5 Destinasi di Dunia Ini Kelebihan Turis 2023, Jadi Macet dan Tercemar
CNN Indonesia
Minggu, 31 Des 2023 21:21 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Kebangkitan sektor pariwisata pascapandemi Covid-19 membuat beberapa kota di dunia mengalami kelebihan turis, salah satunya kota di Indonesia. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kebangkitan sektor pariwisata pascapandemi Covid-19 membuat beberapa kota di dunia mengalami kelebihan turis, salah satunya kota di Indonesia.
Sektor pariwisata dinilai berkembang pesat pascapandemi. World Travel & Tourism Council bahkan memprediksi sektor pariwisata akan menghasilkan US$9,5 triliun pada 2023.
Angka tersebut meningkat 95 persen dari periode sebelum pandemi.
Lonjakan ini adalah buah manis untuk bisnis dan ekonomi lokal. Namun di sisi lain, lonjakan ini juga membawa pengaruh negatif seperti kebisingan, polusi, lalu lintas, dan tekanan pada sumber daya publik.
Dengan demikian, tak heran jika ada banyak magnet wisata di berbagai belahan dunia yang membatasi kunjungan wisatawan untuk mengatasi fenomena turis berlebih.
Berikut adalah 5 destinasi wisata di dunia yang kelebihan turis sepanjang 2023.
1. Amsterdam, Belanda
Amsterdam meluncurkan sejumlah kampanye dan upaya untuk menekan kunjungan wisatawan, salah satunya dengan membuat kampanye soal konsekuensi perilaku-perilaku buruk turis di Amsterdam. Kampanye ini utamanya ditujukan untuk pelancong pria asal Inggris.
Pada 2024 mendatang, Amsterdam bahkan menerapkan pajak turis tertinggi di Eropa. Berbagai harga akomodasi di Amsterdam juga disebut meningkat selama beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, langkah tersebut tampaknya tak meredam wisatawan untuk datang ke Amsterdam terbebas dari overtourism. Amsterdam diperkirakan tetap bakal jadi 'rumah' bagi para wisatawan hingga 2025.
Bali telah lama menjadi magnet bagi para pelancong mancanegara. Pasca-pandemi Bali juga menghadapi fenomena kelebihan turis.
Gubernur Bali I Wayan Koster bahkan menuliskan daftar hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan turis untuk dilampirkan dalam paspor, di antaranya dilarang mengumpat, menyentuh pohon suci, atau memanjat bangunan.
Selain itu, pelancong asing yang datang ke Bali juga harus membayar pajak sebesar Rp150 ribu terhitung mulai 14 Februari 2024 mendatang.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia Sandiaga Uno menekankan perlunya beralih ke model pariwisata yang lebih berkelanjutan, serta menarik pengunjung yang tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya untuk ekonomi lokal yang lebih besar.
Wisatawan dapat berkunjung ke Bali dengan suasana yang relatif sepi saat musim hujan, seperti pada bulan Oktober-April.
Lanjut ke sebelah...
3. Phuket, Thailand
Pemerintah Thailand mencabut peraturan pembatasan Covid-19 pada Oktober 2022. Tak lama setelah pencabutan tersebut, para wisatawan berbondong-bondong mengunjugi ke Phuket.
Sebuah survei bahkan menyebut Phuket sebagai destinasi paling padat di dunia pada 2023. Jumlah turis di Phuket mencapai 118 orang untuk setiap penduduk lokal.
Meski sering dipuji-puji, tapi tak sedikit juga yang memberikan komentar negatif untuk kota ini. Beberapa netizen mengatakan Phuket terlalu penuh sesak dan tercemar akibat kelebihan turis.
Phuket disebut relatif sepi pada periode Mei-Oktober.
Pada Oktober lalu, Barcelona menutup terminal pelabuhan utara untuk lalu lintas kapal pesiar. Penutupan dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan pemerintah setempat untuk mengalihkan kapal ke wilayah yang lebih jauh dari Barcelona.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengatasi 340 kunjungan kapal pesiar per tahunnya di Barcelona.
Wisatawan disarankan untuk tidak mengunjungi Barcelona pada periode Juli-Agustus. Pasalnya, Barcelona sedang berada di puncak tingkat keramaian pada bulan tersebut.
Venesia menjadi salah satu kota di Eropa yang menghadapi masalah kelebihan turis pada 2023. Overtourism bahkan diperparah dengan turis yang berperilaku buruk.
Merespons masalah tersebut, Italia memberlakukan aturan pada 2024, yakni turis harus membayar biaya pajak harian sebesar 5 euro atau sekitar Rp85 ribu untuk wisatawan yang berusia 15 tahun ke atas. Aturan ini bakal mulai diberlakukan pada April 2024 mendatang.
Biaya ini akan berlaku bagi wisatawan yang tidak menginap, berlaku antara pukul 8.30 pagi hingga 16.00 sore waktu Venesia.
Kebangkitan sektor pariwisata pascapandemi Covid-19 membuat beberapa kota di dunia mengalami kelebihan turis, salah satunya kota di Indonesia.
Sektor pariwisata dinilai berkembang pesat pascapandemi. World Travel & Tourism Council bahkan memprediksi sektor pariwisata akan menghasilkan US$9,5 triliun pada 2023.
Angka tersebut meningkat 95 persen dari periode sebelum pandemi.
Lonjakan ini adalah buah manis untuk bisnis dan ekonomi lokal. Namun di sisi lain, lonjakan ini juga membawa pengaruh negatif seperti kebisingan, polusi, lalu lintas, dan tekanan pada sumber daya publik.
Dengan demikian, tak heran jika ada banyak magnet wisata di berbagai belahan dunia yang membatasi kunjungan wisatawan untuk mengatasi fenomena turis berlebih.
Berikut adalah 5 destinasi wisata di dunia yang kelebihan turis sepanjang 2023.
1. Amsterdam, Belanda
Amsterdam meluncurkan sejumlah kampanye dan upaya untuk menekan kunjungan wisatawan, salah satunya dengan membuat kampanye soal konsekuensi perilaku-perilaku buruk turis di Amsterdam. Kampanye ini utamanya ditujukan untuk pelancong pria asal Inggris.
Pada 2024 mendatang, Amsterdam bahkan menerapkan pajak turis tertinggi di Eropa. Berbagai harga akomodasi di Amsterdam juga disebut meningkat selama beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, langkah tersebut tampaknya tak meredam wisatawan untuk datang ke Amsterdam terbebas dari overtourism. Amsterdam diperkirakan tetap bakal jadi 'rumah' bagi para wisatawan hingga 2025.
Bali telah lama menjadi magnet bagi para pelancong mancanegara. Pasca-pandemi Bali juga menghadapi fenomena kelebihan turis.
Gubernur Bali I Wayan Koster bahkan menuliskan daftar hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan turis untuk dilampirkan dalam paspor, di antaranya dilarang mengumpat, menyentuh pohon suci, atau memanjat bangunan.
Selain itu, pelancong asing yang datang ke Bali juga harus membayar pajak sebesar Rp150 ribu terhitung mulai 14 Februari 2024 mendatang.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia Sandiaga Uno menekankan perlunya beralih ke model pariwisata yang lebih berkelanjutan, serta menarik pengunjung yang tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya untuk ekonomi lokal yang lebih besar.
Wisatawan dapat berkunjung ke Bali dengan suasana yang relatif sepi saat musim hujan, seperti pada bulan Oktober-April.
Lanjut ke sebelah...
Tercemar karena Kelebihan Turis
Venesia menjadi salah satu kota di Eropa yang menghadapi masalah kelebihan turis pada 2023. Overtourism bahkan diperparah dengan turis yang berperilaku buruk. (AFP/ANDREA PATTARO)
3. Phuket, Thailand
Pemerintah Thailand mencabut peraturan pembatasan Covid-19 pada Oktober 2022. Tak lama setelah pencabutan tersebut, para wisatawan berbondong-bondong mengunjugi ke Phuket.
Sebuah survei bahkan menyebut Phuket sebagai destinasi paling padat di dunia pada 2023. Jumlah turis di Phuket mencapai 118 orang untuk setiap penduduk lokal.
Meski sering dipuji-puji, tapi tak sedikit juga yang memberikan komentar negatif untuk kota ini. Beberapa netizen mengatakan Phuket terlalu penuh sesak dan tercemar akibat kelebihan turis.
Phuket disebut relatif sepi pada periode Mei-Oktober.
Pada Oktober lalu, Barcelona menutup terminal pelabuhan utara untuk lalu lintas kapal pesiar. Penutupan dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan pemerintah setempat untuk mengalihkan kapal ke wilayah yang lebih jauh dari Barcelona.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengatasi 340 kunjungan kapal pesiar per tahunnya di Barcelona.
Wisatawan disarankan untuk tidak mengunjungi Barcelona pada periode Juli-Agustus. Pasalnya, Barcelona sedang berada di puncak tingkat keramaian pada bulan tersebut.
Venesia menjadi salah satu kota di Eropa yang menghadapi masalah kelebihan turis pada 2023. Overtourism bahkan diperparah dengan turis yang berperilaku buruk.
Merespons masalah tersebut, Italia memberlakukan aturan pada 2024, yakni turis harus membayar biaya pajak harian sebesar 5 euro atau sekitar Rp85 ribu untuk wisatawan yang berusia 15 tahun ke atas. Aturan ini bakal mulai diberlakukan pada April 2024 mendatang.
Biaya ini akan berlaku bagi wisatawan yang tidak menginap, berlaku antara pukul 8.30 pagi hingga 16.00 sore waktu Venesia.