Takut Polusi, Warga Tetap Setia Pakai Masker Meski Aturan Dicabut
CNN Indonesia
Kamis, 15 Jun 2023 20:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Dicabutnya aturan tak membuat warga mau melepas masker. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Pendapat yang sedikit berbeda muncul dari Rahadian (32). Ia memilih berada di tengah-tengah, atau dengan menggunakan masker sesuai kebutuhan.
Misalnya, saat naik KRL rute Serpong ketika dia harus ke Jakarta. Jika penumpang padat, maka dia akan pakai masker. Sebaliknya, jika keadaan cukup sepi penumpang, maka masker akan dilepas.
"Pokoknya, ya, sesuai kebutuhan saja. Bisa pakai, bisa enggak. Jadi enggak ngoyo harus pakai. Kan, aturannya juga sudah dicabut," kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecuali, kata Rahadian, saat naik motor di wilayah Jabodetabek. Dia tak akan mau melepas masker. Sebab, udara terasa sangat kotor akibat polusi dan debu yang berbahaya untuk kesehatan paru-paru.
"Soalanya naik motor anginnya langsung ke hidung, ke wajah. Kalau ini [naik motor di Jakarta], ada atau enggak ada aturan, baiknya, sih, pakai masker," katanya.
Jika Ronggo hingga Lestari memilih tetap pakai masker meski aturan telah dicabut, Reza (35) justru berbeda. Dia sangat bersyukur aturan pakai masker dicabut.
Selama ini, dia kerap merasa 'tersiksa' saat harus berdesak-desakan di kereta saat jam kerja yang terbilang padat. Menggunakan masker saat kereta penuh membuat napas terasa makin sempit.
"Ya, alhamdulilah sudah boleh dilepas. Capek banget pakai masker di kereta, penuh, terus harus transit di Manggarai, lari-lari sambil pakai masker, sesak napas saya," kata dia.
Tentunya, Reza sangat menyambut baik keputusan itu. Urusan polusi dan kualitas udara buruk yang bisa merusak paru-paru menurut dia bisa diselesaikan walau tanpa masker.
"Ya polusi, dulu juga polusi, sudah lama, kan, itu. Dulu juga tidak pakai masker tidak apa-apa. Yang penting jaga kesehatan tubuh saja. Sama saja rugi kalau pakai masker tapi enggak olahraga, enggak makan sehat, enggak tidur cukup. Jadi mending dilepas," kata dia.
Pemerintah memperbolehkan warga untuk melepas maskermeski tengah berada di tengah perjalanan, termasuk juga perjalanan jauh. Meski demikian, dicabutnya aturan ini tak membuat masyarakat serta-merta melepas masker.
Sebut saja Ronggo Astungkoro (29), pria yang sehari-harinya menggunakan KRL rute Parung Panjang atau Rangkasbitung ini memilih tetap menggunakan masker meski aturan telah dicabut.
"Masih pakai [makser]. Mau tetap pakai masker kalau naik kereta," kata Ronggo, kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Selain sudah menjadi kebiasaan dan merasa nyaman, Ronggo mengaku tetap menggunakan masker juga melindungi dirinya dari berbagai penyakit.
Selain itu, polusi udara yang terbilang parah di Jakarta juga menjadi salah satu alasan kuat Ronggo memilih tetap pakai masker.
"Polusi, kan, lagi parah banget. Jadi, ya, maskeran juga penting. Bukan cuma untuk mencegah tertular Covid-19, tapi juga mencegah terpapar penyakit lain. Melindungi diri lah istilahnya," kata Ronggo.
Hal sama juga diungkapkan Lestari (24). Wanita yang tinggal di Depok dan bekerja di kawasan SCDB, Jakarta Selatan itu setiap hari harus menaiki KRL rute Bogor untuk menuju tempat kerjanya.
Dia sendiri memilih tetap menggunakan masker selama perjalanan dari Depok ke Jakarta. Lagi pula, kebiasaan pakai masker ini sebetulnya telah dilakukan sejak lama, jauh sebelum pandemi Covid-19 mewabah.
"Aku, sih, tetap pakai [masker], yah. Dari dulu banget aku udah pakai, sih," ujar Lestari.
Udara Jakarta yang tak sehat dengan debu-debu polusinya jadi alasan Lestari mengenakan masker sejak lama.
Bagi Lestari, masker hanya boleh dilepas saat berada di ruangan dan tidak sedang dalam perjalanan. Saat harus menaiki ojek online atau membawa motor sendiri pun, Lestari tak pernah melepas maskernya.
"Enggak, aku jarang banget [lepas masker]. Malah enggak pernah kayaknya lepas masker kalau lagi jalan. Enggak berani," kata dia.
Simak respons warga soal aturan boleh lepas masker di halaman berikutnya..
Pakai masker sesuai kebutuhan
Ilustrasi. Dicabutnya aturan tak membuat warga mau melepas masker. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Pendapat yang sedikit berbeda muncul dari Rahadian (32). Ia memilih berada di tengah-tengah, atau dengan menggunakan masker sesuai kebutuhan.
Misalnya, saat naik KRL rute Serpong ketika dia harus ke Jakarta. Jika penumpang padat, maka dia akan pakai masker. Sebaliknya, jika keadaan cukup sepi penumpang, maka masker akan dilepas.
"Pokoknya, ya, sesuai kebutuhan saja. Bisa pakai, bisa enggak. Jadi enggak ngoyo harus pakai. Kan, aturannya juga sudah dicabut," kata dia.
Kecuali, kata Rahadian, saat naik motor di wilayah Jabodetabek. Dia tak akan mau melepas masker. Sebab, udara terasa sangat kotor akibat polusi dan debu yang berbahaya untuk kesehatan paru-paru.
"Soalanya naik motor anginnya langsung ke hidung, ke wajah. Kalau ini [naik motor di Jakarta], ada atau enggak ada aturan, baiknya, sih, pakai masker," katanya.
Jika Ronggo hingga Lestari memilih tetap pakai masker meski aturan telah dicabut, Reza (35) justru berbeda. Dia sangat bersyukur aturan pakai masker dicabut.
Selama ini, dia kerap merasa 'tersiksa' saat harus berdesak-desakan di kereta saat jam kerja yang terbilang padat. Menggunakan masker saat kereta penuh membuat napas terasa makin sempit.
"Ya, alhamdulilah sudah boleh dilepas. Capek banget pakai masker di kereta, penuh, terus harus transit di Manggarai, lari-lari sambil pakai masker, sesak napas saya," kata dia.
Tentunya, Reza sangat menyambut baik keputusan itu. Urusan polusi dan kualitas udara buruk yang bisa merusak paru-paru menurut dia bisa diselesaikan walau tanpa masker.
"Ya polusi, dulu juga polusi, sudah lama, kan, itu. Dulu juga tidak pakai masker tidak apa-apa. Yang penting jaga kesehatan tubuh saja. Sama saja rugi kalau pakai masker tapi enggak olahraga, enggak makan sehat, enggak tidur cukup. Jadi mending dilepas," kata dia.