Makan Jadi Istimewa di Tengah Rimbun Pepohonan Rummah Go'A
Tiara Sutari | CNN Indonesia
Jumat, 18 Agu 2023 17:52 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Rummah Go'A menawarkan suasana yang tenang di tengah hiruk pikuk ibu kota. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Jakarta, CNN Indonesia --
tuuuuut..tuuuut...tuuuut
Suara klakson kereta apidari arah Rangkasbitung menuju Tanah Abang terdengar nyaring. Kereta itu hendak masuk dan berhenti di stasiun Jurang Mangu untuk menaik-turunkan penumpang.
Ya, kereta jadi salah satu pemandangan 'unik' yang bisa dinikmati dari sudut kafe yang letaknya hampir bersisian dengan stasiun kereta Jurang Mangu. Nama kafenya Rummah Go'A, milik aktor kum musisi era 90-an, Dik Doank.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kafe ini memang unik. Konsepnya juga menarik. Terlihat agak berantakan, tapi sebenarnya tertata dengan sempurna.
Mungkin, si empunya memang sengaja membuatnya 'terlihat' berantakan. Agar pengunjung merasa seperti di rumah, alih-alih kafe biasa.
Hal unik lainnya yang bisa ditemukan di kafe ini adalah pintu masuk yang nyaris nyumput--kata dalam bahasa Sunda yang memiliki arti bersembunyi.
Pintu masuk ke kafe ini hampir tidak terlihat. Bukan ukurannya yang kecil, tapi karena rimbun tertutup pohon bambu di kedua sisinya.
Dayung berwarna kuning yang tampak aneh dan tak masuk akal ada di pinggir jalan mungkin jadi satu-satunya yang bikin orang sadar bahwa itu adalah jalan menuju kafe.
Saat masuk, pengunjung akan langsung disuguhkan musala sekaligus pancuran air untuk berwudu. Jadi, bukan meja kasir yang menyambut Anda, melainkan musala yang mengingatkan Anda yang beragama Islam untuk salat lima waktu.
Sesuai namanya, Rummah Go'A memang bukan hanya menyajikan makanan dan tempat yang homey. Kafe ini juga membuat pengunjung tetap ingat Allah SWT saat bersantai, bercengkerama di dalam kafe. Ya, persis namanya, Go'A alias Go to Allah.
"Go'A itu artinya Go to Allah. Memang ini Om Dik [panggilan untuk Dik Doank] membuat kafe yang hangat. Hangat ke manusia, juga hangat ke sang pencipta. Hangat maksudnya lebih dekat gitu pokoknya," kata salah satu pegawai di kafe tersebut, Dani Dwi Saputra (20) saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di lokasi, Senin (14/8).
Rumah keluarga yang disulap jadi tempat bercerita
Sajian sederhana di Rummah Go'A, Ciputat, Tangerang Selatan. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Rummah Go'A terletak di Gang Garuda 1, No. 109 Sawah Besar, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Tak ada akses kendaraan pribadi, apalagi motor untuk menuju ke Rummah Go'A. Bahkan tempat parkir pun tak tersedia di tempat ini.
Pengunjung memang secara tidak langsung diharuskan menggunakan angkutan umum untuk datang ke Rummah Go'A. Cara paling mudah adalah dengan naik kereta, berhenti di Stasiun Jurang Mangu, keluar dan jalan kaki sekitar 500 meter, maka Anda bisa langsung sampai ke Rummah Go'A.
Rummah Go'A sudah ada sejak 2014 lalu. Tapi baru dibuka untuk umum atau resmi menjadi kafe sejak 2021 lalu, saat pandemi sedang gila-gilanya.
Rummah Go'A mulanya adalah kediaman Dik Doang dan keluarga. Rumah tempat mereka berkumpul dengan keluarga dan teman untuk saling bercerita.
Entah angin dari mana, lama-lama rumah yang sebelumnya hanya untuk tempat tinggal, disulap jadi kafe dan tempat nongkrong yang estetik itu.
"Jadi pada 2021 itu katanya, sih, banyak saran karena memang tempatnya nyaman. Jadi dibikin Rummah Go'A. Tapi yang isi menunya dari luar, buka tenant gitu, sampai sekarang," katanya.
Sesuai konsepnya, Dik Doank memang menawarkan kenyamanan dan kebersamaan di kafenya ini. Jadi dia tidak memasang jaringan wifi atau colokan listrik di setiap meja pengunjung.
Konsepnya agar pengunjung bisa menikmati alam dan kebersamaan dengan seseorang yang datang bersama mereka. Konsepnya untuk bercerita dan berbagi suara, bukan termenung dan tenggelam di layar gawai masing-masing.
Simak ulasan tentang Rummah Go'A selengkapnya di halaman berikutnya..
Dari segi makanan, kafe ini tidak terlalu menawarkan menu yang beragam. Harganya pun sebenarnya agak sedikit lebih mahal untuk makanan biasa yang bisa ditemukan di setiap sudut kota dengan harga yang jauh lebih murah.
Dari segi cita rasa juga tampaknya tak ada yang terlalu istimewa. Namun, bukan berarti tidak enak.
Menu-menu yang ditawarkan di kafe ini dimulai dari jajanan atau cemilan seperti kentang goreng, dimsum, keripik kentang balado, hingga berbagai jenis roti bakar.
Sementara untuk makanan berat, ada mi ayam, mi ayam bakso, hingga nasi goreng. Berbagai menu nasi dengan lauk lele, ayam, hingga bebek juga tersedia di sini. Ada juga beberapa menu daging kambing.
"Karena kita sistemnya tenant. Jadi warung-warung makanannya itu beda-beda. Misal yang khusus menu kambing itu 'dapurnya' beda sama yang menu mi, sistemnya tenant aja. Om Dik ada kafe, nanti yang isi tenant dari teman-temannya," jelas Dani.
Namun makanan yang biasa-biasa saja itu tertolong oleh konsep kafe yang terasa nyaman. Tempat ini menawarkan pengalaman bersantai di tengah rerimbunan pohon, laiknya oase di tengah Jakarta yang panas dan penuh polusi.
Meja dan kursi di kafe seolah disusun seenaknya. Tapi, sesuatu yang tampak berantakan itu justru terlihat rapi dan estetik.
Menarik secara visual dan nyaman saat dirasakan. Terutama, karena kafe ini juga rimbun, cocok untuk bersantai saat cuaca panas terik dan berpolusi seperti di Jakarta akhir-akhir ini.
Susunan meja dan kursi di kafe ini berundak. Ada yang letaknya di atas, jadi pengunjung bisa melihat pemandangan stasiun Jurang Mangu lebih dekat. Ada juga yang di bawah dengan posisi yang rimbun oleh pepohonan dan bunga-bungaan. Istilahnya, kafe ini hijau dan coklat.
Hijau dari pepohonan, dan coklat karena semua furniture yang digunakan benar-benar menyatu dengan alam.
Banyak juga pernak-pernik di setiap sudutnya. Di salah satu sisi misalnya, ada perpustakaan mini yang konon buku-bukunya adalah semua buku yang disukai Dik Doank. Buku-buku itu bebas dibaca oleh pengunjung.
Selain sudut perpustakaan mini, sudut lainnya juga jadi museum mini perjalanan karier Dik Doank di dunia hiburan. Banyak foto masa muda Dik Doank dan istrinya terpampang rapi. Di sana juga ada kaos jersey dan beberapa piagam penghargaan milik Dik Doank saat masih aktif di panggung hiburan Indonesia.
Anda juga bisa melihat koleksi televisi jadul berbagai inci yang dipajang sembarangan. Jadi pemandangan tersendiri yang rasanya sulit untuk tak dipandang.
Bagi Anda yang tertarik untuk berkunjung, Rummah Go'A buka setiap hari Senin-Kami dari pukul 10.00-21.00 WIB. Sementara pada hari Jumat, kafe buka setelah salat Jumat hingga pukul 21.00 WIB. Sementara Sabtu dan Minggu buka dari pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
tuuuuut..tuuuut...tuuuut
Suara klakson kereta apidari arah Rangkasbitung menuju Tanah Abang terdengar nyaring. Kereta itu hendak masuk dan berhenti di stasiun Jurang Mangu untuk menaik-turunkan penumpang.
Ya, kereta jadi salah satu pemandangan 'unik' yang bisa dinikmati dari sudut kafe yang letaknya hampir bersisian dengan stasiun kereta Jurang Mangu. Nama kafenya Rummah Go'A, milik aktor kum musisi era 90-an, Dik Doank.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kafe ini memang unik. Konsepnya juga menarik. Terlihat agak berantakan, tapi sebenarnya tertata dengan sempurna.
Mungkin, si empunya memang sengaja membuatnya 'terlihat' berantakan. Agar pengunjung merasa seperti di rumah, alih-alih kafe biasa.
Hal unik lainnya yang bisa ditemukan di kafe ini adalah pintu masuk yang nyaris nyumput--kata dalam bahasa Sunda yang memiliki arti bersembunyi.
Pintu masuk ke kafe ini hampir tidak terlihat. Bukan ukurannya yang kecil, tapi karena rimbun tertutup pohon bambu di kedua sisinya.
Dayung berwarna kuning yang tampak aneh dan tak masuk akal ada di pinggir jalan mungkin jadi satu-satunya yang bikin orang sadar bahwa itu adalah jalan menuju kafe.
Saat masuk, pengunjung akan langsung disuguhkan musala sekaligus pancuran air untuk berwudu. Jadi, bukan meja kasir yang menyambut Anda, melainkan musala yang mengingatkan Anda yang beragama Islam untuk salat lima waktu.
Sesuai namanya, Rummah Go'A memang bukan hanya menyajikan makanan dan tempat yang homey. Kafe ini juga membuat pengunjung tetap ingat Allah SWT saat bersantai, bercengkerama di dalam kafe. Ya, persis namanya, Go'A alias Go to Allah.
"Go'A itu artinya Go to Allah. Memang ini Om Dik [panggilan untuk Dik Doank] membuat kafe yang hangat. Hangat ke manusia, juga hangat ke sang pencipta. Hangat maksudnya lebih dekat gitu pokoknya," kata salah satu pegawai di kafe tersebut, Dani Dwi Saputra (20) saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di lokasi, Senin (14/8).
Rumah keluarga yang disulap jadi tempat bercerita
Sajian sederhana di Rummah Go'A, Ciputat, Tangerang Selatan. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Rummah Go'A terletak di Gang Garuda 1, No. 109 Sawah Besar, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Tak ada akses kendaraan pribadi, apalagi motor untuk menuju ke Rummah Go'A. Bahkan tempat parkir pun tak tersedia di tempat ini.
Pengunjung memang secara tidak langsung diharuskan menggunakan angkutan umum untuk datang ke Rummah Go'A. Cara paling mudah adalah dengan naik kereta, berhenti di Stasiun Jurang Mangu, keluar dan jalan kaki sekitar 500 meter, maka Anda bisa langsung sampai ke Rummah Go'A.
Rummah Go'A sudah ada sejak 2014 lalu. Tapi baru dibuka untuk umum atau resmi menjadi kafe sejak 2021 lalu, saat pandemi sedang gila-gilanya.
Rummah Go'A mulanya adalah kediaman Dik Doang dan keluarga. Rumah tempat mereka berkumpul dengan keluarga dan teman untuk saling bercerita.
Entah angin dari mana, lama-lama rumah yang sebelumnya hanya untuk tempat tinggal, disulap jadi kafe dan tempat nongkrong yang estetik itu.
"Jadi pada 2021 itu katanya, sih, banyak saran karena memang tempatnya nyaman. Jadi dibikin Rummah Go'A. Tapi yang isi menunya dari luar, buka tenant gitu, sampai sekarang," katanya.
Sesuai konsepnya, Dik Doank memang menawarkan kenyamanan dan kebersamaan di kafenya ini. Jadi dia tidak memasang jaringan wifi atau colokan listrik di setiap meja pengunjung.
Konsepnya agar pengunjung bisa menikmati alam dan kebersamaan dengan seseorang yang datang bersama mereka. Konsepnya untuk bercerita dan berbagi suara, bukan termenung dan tenggelam di layar gawai masing-masing.
Simak ulasan tentang Rummah Go'A selengkapnya di halaman berikutnya..
Makanan yang biasa jadi istimewa karena tempat
Rummah Go'A menawarkan kenyamanan untuk bersantai. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Dari segi makanan, kafe ini tidak terlalu menawarkan menu yang beragam. Harganya pun sebenarnya agak sedikit lebih mahal untuk makanan biasa yang bisa ditemukan di setiap sudut kota dengan harga yang jauh lebih murah.
Dari segi cita rasa juga tampaknya tak ada yang terlalu istimewa. Namun, bukan berarti tidak enak.
Menu-menu yang ditawarkan di kafe ini dimulai dari jajanan atau cemilan seperti kentang goreng, dimsum, keripik kentang balado, hingga berbagai jenis roti bakar.
Sementara untuk makanan berat, ada mi ayam, mi ayam bakso, hingga nasi goreng. Berbagai menu nasi dengan lauk lele, ayam, hingga bebek juga tersedia di sini. Ada juga beberapa menu daging kambing.
"Karena kita sistemnya tenant. Jadi warung-warung makanannya itu beda-beda. Misal yang khusus menu kambing itu 'dapurnya' beda sama yang menu mi, sistemnya tenant aja. Om Dik ada kafe, nanti yang isi tenant dari teman-temannya," jelas Dani.
Namun makanan yang biasa-biasa saja itu tertolong oleh konsep kafe yang terasa nyaman. Tempat ini menawarkan pengalaman bersantai di tengah rerimbunan pohon, laiknya oase di tengah Jakarta yang panas dan penuh polusi.
Meja dan kursi di kafe seolah disusun seenaknya. Tapi, sesuatu yang tampak berantakan itu justru terlihat rapi dan estetik.
Menarik secara visual dan nyaman saat dirasakan. Terutama, karena kafe ini juga rimbun, cocok untuk bersantai saat cuaca panas terik dan berpolusi seperti di Jakarta akhir-akhir ini.
Susunan meja dan kursi di kafe ini berundak. Ada yang letaknya di atas, jadi pengunjung bisa melihat pemandangan stasiun Jurang Mangu lebih dekat. Ada juga yang di bawah dengan posisi yang rimbun oleh pepohonan dan bunga-bungaan. Istilahnya, kafe ini hijau dan coklat.
Hijau dari pepohonan, dan coklat karena semua furniture yang digunakan benar-benar menyatu dengan alam.
Banyak juga pernak-pernik di setiap sudutnya. Di salah satu sisi misalnya, ada perpustakaan mini yang konon buku-bukunya adalah semua buku yang disukai Dik Doank. Buku-buku itu bebas dibaca oleh pengunjung.
Selain sudut perpustakaan mini, sudut lainnya juga jadi museum mini perjalanan karier Dik Doank di dunia hiburan. Banyak foto masa muda Dik Doank dan istrinya terpampang rapi. Di sana juga ada kaos jersey dan beberapa piagam penghargaan milik Dik Doank saat masih aktif di panggung hiburan Indonesia.
Anda juga bisa melihat koleksi televisi jadul berbagai inci yang dipajang sembarangan. Jadi pemandangan tersendiri yang rasanya sulit untuk tak dipandang.
Bagi Anda yang tertarik untuk berkunjung, Rummah Go'A buka setiap hari Senin-Kami dari pukul 10.00-21.00 WIB. Sementara pada hari Jumat, kafe buka setelah salat Jumat hingga pukul 21.00 WIB. Sementara Sabtu dan Minggu buka dari pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB