Cerita Penyintas Skizofrenia Katatonik: 'Tubuhku Milik Orang Lain'
Tiara Sutari | CNN Indonesia
Sabtu, 24 Mei 2025 15:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Skizofrenia termasuk golongan gangguan jiwa berat. (iStock/tadamichi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak ada yang benar-benar mempersiapkanmu untuk hari di mana tubuh berhenti menjadi milikmu sendiri.
Sekitar tahun 2018, Stephania Shakila Cornelia terbangun seperti biasa. Selang beberapa detik kemudian, ia sadar ada yang janggal.
Lidahnya tak bisa digerakkan, tubuhnya kaku. Ia mencoba berbicara, berteriak, bahkan sekadar memanggil nama sendiri. Namun, tak ada suara yang keluar. Ia hanya bisa terdiam di atas kasur, tak berdaya, seolah dirinya sendiri telah meninggalkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama 40 menit, ia terperangkap dalam keheningan dan ketakutan. Lumpuh total, namun sadar sepenuhnya.
"Aku enggak ngerti rasanya saat itu, cuma tahu tubuhku berhenti. Kaku, enggak bisa ngomong. Enggak bisa gerak, seperti stroke. Tapi ternyata bukan stroke," kata perempuan usia 33 tahun itu mengawali cerita dan pengalamannya sebagai seorang penyintas skizofrenia kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/5).
Saat dirujuk ke Sanatorium Dharmawangsa, dokter yang menanganinya memilih pendekatan menyeluruh.
Thepi, begitu dia kerap disapa, menjalani berbagai pemeriksaan. Rekam otak, diskusi mendalam, sesi pengamatan perilaku hingga akhirnya sebuah vonis dijatuhkan.
"Kamu mengidap skizofrenia katatonik,"kata dokter yang menanganinya kala itu. Thepi menyambutnya dalam diam.
Kata itu asing tapi cukup menakutkan. Tak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa 'kelumpuhan' itu bukan gangguan saraf motorik, melainkan sebuah gangguan mental yang menyerang fisik, jenis yang disebut kinetik.
"Tremornya parah banget. Aku bahkan susah nulis, susah makan. Tapi waktu itu aku masih maksa kerja," kenangnya.
Thepi mencoba menjalani hari-harinya senormal mungkin. Dia bahkan memilih tetap masuk kerja.
Sayang, ternyata pilihan itu bukan solusi. Pilihan itu malah jadi bencana yang pelan-pelan menjadi bom waktu yang siap meledak.
Kantor justru menjadi panggung dari episode-episode yang tak bisa dia dikendalikan.
Ilustrasi. Skizofrenia katatonik mengacu pada perubahan perilaku ekstrem. (Istockphoto/ CasarsaGuru)
Pernah, ia tertawa selama dua jam tanpa henti. Padahal tak ada yang lucu, tak ada hal yang sedang dibicarakan. Hanya tertawa tiba-tiba di tengah orang-orang sibuk bekerja. Mirip kesurupan.
Air matanya sampai mengalir, bukan karena lucu, tapi karena tubuhnya tidak mau berhenti. Ia tak ingin tertawa, tapi tubuhnya punya kehendak sendiri.
"Itu capek banget. Aku ketawa sampai keringat dingin. Kayak terjebak di tubuh sendiri," kata dia.
Di tengah kekacauan itu, ketakutan datang sebagai tamu harian. Paranoia tumbuh tanpa kendali. Thepi sering merasa diawasi, diikuti, diintai.
Ketakutan-ketakutan itu bahkan membuatnya harus berpindah-pindah kosan hingga tujuh kali dalam waktu dua bulan.
"Aku merasa kayak ada CCTV di kamar, kayak ada yang pasang kamera. Sampai enggak bisa tidur. Akhirnya pindah kos. Terus pindah lagi. Dan lagi. Dan lagi," ujarnya.
Sebagai keluarga Katolik yang konservatif, pemahaman tentang skizofrenia memang masih awam dan jauh. Mereka lebih mengenal istilah 'guna-guna' daripada 'gangguan neurotransmitter'.
Makanya, alih-alih diberi perawatan medis, Thepi justru dibawa ke seorang rubiah, semacam pengobatan spiritual Katolik. Mereka mengira ada makhluk lain yang merasuki tubuhnya.
"Aku enggak tahu ya, tapi waktu itu aku ngerasa memang di dalam diriku ada orang lain," katanya pelan.
"Mungkin itu bagian dari episodenya. Tapi aku ikuti saja semua yang disuruh keluarga, soalnya aku sendiri bingung bedain mana nyata mana enggak," kata dia.
Tentu saja, tak ada hasil yang bisa dipetik. Nihil. Kondisinya justru semakin memburuk.
Simak cerita Thepi selengkapnya di halaman berikutnya..
Setelah berbulan-bulan perjalanan pengobatan spiritual itu dilakukan tanpa hasil apa pun, keluarga akhirnya menyerah.
Thepi dirujuk ke rumah sakit. Alasannya karena bukan hanya semakin memburuk dari segi psikis, fisiknya pun sakit-sakitan. Percobaan bunuh diri berulang membuat tubuhnya kehabisan rona kehidupan.
"Di rumah sakit, dokter menjelaskan perlahan dengan sabar bahwa skizofrenia adalah gangguan medis, bukan sihir, bukan santet," kata Thepi.
Dari situ, hidupnya berubah, Thepi kembali ke Jakarta dan memulai terapi rutin, menjalani pengobatan dengan disiplin.
Dua tahun lamanya, ia mengikuti saran dokter. Menjalani sesi konseling hingga akhirnya dosis obat dikurangi perlahan, lalu dihentikan sepenuhnya.
"Tapi aku masih terapi. Enam bulan sekali, untuk jaga-jaga. Aku juga diajarin teknik nafas, cara kontrol diri. Dan yang penting, support system," kata dia.
Kehidupan yang sempat retak itu mulai tertata kembali potongannya. Pada tahun 2022, ia melahirkan anak pertamanya.
Alih-alih menjadi momen bahagia semata, proses itu justru membawa badai lain.
"Chaos. Mungkin campur baby blues, mungkin karena aku pikir sudah normal. Tapi ternyata enggak. Sampai dengar bisikan, sampai nyoba bunuh diri lagi. Tapi, aku bisa keluar dari itu." kata dia.
Sekarang, Thepi tinggal di Bandung, bersama anak dan ibunya.
Sebagai seorang ibu tunggal, hari-harinya penuh tantangan, tapi juga penuh keteguhan.
"Anakku tumbuh sehat. Aku pelan-pelan belajar jadi ibu. Ya, susah dijelasin, sih. Tapi sekarang aku udah bisa bedain mana nyata mana enggak."
Ilustrasi. Skizofrenia merujuk pada gangguan jiwa berat. (Istockphoto/ CasarsaGuru)
Ia tak lagi mengonsumsi obat, tapi menjaga diri lewat terapi, kontrol emosi, dan dukungan orang-orang terdekat.
Sesekali gejala itu datang menyapa bayangan-bayangan aneh. Tapi ia tak lagi tunduk padanya.
"Beberapa bulan lalu sempat duduk di kamar mandi kontrakan temen, terus lihat simbol-simbol aneh kayak di iPhone. Tapi sekarang aku tahu itu bukan nyata. Dan aku bisa kontrol," kata dia.
Stephania bukan hanya penyintas, dia adalah pejuang. Dalam sunyi yang tak bisa didefinisikan, ia belajar bicara pada dirinya sendiri.
Dalam realita yang kabur, ia menulis ulang kenyataan. Dan dalam kegelapan yang menelan, ia menyalakan cahaya dari dalam.
"Semua tergantung dari support system. Dan keinginan dari diri sendiri," ujarnya mantap.
Hari ini, ia masih melukis, masih menulis. Dan, yang paling penting, ia masih bertahan.
"Aku pernah hampir kehilangan semuanya. Tapi sekarang, aku memilih bertahan. Untuk anakku, untuk diriku," tutupnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak ada yang benar-benar mempersiapkanmu untuk hari di mana tubuh berhenti menjadi milikmu sendiri.
Sekitar tahun 2018, Stephania Shakila Cornelia terbangun seperti biasa. Selang beberapa detik kemudian, ia sadar ada yang janggal.
Lidahnya tak bisa digerakkan, tubuhnya kaku. Ia mencoba berbicara, berteriak, bahkan sekadar memanggil nama sendiri. Namun, tak ada suara yang keluar. Ia hanya bisa terdiam di atas kasur, tak berdaya, seolah dirinya sendiri telah meninggalkannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama 40 menit, ia terperangkap dalam keheningan dan ketakutan. Lumpuh total, namun sadar sepenuhnya.
"Aku enggak ngerti rasanya saat itu, cuma tahu tubuhku berhenti. Kaku, enggak bisa ngomong. Enggak bisa gerak, seperti stroke. Tapi ternyata bukan stroke," kata perempuan usia 33 tahun itu mengawali cerita dan pengalamannya sebagai seorang penyintas skizofrenia kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/5).
Saat dirujuk ke Sanatorium Dharmawangsa, dokter yang menanganinya memilih pendekatan menyeluruh.
Thepi, begitu dia kerap disapa, menjalani berbagai pemeriksaan. Rekam otak, diskusi mendalam, sesi pengamatan perilaku hingga akhirnya sebuah vonis dijatuhkan.
"Kamu mengidap skizofrenia katatonik,"kata dokter yang menanganinya kala itu. Thepi menyambutnya dalam diam.
Kata itu asing tapi cukup menakutkan. Tak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa 'kelumpuhan' itu bukan gangguan saraf motorik, melainkan sebuah gangguan mental yang menyerang fisik, jenis yang disebut kinetik.
"Tremornya parah banget. Aku bahkan susah nulis, susah makan. Tapi waktu itu aku masih maksa kerja," kenangnya.
Thepi mencoba menjalani hari-harinya senormal mungkin. Dia bahkan memilih tetap masuk kerja.
Sayang, ternyata pilihan itu bukan solusi. Pilihan itu malah jadi bencana yang pelan-pelan menjadi bom waktu yang siap meledak.
Kantor justru menjadi panggung dari episode-episode yang tak bisa dia dikendalikan.
Ilustrasi. Skizofrenia katatonik mengacu pada perubahan perilaku ekstrem. (Istockphoto/ CasarsaGuru)
Pernah, ia tertawa selama dua jam tanpa henti. Padahal tak ada yang lucu, tak ada hal yang sedang dibicarakan. Hanya tertawa tiba-tiba di tengah orang-orang sibuk bekerja. Mirip kesurupan.
Air matanya sampai mengalir, bukan karena lucu, tapi karena tubuhnya tidak mau berhenti. Ia tak ingin tertawa, tapi tubuhnya punya kehendak sendiri.
"Itu capek banget. Aku ketawa sampai keringat dingin. Kayak terjebak di tubuh sendiri," kata dia.
Di tengah kekacauan itu, ketakutan datang sebagai tamu harian. Paranoia tumbuh tanpa kendali. Thepi sering merasa diawasi, diikuti, diintai.
Ketakutan-ketakutan itu bahkan membuatnya harus berpindah-pindah kosan hingga tujuh kali dalam waktu dua bulan.
"Aku merasa kayak ada CCTV di kamar, kayak ada yang pasang kamera. Sampai enggak bisa tidur. Akhirnya pindah kos. Terus pindah lagi. Dan lagi. Dan lagi," ujarnya.
Sebagai keluarga Katolik yang konservatif, pemahaman tentang skizofrenia memang masih awam dan jauh. Mereka lebih mengenal istilah 'guna-guna' daripada 'gangguan neurotransmitter'.
Makanya, alih-alih diberi perawatan medis, Thepi justru dibawa ke seorang rubiah, semacam pengobatan spiritual Katolik. Mereka mengira ada makhluk lain yang merasuki tubuhnya.
"Aku enggak tahu ya, tapi waktu itu aku ngerasa memang di dalam diriku ada orang lain," katanya pelan.
"Mungkin itu bagian dari episodenya. Tapi aku ikuti saja semua yang disuruh keluarga, soalnya aku sendiri bingung bedain mana nyata mana enggak," kata dia.
Tentu saja, tak ada hasil yang bisa dipetik. Nihil. Kondisinya justru semakin memburuk.
Simak cerita Thepi selengkapnya di halaman berikutnya..
Cerita Penyintas Skizofrenia Katatonik: 'Tubuhku Milik Orang Lain'
Ilustrasi. Skizofrenia termasuk golongan gangguan jiwa berat. (Istockphoto/ Ericmichaud)
Setelah berbulan-bulan perjalanan pengobatan spiritual itu dilakukan tanpa hasil apa pun, keluarga akhirnya menyerah.
Thepi dirujuk ke rumah sakit. Alasannya karena bukan hanya semakin memburuk dari segi psikis, fisiknya pun sakit-sakitan. Percobaan bunuh diri berulang membuat tubuhnya kehabisan rona kehidupan.
"Di rumah sakit, dokter menjelaskan perlahan dengan sabar bahwa skizofrenia adalah gangguan medis, bukan sihir, bukan santet," kata Thepi.
Dari situ, hidupnya berubah, Thepi kembali ke Jakarta dan memulai terapi rutin, menjalani pengobatan dengan disiplin.
Dua tahun lamanya, ia mengikuti saran dokter. Menjalani sesi konseling hingga akhirnya dosis obat dikurangi perlahan, lalu dihentikan sepenuhnya.
"Tapi aku masih terapi. Enam bulan sekali, untuk jaga-jaga. Aku juga diajarin teknik nafas, cara kontrol diri. Dan yang penting, support system," kata dia.
Kehidupan yang sempat retak itu mulai tertata kembali potongannya. Pada tahun 2022, ia melahirkan anak pertamanya.
Alih-alih menjadi momen bahagia semata, proses itu justru membawa badai lain.
"Chaos. Mungkin campur baby blues, mungkin karena aku pikir sudah normal. Tapi ternyata enggak. Sampai dengar bisikan, sampai nyoba bunuh diri lagi. Tapi, aku bisa keluar dari itu." kata dia.
Sekarang, Thepi tinggal di Bandung, bersama anak dan ibunya.
Sebagai seorang ibu tunggal, hari-harinya penuh tantangan, tapi juga penuh keteguhan.
"Anakku tumbuh sehat. Aku pelan-pelan belajar jadi ibu. Ya, susah dijelasin, sih. Tapi sekarang aku udah bisa bedain mana nyata mana enggak."
Ilustrasi. Skizofrenia merujuk pada gangguan jiwa berat. (Istockphoto/ CasarsaGuru)
Ia tak lagi mengonsumsi obat, tapi menjaga diri lewat terapi, kontrol emosi, dan dukungan orang-orang terdekat.
Sesekali gejala itu datang menyapa bayangan-bayangan aneh. Tapi ia tak lagi tunduk padanya.
"Beberapa bulan lalu sempat duduk di kamar mandi kontrakan temen, terus lihat simbol-simbol aneh kayak di iPhone. Tapi sekarang aku tahu itu bukan nyata. Dan aku bisa kontrol," kata dia.
Stephania bukan hanya penyintas, dia adalah pejuang. Dalam sunyi yang tak bisa didefinisikan, ia belajar bicara pada dirinya sendiri.
Dalam realita yang kabur, ia menulis ulang kenyataan. Dan dalam kegelapan yang menelan, ia menyalakan cahaya dari dalam.
"Semua tergantung dari support system. Dan keinginan dari diri sendiri," ujarnya mantap.
Hari ini, ia masih melukis, masih menulis. Dan, yang paling penting, ia masih bertahan.
"Aku pernah hampir kehilangan semuanya. Tapi sekarang, aku memilih bertahan. Untuk anakku, untuk diriku," tutupnya.