Imajinasi dan Jenaka Koleksi Debut Jonathan Anderson Bareng Dior Men
Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Minggu, 29 Jun 2025 19:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Desainer Jonathan Anderson melakukan debut koleksinya bersama Dior Men, Jumat (27/6). (Arsip Dior)
Jakarta, CNN Indonesia --
Dior Men resmi memasuki babak baru. Jumat (27/6) lalu, rumah mode asal Prancis ini memperkenalkan Jonathan Anderson sebagai direktur kreatif lini pria. Anderson menjadi sosok pertama yang memegang kendali kreatif penuh atas lini busana pria dan wanita Dior secara bersamaan.
Langkah ini bukan sekadar pergantian nama di kursi puncak kreatif. Koleksi debut ini terlihat seperti rekoding ulang identitas Dior Men yang penuh sejarah dan kemewahan, dibaca ulang dengan bahasa baru yang segar, muda, dan imajinatif.
Dibuka dengan blazer berpinggang ramping yang dikenakan tanpa kemeja, berpadu celana culottes kargo dengan siluet seperti pannier, Jonathan Anderson langsung membenturkan formalisme aristokrat dengan spontanitas yang kerap terlihat dipakai para mahasiswa seni. Ia mencampur kemeja kancing rapi dengan celana jin boot cut, atau layering sweter kabel dengan boxer short.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana terlihat dari mood board yang disebarkan Dior sebelum pertunjukan (foto Lee Radziwill dan Jean-Michel Basquiat oleh Andy Warhol), Jonathan Anderson tengah menyusun dialog antara arketipe gaya masa lalu dan masa kini. Ia ingin menangkap gaya sebagai sesuatu yang tidak bisa didefinisikan.
Hasilnya adalah koleksi yang terasa personal, jenaka, dan sangat artsy.
Pertunjukan ini berlangsung di dalam kubah emas Les Invalides, Paris, dalam ruangan intim yang dindingnya nyaris kosong, kecuali beberapa lukisan dari Louvre yang didatangkan khusus pagi itu. Atmosfernya terasa seperti museum yang hening, namun menjadi panggung bagi pelarian penuh imajinasi.
Di tengah keheningan itu, mengalun lagu pembuka "State Trooper" milik Bruce Springsteen.
Anderson mengusung pendekatan yang ia sebut sebagai 'joy in the art of dressing' atau 'kegembiraan dalam berpakaian'.
Ia bermain-main dengan ikonografi Dior: jaket Bar dibuat ulang dalam tweed Donegal khas Irlandia; rok-rok arsip seperti Caprice, Delft, dan Cigale dimaknai ulang dalam siluet pria; dan tote bag ikonik Dior kini hadir dengan sampul buku klasik seperti Les Fleurs du Mal dan In Cold Blood. Bahkan, tas Lady Dior diubah oleh seniman Sheila Hicks berbahan linen murni yang organik dan mengejutkan.
Jonathan Anderson melakukan debut koleksinya bersama Dior Men, Jumat (27/6). (Arsip Dior)
Dari sisi gaya, Anderson tidak segan mencampur dandy Edwardian, pria preppy era pertengahan abad, dan bahkan sedikit nuansa Regency roue dalam celana pendek berlapis ruffle di awal pertunjukan. Ada juga referensi dari label eponimnya, sebuah siluet bow tie tanpa kemeja dan culottes lebar mengingatkan pada koleksi Fall 2013 miliknya sendiri, J.W. Anderson.
Koleksi ini bukan hanya tentang baju, tapi tentang sikap, tentang bagaimana seseorang memilih untuk mempresentasikan dirinya.
Tali sepatu dibiarkan tak terikat, tas disampirkan seenaknya, satu kaki celana digulung, sementara sisi lainnya dibiarkan menjuntai. Ini bukan ketidaksengajaan, melainkan narasi tentang spontanitas dan ekspresi pribadi.
Simak ulasan selengkapnya di halaman berikutnya..
Yang menarik, Jonathan Anderson membawa gaya khas Loewe, brand yang telah ia besut selama lebih dari satu dekade, ke dalam dunia Dior.
Detail seperti overcoat dengan kerah kontras, sandal nelayan yang dipasangkan dengan kaus kaki garis, hingga jaket dengan potongan cropped yang memperlihatkan sedikit kulit adalah kode visual yang akrab di panggung rumah mode asal Spanyol, yang juga bagian dari grup LVMH.
Lebih dari itu, koleksi ini menandai pertemuan lintas budaya dan lintas sejarah. Dior, merek haute couture Prancis yang lahir dari cita rasa aristokrasi Eropa, kini dibaca ulang oleh seorang desainer asal Irlandia dengan pendekatan yang kontemporer dan global. Referensi dari arsip Dior di tahun 1970-an muncul berdampingan dengan gaya jalanan dan semangat DIY generasi Z.
Kehadiran tokoh-tokoh besar seperti Rihanna, Robert Pattinson, hingga Donatella Versace di barisan depan menegaskan bahwa dunia mode tengah menyaksikan sesuatu yang besar.
Jonathan Anderson tidak hanya mendesain pakaian, ia mendesain arah baru bagi Dior Men, sebuah versi pria dari rumah mode yang tidak lagi kaku, melainkan cair, jenaka, dan penuh karakter.
Dalam satu sisi, ini adalah penghormatan terhadap masa lalu. Marc Bohan, desainer Dior terlama, memulai lini pria Dior Monsieur di tahun 1970. Tapi di tangan Anderson, warisan itu dihidupkan kembali dengan semangat masa kini: terbuka, eksperimental, dan tanpa takut untuk menjadi aneh.
Melalui koleksi debut ini, Jonathan Anderson mengajak kita untuk melihat gaya bukan sekadar soal penampilan, tapi sebagai bentuk empati, cara memahami dunia, dan yang terpenting, cara menyenangkan diri sendiri.
Dior Men versi barunya bukan hanya tentang dikotomi maskulinitas/feminisme. Apa saja bisa mungkin.
Jakarta, CNN Indonesia --
Dior Men resmi memasuki babak baru. Jumat (27/6) lalu, rumah mode asal Prancis ini memperkenalkan Jonathan Anderson sebagai direktur kreatif lini pria. Anderson menjadi sosok pertama yang memegang kendali kreatif penuh atas lini busana pria dan wanita Dior secara bersamaan.
Langkah ini bukan sekadar pergantian nama di kursi puncak kreatif. Koleksi debut ini terlihat seperti rekoding ulang identitas Dior Men yang penuh sejarah dan kemewahan, dibaca ulang dengan bahasa baru yang segar, muda, dan imajinatif.
Dibuka dengan blazer berpinggang ramping yang dikenakan tanpa kemeja, berpadu celana culottes kargo dengan siluet seperti pannier, Jonathan Anderson langsung membenturkan formalisme aristokrat dengan spontanitas yang kerap terlihat dipakai para mahasiswa seni. Ia mencampur kemeja kancing rapi dengan celana jin boot cut, atau layering sweter kabel dengan boxer short.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana terlihat dari mood board yang disebarkan Dior sebelum pertunjukan (foto Lee Radziwill dan Jean-Michel Basquiat oleh Andy Warhol), Jonathan Anderson tengah menyusun dialog antara arketipe gaya masa lalu dan masa kini. Ia ingin menangkap gaya sebagai sesuatu yang tidak bisa didefinisikan.
Hasilnya adalah koleksi yang terasa personal, jenaka, dan sangat artsy.
Pertunjukan ini berlangsung di dalam kubah emas Les Invalides, Paris, dalam ruangan intim yang dindingnya nyaris kosong, kecuali beberapa lukisan dari Louvre yang didatangkan khusus pagi itu. Atmosfernya terasa seperti museum yang hening, namun menjadi panggung bagi pelarian penuh imajinasi.
Di tengah keheningan itu, mengalun lagu pembuka "State Trooper" milik Bruce Springsteen.
Anderson mengusung pendekatan yang ia sebut sebagai 'joy in the art of dressing' atau 'kegembiraan dalam berpakaian'.
Ia bermain-main dengan ikonografi Dior: jaket Bar dibuat ulang dalam tweed Donegal khas Irlandia; rok-rok arsip seperti Caprice, Delft, dan Cigale dimaknai ulang dalam siluet pria; dan tote bag ikonik Dior kini hadir dengan sampul buku klasik seperti Les Fleurs du Mal dan In Cold Blood. Bahkan, tas Lady Dior diubah oleh seniman Sheila Hicks berbahan linen murni yang organik dan mengejutkan.
Jonathan Anderson melakukan debut koleksinya bersama Dior Men, Jumat (27/6). (Arsip Dior)
Dari sisi gaya, Anderson tidak segan mencampur dandy Edwardian, pria preppy era pertengahan abad, dan bahkan sedikit nuansa Regency roue dalam celana pendek berlapis ruffle di awal pertunjukan. Ada juga referensi dari label eponimnya, sebuah siluet bow tie tanpa kemeja dan culottes lebar mengingatkan pada koleksi Fall 2013 miliknya sendiri, J.W. Anderson.
Koleksi ini bukan hanya tentang baju, tapi tentang sikap, tentang bagaimana seseorang memilih untuk mempresentasikan dirinya.
Tali sepatu dibiarkan tak terikat, tas disampirkan seenaknya, satu kaki celana digulung, sementara sisi lainnya dibiarkan menjuntai. Ini bukan ketidaksengajaan, melainkan narasi tentang spontanitas dan ekspresi pribadi.
Simak ulasan selengkapnya di halaman berikutnya..
Imajinasi dan Jenaka Koleksi Debut Jonathan Anderson Bareng Dior Men
Desainer Jonathan Anderson melakukan debut koleksinya bersama Dior Men, Jumat (27/6). (Arsip Dior)
Yang menarik, Jonathan Anderson membawa gaya khas Loewe, brand yang telah ia besut selama lebih dari satu dekade, ke dalam dunia Dior.
Detail seperti overcoat dengan kerah kontras, sandal nelayan yang dipasangkan dengan kaus kaki garis, hingga jaket dengan potongan cropped yang memperlihatkan sedikit kulit adalah kode visual yang akrab di panggung rumah mode asal Spanyol, yang juga bagian dari grup LVMH.
Lebih dari itu, koleksi ini menandai pertemuan lintas budaya dan lintas sejarah. Dior, merek haute couture Prancis yang lahir dari cita rasa aristokrasi Eropa, kini dibaca ulang oleh seorang desainer asal Irlandia dengan pendekatan yang kontemporer dan global. Referensi dari arsip Dior di tahun 1970-an muncul berdampingan dengan gaya jalanan dan semangat DIY generasi Z.
Kehadiran tokoh-tokoh besar seperti Rihanna, Robert Pattinson, hingga Donatella Versace di barisan depan menegaskan bahwa dunia mode tengah menyaksikan sesuatu yang besar.
Jonathan Anderson tidak hanya mendesain pakaian, ia mendesain arah baru bagi Dior Men, sebuah versi pria dari rumah mode yang tidak lagi kaku, melainkan cair, jenaka, dan penuh karakter.
Dalam satu sisi, ini adalah penghormatan terhadap masa lalu. Marc Bohan, desainer Dior terlama, memulai lini pria Dior Monsieur di tahun 1970. Tapi di tangan Anderson, warisan itu dihidupkan kembali dengan semangat masa kini: terbuka, eksperimental, dan tanpa takut untuk menjadi aneh.
Melalui koleksi debut ini, Jonathan Anderson mengajak kita untuk melihat gaya bukan sekadar soal penampilan, tapi sebagai bentuk empati, cara memahami dunia, dan yang terpenting, cara menyenangkan diri sendiri.
Dior Men versi barunya bukan hanya tentang dikotomi maskulinitas/feminisme. Apa saja bisa mungkin.
Imajinasi dan Jenaka Koleksi Debut Jonathan Anderson Bareng Dior Men BACA HALAMAN BERIKUTNYA