Viral, Banyak Sampah Bekas Pendaki Bertebaran di Gunung Everest
CNN Indonesia
Rabu, 07 Jun 2023 20:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Para pendaki di Gunung Everest, Nepal. (AFP/Lakpa Sherpa)
Jakarta, CNN Indonesia --
Unggahan video pemandu pendakian lokal bernama Tenzi Sherpa menyoroti jumlah sampah yang tertinggal di Camp 4 jalur pendakian Gunung Everest atau yang disebut South Col, Nepal.
Dalam video di media sosial Instagram itu, tampak banyak sampah bertebaran di South Col Gunung Everest, yang menyita perhatian netizen hingga menjadi viral.
Berbagai jenis sampah yang tampak di South Col Gunung Everest antara lain kantong tidur, sepatu, sendok, dan sejumlah barang bekas pakai para pendaki lainnya.
South Col memang menjadi kamp yang sering digunakan para pendaki sebelum summit attack ke puncak Gunung Everest. Tak heran, banyak barang-barang bekas pakai pendaki yang ditinggal di South Col.
South Col merupakan lembah yang lokasinya berada di puncak Everest dan Lho La Pass di perbatasan Nepal-Tibet. South Col banyak dipilih sebagai camp pendaki, karena area yang kerap tersapu angin kencang, sehingga bebas dari akumulasi salju yang signifikan.
Seperti dilansir Reuters, sekitar 200 kg sampah sudah dibawa turun dari Gunung Everest oleh Tenzi Sherpa. Sementara laporan lain, pihak berwenang mengumpulkan 13 ton sampah dari Everest dan Puncak Lhotse pada tahun ini, sebagai bagian dari kampanye menjaga kebersihan gunung atau Clean Mountain.
"Ini perkemahan terkotor yang pernah saya lihat. Kita dapat saksikan banyak tenda, botol oksigen kosong, mangkuk besi, sendok, bantalan sanitasi, dan kertas," tulis Tenzi Sherpa di akun Instagramnya.
"Saya merasa begitu sedih. Saya telah melihat banyak kelompok ekspedisi dan perusahaan memotong logo perusahaan dan meninggalkan semua tenda di sana," imbuhnya.
Sebenarnya, sejak bertahun-tahun lalu, kampanye Clean Mountain sudah dimulai. Sayangnya, masih banyak pendaki tetap meninggalkan sampah di Gunung Everest.
Padahal, jika membawa sampah mereka turun dari Gunung Everest, pendaki bisa mengklaim kembali deposit sampah sebesar US$4.000 atau sekitar Rp60 juta.
Tapi, penyelenggara dan petugas ekspedisi kesulitan mengawasi sampah dari kamp pemantauan. Kamp pemantauan setinggi hampir 8.000 meter atau 26.246 kaki dianggap sulit dan tidak efektif.
"Saya ingin meminta kepada pemerintah menghukum perusahaan yang meninggalkan sampah di gunung itu masalah besar yang kita hadapi," ujar Tenzi di akun Instagramnya.
Garrett Madison, pemandu gunung asal Amerika Serikat, yang baru-baru ini mencapai prestasi mendaki Gunung Everest dan dua puncak terdekat dalam waktu kurang dari tiga minggu, menganggap Nepal perlu melakukan pekerjaan lebih baik dalam mengawasi gunung tertinggi di dunia itu.
Hal tersebut demi menyelamatkan Gunung Everest dari sampah. Madison mengungkapkan, kamp-kamp yang lebih tinggi di Gunung Everest dipenuhi tenda robek, bungkus makanan, dan botol oksigen kosong yang dibuang pendaki.
"Kita perlu menemukan cara yang lebih baik untuk menurunkan limbah. Kami membutuhkan kepolisian yang lebih baik untuk memeriksa bahwa setiap tim menurunkan sampahnya," ujar Madison, seperti dilansir Reuters.
Pendakian Gunung Everest menghasilkan pendapatan besar bagi Nepal. Pihak berwenang negara itu memecahkan rekor mengeluarkan 478 izin untuk mendaki Everest pada periode Maret sampai Mei tahun ini.
Masing-masing pendaki harus membayar US$11.000 untuk mendaki Gunung Everest. Sementara itu dilaporkan juga, 12 pendaki tewas dan lima orang hilang di lereng Gunung Everest.
Jakarta, CNN Indonesia --
Unggahan video pemandu pendakian lokal bernama Tenzi Sherpa menyoroti jumlah sampah yang tertinggal di Camp 4 jalur pendakian Gunung Everest atau yang disebut South Col, Nepal.
Dalam video di media sosial Instagram itu, tampak banyak sampah bertebaran di South Col Gunung Everest, yang menyita perhatian netizen hingga menjadi viral.
Berbagai jenis sampah yang tampak di South Col Gunung Everest antara lain kantong tidur, sepatu, sendok, dan sejumlah barang bekas pakai para pendaki lainnya.
South Col memang menjadi kamp yang sering digunakan para pendaki sebelum summit attack ke puncak Gunung Everest. Tak heran, banyak barang-barang bekas pakai pendaki yang ditinggal di South Col.
South Col merupakan lembah yang lokasinya berada di puncak Everest dan Lho La Pass di perbatasan Nepal-Tibet. South Col banyak dipilih sebagai camp pendaki, karena area yang kerap tersapu angin kencang, sehingga bebas dari akumulasi salju yang signifikan.
Seperti dilansir Reuters, sekitar 200 kg sampah sudah dibawa turun dari Gunung Everest oleh Tenzi Sherpa. Sementara laporan lain, pihak berwenang mengumpulkan 13 ton sampah dari Everest dan Puncak Lhotse pada tahun ini, sebagai bagian dari kampanye menjaga kebersihan gunung atau Clean Mountain.
"Ini perkemahan terkotor yang pernah saya lihat. Kita dapat saksikan banyak tenda, botol oksigen kosong, mangkuk besi, sendok, bantalan sanitasi, dan kertas," tulis Tenzi Sherpa di akun Instagramnya.
"Saya merasa begitu sedih. Saya telah melihat banyak kelompok ekspedisi dan perusahaan memotong logo perusahaan dan meninggalkan semua tenda di sana," imbuhnya.
Sebenarnya, sejak bertahun-tahun lalu, kampanye Clean Mountain sudah dimulai. Sayangnya, masih banyak pendaki tetap meninggalkan sampah di Gunung Everest.
Pendaki Gunung Everest Bisa Klaim Deposit Sampah Rp60 Juta
Penampakan para pendaki di Gunung Everest. (AFP/Prakash Mathema)
Padahal, jika membawa sampah mereka turun dari Gunung Everest, pendaki bisa mengklaim kembali deposit sampah sebesar US$4.000 atau sekitar Rp60 juta.
Tapi, penyelenggara dan petugas ekspedisi kesulitan mengawasi sampah dari kamp pemantauan. Kamp pemantauan setinggi hampir 8.000 meter atau 26.246 kaki dianggap sulit dan tidak efektif.
"Saya ingin meminta kepada pemerintah menghukum perusahaan yang meninggalkan sampah di gunung itu masalah besar yang kita hadapi," ujar Tenzi di akun Instagramnya.
Garrett Madison, pemandu gunung asal Amerika Serikat, yang baru-baru ini mencapai prestasi mendaki Gunung Everest dan dua puncak terdekat dalam waktu kurang dari tiga minggu, menganggap Nepal perlu melakukan pekerjaan lebih baik dalam mengawasi gunung tertinggi di dunia itu.
Hal tersebut demi menyelamatkan Gunung Everest dari sampah. Madison mengungkapkan, kamp-kamp yang lebih tinggi di Gunung Everest dipenuhi tenda robek, bungkus makanan, dan botol oksigen kosong yang dibuang pendaki.
"Kita perlu menemukan cara yang lebih baik untuk menurunkan limbah. Kami membutuhkan kepolisian yang lebih baik untuk memeriksa bahwa setiap tim menurunkan sampahnya," ujar Madison, seperti dilansir Reuters.
Pendakian Gunung Everest menghasilkan pendapatan besar bagi Nepal. Pihak berwenang negara itu memecahkan rekor mengeluarkan 478 izin untuk mendaki Everest pada periode Maret sampai Mei tahun ini.
Masing-masing pendaki harus membayar US$11.000 untuk mendaki Gunung Everest. Sementara itu dilaporkan juga, 12 pendaki tewas dan lima orang hilang di lereng Gunung Everest.