Jakarta, CNN Indonesia -- Hari Hepatitis Sedunia diperingati saban 28 Juli. Sayangnya, masih banyak mitos-mitos yang tersebar tentang hepatitis.
Hari ini, 28 Juli, diperingati sebagai Hari Hepatitis Sedunia. Menurut Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO), Hari Hepatitis Sedunia jadi kesempatan untuk menaikkan skala upaya respons terhadap hepatitis di tingkat nasional dan internasional.
Tahun ini, peringatan mengambil tema "One life, one liver". Hepatitis bisa merenggut keduanya sekaligus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kampanye yang digaungkan mengingatkan akan pentingnya menjaga kesehatan hati. Pasalnya, hati menjalankan lebih dari 500 fungsi vital yang membuat kehidupan terus berjalan.
Kesadaran akan kesehatan hati ini juga sama pentingnya dengan kesadaran akan informasi yang benar soal hepatitis. Berikut deret mitos hepatitis yang sebaiknya dihilangkan.
1. Semua jenis hepatitis sama bahayanya
Faktanya, ada jenis hepatitis yang sifatnya self limiting. Artinya, bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, ada pula yang bisa mengakibatkan kanker hati atau kerusakan hati permanen.
"Hepatitis A sering membuat orang merasakan sakit untuk waktu yang singkat, tetapi sangat jarang mengalami komplikasi serius atau sakit jangka panjang," jelas Shelley Facente, periset rekanan di Division of Epidemiology and Biostatistics, University of California, seperti dilaporkan Medical News Today.
Sementara hepatitis B bisa sangat serius dan memicu infeksi kronis meski jarang. Kemudian hepatitis C kerap tidak menimbulkan gejala awal, tapi sebagian besar mengarah pada kanker hati, sirosis, hingga kematian jika tidak ditangani.
2. Kasus hepatitis C itu jarang
 Ilustrasi. Ada banyak mitos yang tersebar seputar hepatitis. (iStock/Sinenkiy) |
Siapa bilang? Menurut WHO, ada 325 juta orang menderita hepatitis B, C atau keduanya. Pada 2016, WHO mencatat ada sekitar 399 ribu kematian akibat hepatitis C secara global.
Hepatitis B dan C sama-sama menjadi penyebab sirosis dan kanker hati yang paling umum. Keduanya juga merupakan penyebab kematian terbesar yang disebabkan oleh virus hepatitis.
3. Hepatitis A adalah penyakit keturunan
Orang tertular hepatitis A bukan karena riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. Turunan penyakit dari orang tua justru lebih rentan pada kasus hepatitis B.
Seperti dilaporkan India Times, pada kasus hepatitis B, ibu bisa menularkan virus ke anak selama proses persalinan. Namun, ini bisa dicegah dengan identifikasi status hepatitis B pada ibu dan vaksinasi pada bayi baru lahir dalam 12 jam.
Simak mitos hepatitis lainnya di halaman berikutnya..
Mitos-mitos hepatitis
Ilustrasi. Salah satu mitos hepatitis adalah remaja yang lebih rentan tertular hepatitis C. (iStock/Laikwunfai)
4. Remaja lebih rentan tertular hepatitis C
Justru generasi 'baby boomers' (lahir 1945-1965) yang rentan terkena hepatitis C. Dikutip dari WebMD, hal ini kemungkinan karena mereka terinfeksi beberapa tahun sebelumnya di mana belum banyak tes darah.
Selain 'baby boomers', CDC menyarankan orang dengan beberapa faktor risiko berikut untuk tes guna deteksi hepatitis C yakni:
- punya masalah dengan organ hati,
- menggunakan zat terlarang dengan jarum suntik,
- ODHA (orang dengan HIV/AIDS),
- punya riwayat transfusi darah sebelum 1992.
5. Orang bisa tertular hepatitis dari ciuman
Penularan hepatitis bisa lewat berbagai cara, tapi tidak dengan ciuman. Hepatitis A rata-rata menular lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi virus.
Dikutip dari WebMD, hepatitis A umum terjadi saat orang mengonsumsi buah atau sayur yang kurang bersih atau pangan yang dimasak kurang sempurna.
Kemudian hepatitis B dan C menular lewat darah atau cairan tubuh. Sangat mungkin tertular dari penggunaan pisau cukur, jarum, atau sikat gigi bergantian dengan orang yang terinfeksi.
6. Orang dengan hepatitis otomatis sakit kuning
Jaundice atau sakit kuning merupakan salah satu tanda penyakit hati. Namun, tidak semua orang mengalami sakit kuning saat terinfeksi virus hepatitis.
Pada hepatitis C, kebanyakan pasien tidak mengalami gejala apa pun sampai virus merusak hati cukup parah, lalu muncul penyakit kuning.
7. Hepatitis bisa dicegah dengan vaksin
Saat ini, hanya ada vaksin untuk hepatitis A dan B. Belum tersedia vaksin untuk hepatitis C.
Facente berkata, perlu beberapa kali suntikan untuk melengkapi vaksin hepatitis A dan B.