlet, meski tidak selalu.
Lanjut baca halaman dua...
Cara Mendeteksi Pembengkakan Jantung
Ilustrasi. Mendeteksi pembengkakan jantung salah satunya dengan cara pemeriksaan radiologi. (Foto: iStock/Chinnapong)
Deteksi Pembengkakan Jantung
Jika Anda mengalami gejala pembengkakan jantung, tidak ada salahnya melakukan deteksi pembengkakan tersebut. Tujuannya agar bisa menentukan penyebab pembengkakan secara akurat dan mendapat penanganan lebih cepat dan tepat sehingga dapat mengurangi risiko.
Deteksi pembengkakan jantung bisa dilakukan melalui:
Radiologi: pencitran dengan foto rontgen (x-ray), MRI, atau CT-scan untuk melihat bentuk, ukuran, dan kelainan pada struktur jantung.
Ekokardiogram: penggunaan teknologi gelombang suara dengan minimal efek samping dan risiko untuk melihat gambar jantung yang sedang berdetak sehingga dokter bisa mengamati ukuran dan ruang-ruang jantung, bentuk dan fungsi katup, serta kemungkinan adanya gangguan lain.
Elektrokardiogram (EKG): perekaman aktivitas kelistrikan jantung untuk mengevaluasi aliran listrik dan irama jantung.
Jika Anda terdeteksi mengalami pembengkakan jantung, Anda bisa melakukan terapi sebagai penanganan. Berikut beberapa tindakan medis untuk penanganan pembengkakan jantung.
Pemasangan stent pada pembuluh darah koroner
Operasi bypass koroner
Perbaikan atau penggantian katup jantung
Tindakan ablasi untuk menangani kelainan irama jantung
Pemasangan alat pacu atau kejut jantung
Pemasangan pompa jantung artifisial
Transplantasi jantung
Cara Mencegah Pembengkakan Jantung
Seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Anda dapat mencoba hal-hal berikut sebagai cara mencegah pembengkakan jantung.
Batasi konsumsi makanan berlemak, tinggi gula, dan garam
Berhenti minuman alkohol
Berhenti merokok
Jaga berat badan ideal
Kelola stres
Konsumsi lebih banyak sayur, buah, dan ikan
Olahraga ringan secara teratur
Demikian informasi seputar penyebab pembengkakan jantung. Semoga bermanfaat.