Menikah Tapi Tidur Terpisah, Apakah Bermanfaat buat Hubungan?

CNN Indonesia
Rabu, 02 Sep 2026 02:00 WIB
Ilustrasi. Banyak pasangan tidur di kasur yang sama. Tapi beberapa pasangan lain memilih tidur terpisah, bahkan dengan kamar yang juga berbeda. (istockphoto/Connect Images/Connect Images)
Jakarta, CNN Indonesia --

Banyak pasangan tidur di kasur yang sama. Tapi beberapa pasangan lain memilih tidur terpisah, bahkan dengan kamar yang juga berbeda.

Survei yang pernah dilakukan oleh Sleep Foundation pada 2023 lalu menemukan, 2 persen orang dewasa berada dalam situasi 'sleep divorce' atau tidur berpisah.

Survei lain terhadap 2.200 warga Amerika Serikat menemukan, 1 dari 5 pasangan tak cuma tidur di kasur yang berbeda, tapi juga kamar terpisah. Dari pasangan yang tidur terpisah itu, hampir dua pertiganya melakukannya setiap malam.

Temuan di atas menimbulkan pertanyaan tentang apakah tidur terpisah dengan pasangan sehat untuk hubungan. Psikolog pernikahan Hope Eliasof mengatakan, jawabannya tergantung pada niat.

"Jika bagi satu pasangan itu berarti mereka akan tidur lebih nyenyak dengan tidur terpisah, itu bagus. Tapi, jika tidur terpisah dilakukan karena misalnya aroma tubuh pasangan yang menjijikan, maka keputusan itu bisa berbeda," ujar Eliasof, mengutip How Stuff Works.

Beberapa pasangan populer sebenarnya telah menerapkan konsep tidur terpisah. Di antaranya David dan Victoria Beckham, Gwyneth Paltrow dan suaminya Brad Falchuk, Donald dan Melania Trump, hingga mendiang Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip.

Alasan pasangan tidur terpisah

Setidaknya, ada beberapa alasan memilih tidur secara terpisah. Berikut di antaranya.

1. Mendengkur

Memiliki pasangan yang mendengkur dapat menurunkan kualitas tidur. Survei yang dilakukan Sleep Foundation menemukan, 47 persen responden perempuan mengaku bahwa dengkuran sangat berdampak besar.

Psychology Today juga menyebut, mendengkur dapat sangat membebani hubungan. Masalah mendengkur sering kali tak cuma menimbulkan kelelahan, tapi juga frustrasi dan kebencian di antara pasangan.

2. Gerak tubuh pasangan

Beberapa orang bergerak dalam tidur tanpa sadar. Bagi orang yang mudah terbangun, kehadiran pasangan dengan tubuh yang lincah saat tidur bisa menjadi hambatan.

Pasangan yang suka merebut selimut juga bisa membuat tidur menjadi tidak menyenangkan.

3. Kebiasaan tidur yang berbeda

Pasangan dengan jadwal tidur berbeda sangat mungkin untuk memilih tidur di kamar terpisah. Hal ini untuk mencegah salah satu pasangan membangunkan pasangan lainnya di waktu yang kurang tepat.

4. Kebutuhan anak

Beberapa anak sedang tidur bersama orang tua. Namun, tiga orang di dalam satu kasur akan terasa sangat penuh.

Akibatnya, banyak orang tua menambahkan tempat tidur ke dalam kamar atau memilih tidur di ruangan berbeda.

Selain di atas, masih banyak faktor-faktor lainnya yang menyebabkan pasangan memilih tidur secara terpisah.

Apakah tidur terpisah bermanfaat untuk hubungan?

Sekali lagi, manfaat 'sleep divorce' akan bergantung pada niat di baliknya. Jika pasangan saling marah atau tidak bahagia, maka tidur terpisah sebenarnya tidak menyelesaikan apa pun.

Tidur terpisah juga dapat menyebabkan masalah emosional, tergantung pada situasinya.

Untuk itu, Eliasof meminta pasangan agar mendiskusikan solusi yang tersedia, yang bisa berdampak positif untuk hubungan. Orang yang biasanya pasrah menerima dengkuran pasangannya cenderung kurang menyukai sleep divorce.

Namun, mereka yang tidak keberatan dengan sleep divorce melaporkan adanya manfaat yang didapat. Masih dari survei yang sama, lebih dari setengahnya mengatakan bahwa tidur terpisah membantu meningkatkan kualitas tidur masing-masing secara keseluruhan, dengan rata-rata tambahan 37 menit setiap malam.

(asr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK