Renungan Jumat Agung: Bukan Sengsara Tapi Tanda Cinta
CNN Indonesia
Jumat, 07 Apr 2023 11:03 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ibadat Jumat Agung menandai puncak cinta Tuhan terhadap manusia. Berikut renungan untuk Jumat Agung.(ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ibadat Jumat Agung menandai puncak cinta Yesus terhadap manusia. Jumat Agung menandai wafatNya Yesus Kristus di kayu Salib.
Bacaan pertama maupun Injil yang didaraskan oleh petugas pasio memang menunjukkan betapa Yesus mau berkorban nyawa untuk umat-Nya. Namun sebenarnya ada nilai yang begitu besar melebihi penderitaan yakni cinta.
Simak renungan hari raya Jumat Agung selengkapnya setelah bacaan dari kitab Yesaya berikut.
Beginilah firman Tuhan, "Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil! Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan! Seperti banyak orang tertegun melihat dia rupanya begitu buruk, tidak seperti manusia lagi, dan tampaknya tidak seperti anak manusia lagi,
demikianlah ia membuat tercengang banyak bangsa, dan raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia! Sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.
Maka mereka berkata: Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?
Sebagai taruk Hamba Yahwe tumbuh di hadapan Tuhan dan sebagai tunas ia muncul dari tanah kering. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan, dan biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia, dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.
Ia tidak tampan, dan semarak pun tidak ada padanya, sehingga kita tidak tertarik untuk memandang dia; dan rupanya pun tidak tidak menarik, sehingga kita tidak terangsang untuk menginginkannya.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Sesungguhnya dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; derita yang mendatangkan keselamatan bagi kita, ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalan sendiri! Tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas, dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.
Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.
Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan waktu mati ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan, dan tipu tidak ada di dalam mulutnya.
Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan, dan apabila ia menyerahkan dirinya sebagai kurban silih, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana karena dia.
Sesudah kesusahan jiwanya, ia akan melihat terang dan menjadi puas. Sebab Tuhan berfirman, Hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.
Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan. Ini semua sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara para pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang, dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.
Demikianlah sabda Tuhan. U: Syukur kepada Allah.
Injil
Bacaan Injil digantikan oleh pasio kisah sengsara Yesus yang diambil dari Injil Yohanes.
Renungan Hari Raya Jumat Agung 2023
Tak sedikit air mata yang menetes jika ingat akan penderitaan Yesus. Sejak perayaan Kamis Putih, para murid dan umat Tuhan harus dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa ada murid yang berkhianat.
Yesus yang tahu hal ini pun masih bisa tenang saja. Ia mencuci kaki para murid, termasuk si pengkhianat, lalu bersantap bersama seperti pesta perpisahan.
Usai perjamuan, ia sampai di tempat bernama Getsemani. Yesus berpamitan pada para murid untuk berdoa. Dia pun mengajak Petrus dan kedua anak Zebedeus.
Yesus benar-benar merasa gentar dan sedih. Dia meminta mereka untuk tinggal dan berjaga-jaga. Dia juga mengungkapkan kegundahan-Nya pada Bapa di surga.
"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39)
Tengok saja, Yesus berdoa tidak untuk memohon agar dijauhkan dari penderitaan dan rasa sakit. Ia justru memasrahkan segala sesuatunya pada Bapa-Nya. Kemudian ia ditangkap dan diadili.
Yesaya menggambarkan Yesus dalam kondisi memprihatinkan. Yesus terus menutup mulut-Nya, tak mengeluarkan sepatah kata pun termasuk membela diri.
Pun Dia tidak menyebut nama para murid atau orang tua-Nya. Ia sama sekali tidak meminta bantuan pada siapa pun. Satu pertanyaan besar, kenapa? Padahal Yesus disebut sebagai keturunan Daud, koneksinya tentu tidak main-main apalagi semasa hidup ia membangkitkan orang mati dan mengusir roh jahat.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Yesus menjalani semua, tanpa protes. Dalam Injil Lukas, bahkan Yesus diceritakan mengampuni salah satu penyamun yang disalibkan bersama-Nya.
Penggambaran puncak sengsara Tuhan dituliskan Yesaya dengan ringkas tapi mengena.
"Sesungguhnya dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;"
Saat disalibkan, Yesus memang ditikam dengan tombak tepat pada lambung-Nya. Darah dan air keluar melengkapi apa yang tertulis dalam kitab suci bahwa tak ada tulang-Nya yang dipatahkan.
Dosa-dosa manusia ditanggung oleh Yesus, dipikul-Nya, lalu disalibkan di puncak Golgota. Rasanya Jumat Agung kurang pas jika disebut mengenang sengsara dan wafat Tuhan. Hari ini malah bisa disebut perayaan akan cinta, puncak dari segala cinta.
Yesus sama sekali tidak menagih ganti penderitaan yang dialami-Nya. Kendati demikian, Ia memberikan banyak teladan hingga akhir hayat bahwa pengorbanan dan derita dilakukan demi cinta, bukan kekuasaan, materi atau popularitas.
Coba tengok kembali, apa motivasi Anda dalam berbuat sesuatu? Apakah berlandas cinta seperti Yesus memberikan teladan?
Jakarta, CNN Indonesia --
Ibadat Jumat Agung menandai puncak cinta Yesus terhadap manusia. Jumat Agung menandai wafatNya Yesus Kristus di kayu Salib.
Bacaan pertama maupun Injil yang didaraskan oleh petugas pasio memang menunjukkan betapa Yesus mau berkorban nyawa untuk umat-Nya. Namun sebenarnya ada nilai yang begitu besar melebihi penderitaan yakni cinta.
Simak renungan hari raya Jumat Agung selengkapnya setelah bacaan dari kitab Yesaya berikut.
Beginilah firman Tuhan, "Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil! Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan! Seperti banyak orang tertegun melihat dia rupanya begitu buruk, tidak seperti manusia lagi, dan tampaknya tidak seperti anak manusia lagi,
demikianlah ia membuat tercengang banyak bangsa, dan raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia! Sebab apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.
Maka mereka berkata: Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?
Sebagai taruk Hamba Yahwe tumbuh di hadapan Tuhan dan sebagai tunas ia muncul dari tanah kering. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan, dan biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia, dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.
Ia tidak tampan, dan semarak pun tidak ada padanya, sehingga kita tidak tertarik untuk memandang dia; dan rupanya pun tidak tidak menarik, sehingga kita tidak terangsang untuk menginginkannya.
Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Sesungguhnya dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; derita yang mendatangkan keselamatan bagi kita, ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalan sendiri! Tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas, dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.
Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.
Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan waktu mati ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan, dan tipu tidak ada di dalam mulutnya.
Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan, dan apabila ia menyerahkan dirinya sebagai kurban silih, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana karena dia.
Sesudah kesusahan jiwanya, ia akan melihat terang dan menjadi puas. Sebab Tuhan berfirman, Hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.
Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan. Ini semua sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara para pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang, dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.
Demikianlah sabda Tuhan. U: Syukur kepada Allah.
Renungan Hari Raya Jumat Agung 2023
Foto: istockphoto/Simon Roughneen
Injil
Bacaan Injil digantikan oleh pasio kisah sengsara Yesus yang diambil dari Injil Yohanes.
Renungan Hari Raya Jumat Agung 2023
Tak sedikit air mata yang menetes jika ingat akan penderitaan Yesus. Sejak perayaan Kamis Putih, para murid dan umat Tuhan harus dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa ada murid yang berkhianat.
Yesus yang tahu hal ini pun masih bisa tenang saja. Ia mencuci kaki para murid, termasuk si pengkhianat, lalu bersantap bersama seperti pesta perpisahan.
Usai perjamuan, ia sampai di tempat bernama Getsemani. Yesus berpamitan pada para murid untuk berdoa. Dia pun mengajak Petrus dan kedua anak Zebedeus.
Yesus benar-benar merasa gentar dan sedih. Dia meminta mereka untuk tinggal dan berjaga-jaga. Dia juga mengungkapkan kegundahan-Nya pada Bapa di surga.
"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Matius 26:39)
Tengok saja, Yesus berdoa tidak untuk memohon agar dijauhkan dari penderitaan dan rasa sakit. Ia justru memasrahkan segala sesuatunya pada Bapa-Nya. Kemudian ia ditangkap dan diadili.
Yesaya menggambarkan Yesus dalam kondisi memprihatinkan. Yesus terus menutup mulut-Nya, tak mengeluarkan sepatah kata pun termasuk membela diri.
Pun Dia tidak menyebut nama para murid atau orang tua-Nya. Ia sama sekali tidak meminta bantuan pada siapa pun. Satu pertanyaan besar, kenapa? Padahal Yesus disebut sebagai keturunan Daud, koneksinya tentu tidak main-main apalagi semasa hidup ia membangkitkan orang mati dan mengusir roh jahat.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Yesus menjalani semua, tanpa protes. Dalam Injil Lukas, bahkan Yesus diceritakan mengampuni salah satu penyamun yang disalibkan bersama-Nya.
Penggambaran puncak sengsara Tuhan dituliskan Yesaya dengan ringkas tapi mengena.
"Sesungguhnya dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;"
Saat disalibkan, Yesus memang ditikam dengan tombak tepat pada lambung-Nya. Darah dan air keluar melengkapi apa yang tertulis dalam kitab suci bahwa tak ada tulang-Nya yang dipatahkan.
Dosa-dosa manusia ditanggung oleh Yesus, dipikul-Nya, lalu disalibkan di puncak Golgota. Rasanya Jumat Agung kurang pas jika disebut mengenang sengsara dan wafat Tuhan. Hari ini malah bisa disebut perayaan akan cinta, puncak dari segala cinta.
Yesus sama sekali tidak menagih ganti penderitaan yang dialami-Nya. Kendati demikian, Ia memberikan banyak teladan hingga akhir hayat bahwa pengorbanan dan derita dilakukan demi cinta, bukan kekuasaan, materi atau popularitas.
Coba tengok kembali, apa motivasi Anda dalam berbuat sesuatu? Apakah berlandas cinta seperti Yesus memberikan teladan?