Paus Fransiskus, Jaket Puff AI, dan Masa Depan Fashion
CNN Indonesia
Kamis, 30 Mar 2023 12:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto: AFP/FILIPPO MONTEFORTE
Jakarta, CNN Indonesia --
Selama beberapa hari, dunia digegerkan dengan gaya berbusana baru Paus Fransiskusyang viral di media sosial. Paus yang biasa terlihat dengan pakaian khasnya, secara tiba-tiba terlihat mengenakan mantel mewah puffer putih panjang yang tebal.
Dalam foto tersebut juga diperlihatkan, Paus berusia 86 tahun itu tampak meyakinkan dengan selera fashion barunya. Dia terlihat mengikat mantel tersebut di bagian pinggang dan melapisi mantel itu dengan pakaian santai musim dingin.
Tampaknya gaya berbusana Paus kali ini telah berubah drastis. Paus yang semula tampak dengan regalia khas - jubah, stola, dan topi runcing tinggi - kini tampak mengikuti mode dan tren terkini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, banyak yang mempertanyakan foto tersebut. Bahkan, ada juga yang mengira mungkinkah Paus memiliki penata gaya baru? Apakah dia selalu punya stylist? Apakah penampilannya terinspirasi oleh penari latar di acara Super Bowl Rihanna?
Lebih dari segalanya, bagaimanapun, pengguna media sosial berseru betapa mereka tidak percaya gambar itu nyata. Dan tentu saja, gambar itu memang tidak nyata.
Melansir CNN, Twitter sejak itu melampirkan catatan kaki kontekstual ke beberapa tweet, mengklarifikasi bahwa itu dihasilkan oleh AI dan dibuat menggunakan perangkat lunak Midjourney. Seorang pekerja konstruksi berusia 31 tahun dari Chicago juga mengklaim kepemilikan atas gambar viral tersebut.
Kecanggihan AI dan kekhawatirannya
Alat pencitraan AI (kecerdasan buatan) menjadi semakin canggih. Teknologi, yang menghasilkan gambar berdasarkan permintaan teks pengguna, telah digunakan untuk merancang peragaan busana inklusif, membuat seluruh novel grafis, bahkan membantu membayangkan bentuk arsitektur baru.
Tetapi ketika AI berkembang dan citra "palsu" yang dihasilkan komputer justru semakin meyakinkan, banyak yang khawatir tentang hal ini. Mulai dari implikasi etis, termasuk penghapusan subjek, misal menempatkan orang dalam skenario buatan yang mungkin memfitnah atau jahat.
AI dan masa depan mode
Jika berpakaian adalah bentuk ekspresi diri, maka pakaian yang dihasilkan AI mungkin tidak hanya mengurangi kekuatan dan pesan yang melekat pada pakaian - tetapi juga otonomi seseorang.
Dalam kepausan, setiap pakaian memiliki makna religius. Warna jubah Paus dipilih secara khusus agar selaras dengan perayaan tertentu.
Misalnya, merah hanya dapat dikenakan pada acara-acara tertentu, seperti Minggu Palem, Jumat Agung, dan Pentakosta. Sebab merah melambangkan darah Yesus Kristus.
Dengan demikian, gambar palsu Paus yang mengenakan pakaian tertentu di luar ini - atau dalam konteks lain yang tak terhitung jumlahnya - dapat menyebabkan pelanggaran, kekhawatiran, atau bahkan ketidakpercayaan umat Katolik.
Mengubah pakaian seseorang secara digital juga dapat merusak reputasi yang bertahan lama. Foto pada 2005 yang direkayasa memperlihatkan Paris Hilton di klub malam mengenakan tank top inflamasi bertuliskan "Berhenti Menjadi Miskin" menjadi salah satu gambar budaya pop yang paling dikenal.
Hal ini tentu menambah persepsi publik tentang Hilton sebagai ahli waris yang tidak tersentuh. Dia secara terbuka membahas gambar palsu itu pada 2021, bersikeras bahwa orang tidak boleh "percaya semua yang Anda baca".
Selama konferensi di Vatikan pada hari Senin, Paus Francis membahas munculnya teknologi AI dan mendesak para ilmuwan untuk mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia. Meskipun dia tidak secara khusus merujuk kehebohan atas pemalsuan penampilannya sendiri.
"Saya yakin bahwa pengembangan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin memiliki potensi untuk berkontribusi secara positif bagi masa depan umat manusia," kata Francis.
"Saya yakin potensi ini akan terwujud hanya jika ada komitmen konstan dan konsisten dari pihak yang mengembangkan teknologi ini untuk bertindak secara etis dan bertanggung jawab," kata dia.
Jakarta, CNN Indonesia --
Selama beberapa hari, dunia digegerkan dengan gaya berbusana baru Paus Fransiskusyang viral di media sosial. Paus yang biasa terlihat dengan pakaian khasnya, secara tiba-tiba terlihat mengenakan mantel mewah puffer putih panjang yang tebal.
Dalam foto tersebut juga diperlihatkan, Paus berusia 86 tahun itu tampak meyakinkan dengan selera fashion barunya. Dia terlihat mengikat mantel tersebut di bagian pinggang dan melapisi mantel itu dengan pakaian santai musim dingin.
Tampaknya gaya berbusana Paus kali ini telah berubah drastis. Paus yang semula tampak dengan regalia khas - jubah, stola, dan topi runcing tinggi - kini tampak mengikuti mode dan tren terkini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, banyak yang mempertanyakan foto tersebut. Bahkan, ada juga yang mengira mungkinkah Paus memiliki penata gaya baru? Apakah dia selalu punya stylist? Apakah penampilannya terinspirasi oleh penari latar di acara Super Bowl Rihanna?
Lebih dari segalanya, bagaimanapun, pengguna media sosial berseru betapa mereka tidak percaya gambar itu nyata. Dan tentu saja, gambar itu memang tidak nyata.
Melansir CNN, Twitter sejak itu melampirkan catatan kaki kontekstual ke beberapa tweet, mengklarifikasi bahwa itu dihasilkan oleh AI dan dibuat menggunakan perangkat lunak Midjourney. Seorang pekerja konstruksi berusia 31 tahun dari Chicago juga mengklaim kepemilikan atas gambar viral tersebut.
Kecanggihan AI dan kekhawatirannya
Alat pencitraan AI (kecerdasan buatan) menjadi semakin canggih. Teknologi, yang menghasilkan gambar berdasarkan permintaan teks pengguna, telah digunakan untuk merancang peragaan busana inklusif, membuat seluruh novel grafis, bahkan membantu membayangkan bentuk arsitektur baru.
Tetapi ketika AI berkembang dan citra "palsu" yang dihasilkan komputer justru semakin meyakinkan, banyak yang khawatir tentang hal ini. Mulai dari implikasi etis, termasuk penghapusan subjek, misal menempatkan orang dalam skenario buatan yang mungkin memfitnah atau jahat.
AI dan masa depan mode
Foto: REUTERS/YARA NARDI
AI dan masa depan mode
Jika berpakaian adalah bentuk ekspresi diri, maka pakaian yang dihasilkan AI mungkin tidak hanya mengurangi kekuatan dan pesan yang melekat pada pakaian - tetapi juga otonomi seseorang.
Dalam kepausan, setiap pakaian memiliki makna religius. Warna jubah Paus dipilih secara khusus agar selaras dengan perayaan tertentu.
Misalnya, merah hanya dapat dikenakan pada acara-acara tertentu, seperti Minggu Palem, Jumat Agung, dan Pentakosta. Sebab merah melambangkan darah Yesus Kristus.
Dengan demikian, gambar palsu Paus yang mengenakan pakaian tertentu di luar ini - atau dalam konteks lain yang tak terhitung jumlahnya - dapat menyebabkan pelanggaran, kekhawatiran, atau bahkan ketidakpercayaan umat Katolik.
Mengubah pakaian seseorang secara digital juga dapat merusak reputasi yang bertahan lama. Foto pada 2005 yang direkayasa memperlihatkan Paris Hilton di klub malam mengenakan tank top inflamasi bertuliskan "Berhenti Menjadi Miskin" menjadi salah satu gambar budaya pop yang paling dikenal.
Hal ini tentu menambah persepsi publik tentang Hilton sebagai ahli waris yang tidak tersentuh. Dia secara terbuka membahas gambar palsu itu pada 2021, bersikeras bahwa orang tidak boleh "percaya semua yang Anda baca".
Selama konferensi di Vatikan pada hari Senin, Paus Francis membahas munculnya teknologi AI dan mendesak para ilmuwan untuk mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia. Meskipun dia tidak secara khusus merujuk kehebohan atas pemalsuan penampilannya sendiri.
"Saya yakin bahwa pengembangan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin memiliki potensi untuk berkontribusi secara positif bagi masa depan umat manusia," kata Francis.
"Saya yakin potensi ini akan terwujud hanya jika ada komitmen konstan dan konsisten dari pihak yang mengembangkan teknologi ini untuk bertindak secara etis dan bertanggung jawab," kata dia.