Tanpa Anakonda dan Piranha, Menyusur Rio Negro di Amazonia
Dewi Safitri | CNN Indonesia
Jumat, 24 Mar 2023 18:14 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sungai Amazon sepanjang 6400 kilometer kerap disebut sebagai sungai terpanjang di dunia. (Michael Dantas / United Nations Foundation)
Manaus, Brasil, CNN Indonesia --
Kecipak air terdengar pelan, bersama dengan laju perahu yang kami tumpangi menyusur Sungai Ariau, salah satu anak Sungai Amazon.
Matahari biasanya sudah ganas menyengat di atas pukul 06.00 pagi, kata Moacir Mendes pemandu perahu kami. Tapi pagi Minggu di bulan Oktober 2022 lalu, cuaca agak mendung sehingga beruntung kami bisa berlayar tanpa kepanasan.
Delapan orang duduk dalam barisan bangku perahu, diam tidak mengobrol. Sengaja supaya suara satwa terdengar. Pandangan kami arahkan ke kanan-kiri sungai, menangkap gerak burung berkelebat beterbangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belibis, ibis, elang, qoatsi, beo, kakatua, bangau, kingfisher, bahkan kenari yang mungil berbulu kuning dan bersuara ribut muncul. Pagi adalah saat paling sibuk dalam kalender dunia burung di Amazon.
"Mereka berkicau sebagian untuk mengatakan pada komunitasnya bahwa mereka masih hidup dan siap memangsa. Sebagian untuk mengumumkan bahwa daerah jangkauan kicauan adalah teritori yang tidak boleh diganggu burung lawan. Sebagian lagi mengumumkan ancaman pada calon mangsa - semacam deklarasi intimidasi," kata Priscilla Diniz, ornitologis (peneliti burung) yang turut dalam perjalanan.
Menurut hitungan Diniz ada sekitar 50 spesies burung endemik yang kami temui sepanjang dua jam perjalanan menyusuri Sungai Rio Negro, salah satu cabang utama Sungai Amazon. Sempat pula dapat atraksi rombongan monyet tupai (squirrel monkey) yang berukuran kepalan tangan orang dewasa.
Monyet-monyet mini ini berebut meloncat ke pinggir sungai mendekati perahu mengharapkan hadiah potongan pisang yang dibawa turis.
Primata mungil seukuran kepalan tangan orang dewasa yang berebut potongan pisang di hutan Amazon, Brasil. (Michael Dantas / United Nations Foundation)
Selain sebagai ilmuwan burung, Diniz adalah salah satu pemandu wisata burung (bird watching) untuk turis alam liar yang khusus datang ke Brasil.
Duduk bersebelahan dengannya di perahu yang mengangkut kami menyusur Sungai Ariau terasa istimewa. Diniz punya pengetahuan luas tentang burung dan satwa lain di Amazon sehingga memberi pengalaman wisata yang sangat asyik.
Dia sudah berpengalaman memandu karena sering diminta biro ekowisata Brasil menemani turis melihat burung. Bahasa Inggrisnya bagus, meski beberapa kali sempat juga mencari kata yang cocok dengan membuka kamus dalam telepon pintarnya. Dalam telepon itu juga ada peta perburungan lengkap, yang jadi bekalnya memandu.
"Saya harus siap ditanya turis soal seluk-beluk satwa di sini. Komunitas global bird watchers itu bisa pergi sampai ke pelosok hutan demi melihat burung. Mereka sangat antusias," kata Diniz bangga.
Perjalanan di atas Dorinha
Dalam 24 jam berlayar, kami hanya mengarungi jarak sekitar 100 kilometer bolak-balik Rio Negro, karena kecepatan lambat dan sering berhenti.
Kapal Dorina, salah satu armada milik Moacir Mendes alias Mo, kami naiki di pelabuhan Sabtu pagi yang sangat terik di bulan Oktober 2022.
Pelabuhan Kota Manaus adalah salah satu pusat perdagangan besar di Amerika Selatan pada abad 18. Manaus adalah ibu kota Amazonas -- satu dari 26 negara bagian di Brasil - yang terletak paling dekat dengan Amazon, serta hutan hujan tropis terbesar di dunia.
Di Amazonas juga terdapat rumah Institut Riset Nasional Amazon (INPA), pusat studi paling penting tentang keragaman hayati Amazon saat ini.
Juru masak merangkap petugas kebersihan dan pelayan bar, menyiapkan makanan sehari 3 kali untuk penumpang kapal Dorinha. (CNN Indonesia/Dewi Safitri)
Kota-kota di Brasilnya umumnya sudah berusia tua. Sejak dijajah Portugis abad ke-15, titik-titik pemukiman dan industri banyak muncul. Termasuk Manaus yang berdiri sejak 1669 dan menjadi pusat perkebunan karet.
Keluarga kolonialis dari Portugal banyak memilih tinggal di Manaus, membawa serta adat kebiasaan mereka seperti arsitektur dan agama, dan tentu saja bahasa. Sampai saat ini bahasa nasional Brasil adalah Portugis. Kolonialisasi Portugis berlangsung sekitar 350 tahun dengan Brasil baru dinyatakan lepas dari Portugis pada 1822.
Beberapa jam setelah berlayar, di sungai muncul fenomena pertemuan air (dalam bahasa Porto: Encontro das Águas) yaitu aliran dari Rio Negro yang berwarna kehitaman akibat larutan sedimen dari hutan Amazon yang kaya unsur hara, terbawa sampai jauh bertemu dengan aliran air berwarna pucat pasir dari air salju di pegunungan Andes di Peru.
Sepanjang sekitar 6 kilometer, aliran air beda warna ini bertemu tapi tidak bercampur. Di Manaus, fenomena unik ini jadi atraksi turis.
Encontro das Águas; ketika dua aliran sungai beda warna menyatu di Amazonia. (Michael Dantas / United Nations Foundation)
Oktober lalu Brasil masih masuk musim kemarau, meski sesekali hujan. Akibatnya debit air menyusut dan di pinggir dan muara sungai, muncul daratan mirip pantai dengan pasir putih halus yang seolah melambai mengajak mampir.
Karena cuaca bagus, siang setelah jam makan, kami bisa kembali ke pantai menggunakan perahu kayu yang diikat di belakang kapal. Kami turun dan mandi-mandi, jalan-jalan di pasir persis seperti ketika piknik ke pantai.
Usai bermain di pantai, rasanya malas untuk bergerak meninggalkan kabin yang diisi tempat tidur kayu tingkat yang ditata rapi untuk dua penumpang. Tersedia kamar mandi dan toilet komplit dengan shower, wastafel, handuk, keset dan sabun khas Manaus yang wangi.
Sambil berbaring, kita bisa melihat keluar jendela dan mendengar splish-splash, suara air membelah didorong mesin kapal. Malas betul rasanya keluar.
Untung malamnya cuaca cerah. Anak buah Mo menurunkan lagi kapal dan mengajak penumpang menyusuri anak-anak sungai Rio Negro.
Dalam kegelapan air, tak jarang muncul kilatan cahaya seperti bulatan bola kelereng warna kuning terang. Itu black cayman, alias buaya sungai bermoncong lancip yang endemik Amerika Selatan.
Sejenak kilatan kamera penumpang membuat buaya Brasil ini enggan muncul dan segera menghilang di balik arus air yang tenang.
Dalam gelap dan sunyi lagi-lagi hanya terdengar air yang terbelah pelan oleh laju perahu. Makin jauh berjalan, suasana berubah jadi tintrim, sepi yang melangutkan hati.
Gelap di kanan-kiri, tetapi ketika mendongak, langit penuh oleh bintang. Sejauh mata memandang sampai ke ujung paling tepi, langit penuh dengan titik-titik putih. Sungguh syahdu.
Cuma di alam tanpa polusi gambaran angkasa sejernih ini dapat terlihat. Di kanan-kiri saya, semua penumpang nampaknya dicekam kesyahduan ini. Saya ingat anak-anak di rumah - kapan ya bisa membawa mereka menikmati kesunyian indah seperti ini?
Pelabuhan Kota Manaus adalah salah satu pusat perdagangan besar di Amerika Selatan pada abad 18. (CNN Indonesia/Dewi Safitri)
Berharap pada Presiden Lula
Sesekali dari arah hutan di pinggir sungai terdengar suara satwa, entah apa saja jenisnya. Yang paling sering terdengar adalah teriakan monyet penjerit (howler monkey, Alouatta guariba). Primata endemik di Brasil dan Argentina ini umumnya hidup berkelompok sehingga teriakannya jadi makin keras dan bisa didengar hingga jarak 5 kilometer.
Teriakan itu adalah pernyataan teritorial, peringatan agar kelompok monyet lainnya menyingkir. Ahli melukiskan suaranya seperti gemuruh badai. Yang lain lagi mengatakan suaranya seperti raungan singa bersahutan. Yang saya dengar suaranya persis keributan dari arena balapan F-1. Benar-benar kencang dan seram di tengah sunyi alam.
Di tengah gemuruh teriakan ini saya bertanya-tanya, di mana piranha dan anaconda-nya?
"Ada di luar sana, memang habitatnya di perairan dan rawa Amazon. Tapi mungkin lebih banyak di layar Hollywood," kata nakhoda Mo sambil tertawa.
Berlawanan dengan gambaran film Hollywood yang melukiskan Amazon sebagai lokasi penuh kengerian karena hewan-hewan buas seperti piranha dan ular anaconda, satwa liar di Amazon umumnya pemalu dan enggan mengganggu kecuali memburu mangsanya.
"Kalau kita banyak bersuara, satwa justru akan langsung kabur menghindar," tambah Mo.
Sampai kapan keasrian alam liar ini akan bertahan?
Ini pertanyaan besar seluruh dunia untuk Amazon. Akhir tahun lalu pemilihan Presiden Brasil digelar, dengan dua kandidat yang sama-sama kuat dan memiliki pendukung fanatik.
Presiden Joao Bolsonaro yang dianggap ramah pada pembalakan Amazon akhirnya kalah oleh Presiden Ignacio Lula DaSilva. Banyak orang berharap, Presiden Lula akan memenuhi janjinya bersikap tegas melestarikan warisan alam liar Amazonia.
Manaus, Brasil, CNN Indonesia --
Kecipak air terdengar pelan, bersama dengan laju perahu yang kami tumpangi menyusur Sungai Ariau, salah satu anak Sungai Amazon.
Matahari biasanya sudah ganas menyengat di atas pukul 06.00 pagi, kata Moacir Mendes pemandu perahu kami. Tapi pagi Minggu di bulan Oktober 2022 lalu, cuaca agak mendung sehingga beruntung kami bisa berlayar tanpa kepanasan.
Delapan orang duduk dalam barisan bangku perahu, diam tidak mengobrol. Sengaja supaya suara satwa terdengar. Pandangan kami arahkan ke kanan-kiri sungai, menangkap gerak burung berkelebat beterbangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belibis, ibis, elang, qoatsi, beo, kakatua, bangau, kingfisher, bahkan kenari yang mungil berbulu kuning dan bersuara ribut muncul. Pagi adalah saat paling sibuk dalam kalender dunia burung di Amazon.
"Mereka berkicau sebagian untuk mengatakan pada komunitasnya bahwa mereka masih hidup dan siap memangsa. Sebagian untuk mengumumkan bahwa daerah jangkauan kicauan adalah teritori yang tidak boleh diganggu burung lawan. Sebagian lagi mengumumkan ancaman pada calon mangsa - semacam deklarasi intimidasi," kata Priscilla Diniz, ornitologis (peneliti burung) yang turut dalam perjalanan.
Menurut hitungan Diniz ada sekitar 50 spesies burung endemik yang kami temui sepanjang dua jam perjalanan menyusuri Sungai Rio Negro, salah satu cabang utama Sungai Amazon. Sempat pula dapat atraksi rombongan monyet tupai (squirrel monkey) yang berukuran kepalan tangan orang dewasa.
Monyet-monyet mini ini berebut meloncat ke pinggir sungai mendekati perahu mengharapkan hadiah potongan pisang yang dibawa turis.
Primata mungil seukuran kepalan tangan orang dewasa yang berebut potongan pisang di hutan Amazon, Brasil. (Michael Dantas / United Nations Foundation)
Selain sebagai ilmuwan burung, Diniz adalah salah satu pemandu wisata burung (bird watching) untuk turis alam liar yang khusus datang ke Brasil.
Duduk bersebelahan dengannya di perahu yang mengangkut kami menyusur Sungai Ariau terasa istimewa. Diniz punya pengetahuan luas tentang burung dan satwa lain di Amazon sehingga memberi pengalaman wisata yang sangat asyik.
Dia sudah berpengalaman memandu karena sering diminta biro ekowisata Brasil menemani turis melihat burung. Bahasa Inggrisnya bagus, meski beberapa kali sempat juga mencari kata yang cocok dengan membuka kamus dalam telepon pintarnya. Dalam telepon itu juga ada peta perburungan lengkap, yang jadi bekalnya memandu.
"Saya harus siap ditanya turis soal seluk-beluk satwa di sini. Komunitas global bird watchers itu bisa pergi sampai ke pelosok hutan demi melihat burung. Mereka sangat antusias," kata Diniz bangga.
Perjalanan di atas Dorinha
Dalam 24 jam berlayar, kami hanya mengarungi jarak sekitar 100 kilometer bolak-balik Rio Negro, karena kecepatan lambat dan sering berhenti.
Kapal Dorina, salah satu armada milik Moacir Mendes alias Mo, kami naiki di pelabuhan Sabtu pagi yang sangat terik di bulan Oktober 2022.
Pelabuhan Kota Manaus adalah salah satu pusat perdagangan besar di Amerika Selatan pada abad 18. Manaus adalah ibu kota Amazonas -- satu dari 26 negara bagian di Brasil - yang terletak paling dekat dengan Amazon, serta hutan hujan tropis terbesar di dunia.
Di Amazonas juga terdapat rumah Institut Riset Nasional Amazon (INPA), pusat studi paling penting tentang keragaman hayati Amazon saat ini.
Juru masak merangkap petugas kebersihan dan pelayan bar, menyiapkan makanan sehari 3 kali untuk penumpang kapal Dorinha. (CNN Indonesia/Dewi Safitri)
Kota-kota di Brasilnya umumnya sudah berusia tua. Sejak dijajah Portugis abad ke-15, titik-titik pemukiman dan industri banyak muncul. Termasuk Manaus yang berdiri sejak 1669 dan menjadi pusat perkebunan karet.
Keluarga kolonialis dari Portugal banyak memilih tinggal di Manaus, membawa serta adat kebiasaan mereka seperti arsitektur dan agama, dan tentu saja bahasa. Sampai saat ini bahasa nasional Brasil adalah Portugis. Kolonialisasi Portugis berlangsung sekitar 350 tahun dengan Brasil baru dinyatakan lepas dari Portugis pada 1822.
Beberapa jam setelah berlayar, di sungai muncul fenomena pertemuan air (dalam bahasa Porto: Encontro das Águas) yaitu aliran dari Rio Negro yang berwarna kehitaman akibat larutan sedimen dari hutan Amazon yang kaya unsur hara, terbawa sampai jauh bertemu dengan aliran air berwarna pucat pasir dari air salju di pegunungan Andes di Peru.
Sepanjang sekitar 6 kilometer, aliran air beda warna ini bertemu tapi tidak bercampur. Di Manaus, fenomena unik ini jadi atraksi turis.
Encontro das Águas; ketika dua aliran sungai beda warna menyatu di Amazonia. (Michael Dantas / United Nations Foundation)
Oktober lalu Brasil masih masuk musim kemarau, meski sesekali hujan. Akibatnya debit air menyusut dan di pinggir dan muara sungai, muncul daratan mirip pantai dengan pasir putih halus yang seolah melambai mengajak mampir.
Karena cuaca bagus, siang setelah jam makan, kami bisa kembali ke pantai menggunakan perahu kayu yang diikat di belakang kapal. Kami turun dan mandi-mandi, jalan-jalan di pasir persis seperti ketika piknik ke pantai.
Taburan bintang di langit Rio Negro
Foto: Michael Dantas / United Nations Foundation
Usai bermain di pantai, rasanya malas untuk bergerak meninggalkan kabin yang diisi tempat tidur kayu tingkat yang ditata rapi untuk dua penumpang. Tersedia kamar mandi dan toilet komplit dengan shower, wastafel, handuk, keset dan sabun khas Manaus yang wangi.
Sambil berbaring, kita bisa melihat keluar jendela dan mendengar splish-splash, suara air membelah didorong mesin kapal. Malas betul rasanya keluar.
Untung malamnya cuaca cerah. Anak buah Mo menurunkan lagi kapal dan mengajak penumpang menyusuri anak-anak sungai Rio Negro.
Dalam kegelapan air, tak jarang muncul kilatan cahaya seperti bulatan bola kelereng warna kuning terang. Itu black cayman, alias buaya sungai bermoncong lancip yang endemik Amerika Selatan.
Sejenak kilatan kamera penumpang membuat buaya Brasil ini enggan muncul dan segera menghilang di balik arus air yang tenang.
Dalam gelap dan sunyi lagi-lagi hanya terdengar air yang terbelah pelan oleh laju perahu. Makin jauh berjalan, suasana berubah jadi tintrim, sepi yang melangutkan hati.
Gelap di kanan-kiri, tetapi ketika mendongak, langit penuh oleh bintang. Sejauh mata memandang sampai ke ujung paling tepi, langit penuh dengan titik-titik putih. Sungguh syahdu.
Cuma di alam tanpa polusi gambaran angkasa sejernih ini dapat terlihat. Di kanan-kiri saya, semua penumpang nampaknya dicekam kesyahduan ini. Saya ingat anak-anak di rumah - kapan ya bisa membawa mereka menikmati kesunyian indah seperti ini?
Pelabuhan Kota Manaus adalah salah satu pusat perdagangan besar di Amerika Selatan pada abad 18. (CNN Indonesia/Dewi Safitri)
Berharap pada Presiden Lula
Sesekali dari arah hutan di pinggir sungai terdengar suara satwa, entah apa saja jenisnya. Yang paling sering terdengar adalah teriakan monyet penjerit (howler monkey, Alouatta guariba). Primata endemik di Brasil dan Argentina ini umumnya hidup berkelompok sehingga teriakannya jadi makin keras dan bisa didengar hingga jarak 5 kilometer.
Teriakan itu adalah pernyataan teritorial, peringatan agar kelompok monyet lainnya menyingkir. Ahli melukiskan suaranya seperti gemuruh badai. Yang lain lagi mengatakan suaranya seperti raungan singa bersahutan. Yang saya dengar suaranya persis keributan dari arena balapan F-1. Benar-benar kencang dan seram di tengah sunyi alam.
Di tengah gemuruh teriakan ini saya bertanya-tanya, di mana piranha dan anaconda-nya?
"Ada di luar sana, memang habitatnya di perairan dan rawa Amazon. Tapi mungkin lebih banyak di layar Hollywood," kata nakhoda Mo sambil tertawa.
Berlawanan dengan gambaran film Hollywood yang melukiskan Amazon sebagai lokasi penuh kengerian karena hewan-hewan buas seperti piranha dan ular anaconda, satwa liar di Amazon umumnya pemalu dan enggan mengganggu kecuali memburu mangsanya.
"Kalau kita banyak bersuara, satwa justru akan langsung kabur menghindar," tambah Mo.
Sampai kapan keasrian alam liar ini akan bertahan?
Ini pertanyaan besar seluruh dunia untuk Amazon. Akhir tahun lalu pemilihan Presiden Brasil digelar, dengan dua kandidat yang sama-sama kuat dan memiliki pendukung fanatik.
Presiden Joao Bolsonaro yang dianggap ramah pada pembalakan Amazon akhirnya kalah oleh Presiden Ignacio Lula DaSilva. Banyak orang berharap, Presiden Lula akan memenuhi janjinya bersikap tegas melestarikan warisan alam liar Amazonia.