Rahmatullah, Hikayat Masjid di Aceh yang Menolak Tunduk pada Tsunami
CNN Indonesia
Sabtu, 15 Apr 2023 10:13 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Masjid Rahmatullah yang sempat terkena tsunami Aceh pada (Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kawasan Lampuuk di Kabupaten Aceh Besar, Aceh, menjadi daerah terparah yang dihantam tsunami 2004, semua rata dengan tanah kala itu. Belasan tahun berlalu, kini wilayah ini menjelma jadi lokasi wisata bahari yang ramai dikunjungi wisatawan.
Sejak dulu Lampuuk memang dikenal akan keindahan pantainya yang indah. Kombinasi bibir pantai melengkung, gemuruh ombak dan pasir putih seakan menjerat pengunjung untuk bisa berlama-lama di pantai itu.
Di Kawasan Lampuuk terdapat beberapa spot pantai yang memiliki keunikan masing-masing. Yang pertama menyita perhatian adalah Masjid Rahmatullah, yang masih berdiri kokoh hingga kini, meski tsunami 2004 sempat menghancurkan sebagian bangunan yang ada di sekelilingnya.
Perjalanan dimulai dari Pusat Kota Banda Aceh menuju kawasan Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar yang memiliki jarak sekitar 15 kilometer atau sekitar 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor.
Setiba memasuki kawasan itu, tampak gapura yang terbentang di atas jalan yang bertuliskan 'Perkampungan Bulan Sabit Merah Turki-Lampuuk'. Bukan berarti kawasan itu dihuni oleh warga Turki.
Dulunya, Pemerintah Turki membangun rumah bagi warga yang kehilangan tempat tinggal di wilayah itu akibat tsunami yang melanda Aceh. Sangat mudah untuk mengenali rumah bantuan Turki itu, ada tanda bendera bulan sabit yang tertempel di atas dinding rumah.
Meskipun warga di sana sudah merombak ulang rumah bantuan itu, tetap lambang bulan sabit masih tertempel di atasnya. "Kami hanya menghargai pemberian mereka," kata Maidah, warga setempat kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/4).
Tak jauh dari gapura, terdapat Masjid Rahmatullah. Masjid itu masih mempertahankan desain lama. Hanya beberapa saja yang telah dipugar seperti halaman dan penambahan dinding kaca di sekeliling pintu masuk masjid.
Kemudian ada museum kecil berukuran sekitar 4X10 meter di samping kanan halaman masjid yang berisi foto-foto masjid usai tsunami meratakan pemukiman di sana. Foto-foto yang terpajang juga berisi masjid sebelum dihantam tsunami.
Setiap warga dan wisatawan bebas masuk ke sana, museum ini dijaga oleh pengurus masjid. Pengunjung tak dibebankan biaya untuk masuk, hanya di meja pintu masuk terdapat celengan yang bisa disumbangkan seikhlasnya.
Rata-rata wisatawan yang ke sana berasal dari Negeri Jiran, Malaysia. Hari itu pun kedatangan dua minibus di halaman masjid membawa belasan wisatawan dari Johor, Malaysia.
Mereka tampak kagum saat melihat foto Masjid Rahmatullah sebelum dan sesudah bencana mahadahsyat tersebut. Seolah masjid itu tak mau 'tunduk' pada ganasnya gelombang tsunami.
Setiap ada wisatawan yang masuk ke Museum itu, pengelola masjid langsung bergegas menemui mereka. Dan menjelaskan secara detail foto per foto yang dipajang ke pelancong. "Kalau dari (wisatawan) Malaysia, memang kebanyakan pasti ke sini," ujar Rizal, seorang pengurus Masjid Rahmatullah Lampuuk.
Berdasarkan data Pemerintah Aceh, sekitar 6.000 jiwa yang tinggal di wilayah tersebut, hanya sekitar 700 orang yang selamat dari gempa dan tsunami 2004 silam. Rata-rata mereka menyelamatkan diri dengan cara masuk ke masjid.
Ajaibnya meski seluruh bangunan dan pohon rata dengan tanah, masjid yang berdiri pada 1997 ini masih kokoh berdiri. Padahal jaraknya hanya 500 meter dari bibir pantai.
Dua tahun berselang, tepatnya 2006, Wakil Perdana Menteri Turki Mehmet Ali Sahin, saat itu berkunjung ke Lampuuk untuk meresmikan sejumlah fasilitas yang dibangun Bulan Sabit Merah Turki, salah satunya renovasi Masjid Rahmatullah dan rumah hunian untuk warga.
Tempat Edukasi
Kini Masjid Rahmatullah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tapi juga lokasi wisata. Untuk menunjukkan dahsyatnya tsunami, pengurus masjid mempertahankan bentuk asli sisi bagian kiri belakang masjid yang rusak.
Meski sudah direnovasi, ada dinding masjid yang retak dengan tiang besi di dalamnya dibiarkan menggantung. Sejumlah pilar masjid masih terlihat miring hampir ambruk. Namun, kerusakan itu sudah dipagar oleh pengurus masjid. Kerusakan itu seolah menyampaikan betapa dahsyatnya kekuatan guncangan gempa dan tsunami kala itu.
Di dalamnya ada pula satu tiang masjid yang dibiarkan roboh. Bongkahan batu karang dan batu-batu koral dibiarkan berserakan di atas pasir. Yang menandakan bahwa masjid itu selamat dari tsunami.
Di bawah tiang yang rusak, sebuah papan bertulis "JANGAN LUPAKAN TSUNAMI" berdiri tegak. Pengurus juga telah mendirikan galeri khusus yang menunjukkan kondisi masjid dan wilayah sekitarnya usai dihantam tsunami.
Biasanya, wisatawan yang berkunjung diajak ke dalam masjid untuk diberikan edukasi terkait mitigasi bencana. Setelah berkeliling Masjid Rahmatullah, wisatawan bisa menikmati pesona pantai di sekitarnya.
Pantai-pantai itu kini sudah bersolek dan sangat mudah untuk menempuh ke sana. Ada sejumlah pintu masuk menuju pantai, mulai dari Joel Bungalow, Pantai Babah 2, Pantai Tebing Lampuuk hingga Pantai Momong.
Namun, di saat bulan Ramadan, beberapa pantai seperti Pantai Tebing Lampuuk dan Pantai Lampuuk ditutup. Sedangkan Babah 2, tetap dibuka namun saat siang hari tidak ada aktivitas pedagang di dalamnya dan sepi. Mungkin karena suasana Ramadan, begitu juga di Pantai Momong. "Sore baru ramai, karena buka puasa," ujar pekerja di Eky Momong Resort, Rahmad.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kawasan Lampuuk di Kabupaten Aceh Besar, Aceh, menjadi daerah terparah yang dihantam tsunami 2004, semua rata dengan tanah kala itu. Belasan tahun berlalu, kini wilayah ini menjelma jadi lokasi wisata bahari yang ramai dikunjungi wisatawan.
Sejak dulu Lampuuk memang dikenal akan keindahan pantainya yang indah. Kombinasi bibir pantai melengkung, gemuruh ombak dan pasir putih seakan menjerat pengunjung untuk bisa berlama-lama di pantai itu.
Di Kawasan Lampuuk terdapat beberapa spot pantai yang memiliki keunikan masing-masing. Yang pertama menyita perhatian adalah Masjid Rahmatullah, yang masih berdiri kokoh hingga kini, meski tsunami 2004 sempat menghancurkan sebagian bangunan yang ada di sekelilingnya.
Perjalanan dimulai dari Pusat Kota Banda Aceh menuju kawasan Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar yang memiliki jarak sekitar 15 kilometer atau sekitar 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor.
Setiba memasuki kawasan itu, tampak gapura yang terbentang di atas jalan yang bertuliskan 'Perkampungan Bulan Sabit Merah Turki-Lampuuk'. Bukan berarti kawasan itu dihuni oleh warga Turki.
Dulunya, Pemerintah Turki membangun rumah bagi warga yang kehilangan tempat tinggal di wilayah itu akibat tsunami yang melanda Aceh. Sangat mudah untuk mengenali rumah bantuan Turki itu, ada tanda bendera bulan sabit yang tertempel di atas dinding rumah.
Meskipun warga di sana sudah merombak ulang rumah bantuan itu, tetap lambang bulan sabit masih tertempel di atasnya. "Kami hanya menghargai pemberian mereka," kata Maidah, warga setempat kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/4).
Tak jauh dari gapura, terdapat Masjid Rahmatullah. Masjid itu masih mempertahankan desain lama. Hanya beberapa saja yang telah dipugar seperti halaman dan penambahan dinding kaca di sekeliling pintu masuk masjid.
Kemudian ada museum kecil berukuran sekitar 4X10 meter di samping kanan halaman masjid yang berisi foto-foto masjid usai tsunami meratakan pemukiman di sana. Foto-foto yang terpajang juga berisi masjid sebelum dihantam tsunami.
Setiap warga dan wisatawan bebas masuk ke sana, museum ini dijaga oleh pengurus masjid. Pengunjung tak dibebankan biaya untuk masuk, hanya di meja pintu masuk terdapat celengan yang bisa disumbangkan seikhlasnya.
Rata-rata wisatawan yang ke sana berasal dari Negeri Jiran, Malaysia. Hari itu pun kedatangan dua minibus di halaman masjid membawa belasan wisatawan dari Johor, Malaysia.
Mereka tampak kagum saat melihat foto Masjid Rahmatullah sebelum dan sesudah bencana mahadahsyat tersebut. Seolah masjid itu tak mau 'tunduk' pada ganasnya gelombang tsunami.
Setiap ada wisatawan yang masuk ke Museum itu, pengelola masjid langsung bergegas menemui mereka. Dan menjelaskan secara detail foto per foto yang dipajang ke pelancong. "Kalau dari (wisatawan) Malaysia, memang kebanyakan pasti ke sini," ujar Rizal, seorang pengurus Masjid Rahmatullah Lampuuk.
Jangan Lupakan Tsunami, Sebuah Pesan
Masjid Rahmatullah di Aceh, yang pernah dihantam tsunami pada 2004. (Safir Makki/CNN Indonesia)
Berdasarkan data Pemerintah Aceh, sekitar 6.000 jiwa yang tinggal di wilayah tersebut, hanya sekitar 700 orang yang selamat dari gempa dan tsunami 2004 silam. Rata-rata mereka menyelamatkan diri dengan cara masuk ke masjid.
Ajaibnya meski seluruh bangunan dan pohon rata dengan tanah, masjid yang berdiri pada 1997 ini masih kokoh berdiri. Padahal jaraknya hanya 500 meter dari bibir pantai.
Dua tahun berselang, tepatnya 2006, Wakil Perdana Menteri Turki Mehmet Ali Sahin, saat itu berkunjung ke Lampuuk untuk meresmikan sejumlah fasilitas yang dibangun Bulan Sabit Merah Turki, salah satunya renovasi Masjid Rahmatullah dan rumah hunian untuk warga.
Tempat Edukasi
Kini Masjid Rahmatullah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tapi juga lokasi wisata. Untuk menunjukkan dahsyatnya tsunami, pengurus masjid mempertahankan bentuk asli sisi bagian kiri belakang masjid yang rusak.
Meski sudah direnovasi, ada dinding masjid yang retak dengan tiang besi di dalamnya dibiarkan menggantung. Sejumlah pilar masjid masih terlihat miring hampir ambruk. Namun, kerusakan itu sudah dipagar oleh pengurus masjid. Kerusakan itu seolah menyampaikan betapa dahsyatnya kekuatan guncangan gempa dan tsunami kala itu.
Di dalamnya ada pula satu tiang masjid yang dibiarkan roboh. Bongkahan batu karang dan batu-batu koral dibiarkan berserakan di atas pasir. Yang menandakan bahwa masjid itu selamat dari tsunami.
Di bawah tiang yang rusak, sebuah papan bertulis "JANGAN LUPAKAN TSUNAMI" berdiri tegak. Pengurus juga telah mendirikan galeri khusus yang menunjukkan kondisi masjid dan wilayah sekitarnya usai dihantam tsunami.
Biasanya, wisatawan yang berkunjung diajak ke dalam masjid untuk diberikan edukasi terkait mitigasi bencana. Setelah berkeliling Masjid Rahmatullah, wisatawan bisa menikmati pesona pantai di sekitarnya.
Pantai-pantai itu kini sudah bersolek dan sangat mudah untuk menempuh ke sana. Ada sejumlah pintu masuk menuju pantai, mulai dari Joel Bungalow, Pantai Babah 2, Pantai Tebing Lampuuk hingga Pantai Momong.
Namun, di saat bulan Ramadan, beberapa pantai seperti Pantai Tebing Lampuuk dan Pantai Lampuuk ditutup. Sedangkan Babah 2, tetap dibuka namun saat siang hari tidak ada aktivitas pedagang di dalamnya dan sepi. Mungkin karena suasana Ramadan, begitu juga di Pantai Momong. "Sore baru ramai, karena buka puasa," ujar pekerja di Eky Momong Resort, Rahmad.