Machu Picchu Terancam Dicabut dari Status sebagai Keajaiban Dunia
CNN Indonesia
Jumat, 26 Sep 2025 09:45 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Machu Picchu di Peru, salah satu dari tujuh Keajaiban Dunia. (AFP/ERNESTO BENAVIDES)
Jakarta, CNN Indonesia --
Gelombang kerusuhan di dekat gerbang Machu Picchu pada pertengahan September lalu tidak hanya membuat ratusan wisatawan terlantar, tetapi juga memperlihatkan ketegangan yang sudah lama membara antara masyarakat, pejabat pemerintah, dan industri pariwisata setempat.
Insiden ini mempertaruhkan kredibilitas situs warisan dunia tersebut sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Baru.
Krisis dimulai pada 14 September lalu setelah otoritas Peru mengalihkan konsesi bus Machu Picchu dari perusahaan Consettur, yang sudah memegang hak selama 30 tahun, kepada operator lain, San Antonio de Torontoy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir Outside Online, keputusan ini memicu bentrokan antara perusahaan wisata lokal dan menciptakan blokade yang melumpuhkan layanan transportasi. Akibatnya, wisatawan global terdampar di Aguas Calientes, kota terpencil yang menjadi gerbang menuju benteng Inca abad ke-15 tersebut.
Aguas Calientes terletak jauh di bawah Machu Picchu dan terisolasi dari jaringan jalan raya Kota Cusco, sehingga perjalanan kereta api menjadi vital bagi siapa pun yang tidak melakukan pendakian empat hari melalui Jalur Inca yang terkenal.
Bus di Aguas Calientes memungkinkan pelancong kereta menghindari pendakian menanjak sejauh 8 kilometer dengan kenaikan elevasi 714 meter.
Protes terbaru ini, yang bahkan memicu peringatan perjalanan dari Kedutaan Besar AS di Peru, melibatkan penduduk yang memasang balok kayu dan batu di sepanjang rel kereta api yang menghubungkan Aguas Calientes dengan Cusco dan Ollantaytambo, secara efektif memblokir rute utama ke Machu Picchu.
Pemerintah Peru turun tangan untuk menengahi dan berhasil mengevakuasi 1.400 wisatawan. Layanan kereta api dilanjutkan pada 17 September 2025, dan kedua perusahaan bus sepakat melanjutkan operasi di bawah rencana kontingensi.
Otoritas setempat berjanji akan menjamin transparansi dalam pemilihan operator bus permanen dan memberikan dukungan polisi untuk keselamatan wisatawan. Namun, banyak pertanyaan mengenai manajemen jangka panjang situs tersebut masih belum terjawab.
CEO operator tur SA Expeditions Nick Stanziano, menjelaskan bahwa Peru berada di garis tipis antara menghormati bentuk organisasi sosial Pribumi dan menyeimbangkannya dengan struktur modern masyarakat sipil kota serta industri swasta.
Ia menambahkan, konflik terbaru ini mengungkapkan masalah yang lebih dalam. Tumpang tindih kepentingan lokal dan regional terus menyisipkan diri ke dalam manajemen, tanpa keahlian teknis atau perencanaan jangka panjang yang dituntut oleh tanggung jawab semacam itu.
Krisis transportasi ini terjadi pada minggu yang sama ketika organisasi New 7 Wonders of the World merilis pernyataan yang mengklaim bahwa situs tersebut berisiko kehilangan "kredibilitasnya" sebagai keajaiban dunia, yang semakin merusak reputasi internasional Peru sebagai destinasi wisata.
Machu Picchu diakui sebagai salah satu Tujuh Keajaiban Dunia Baru pada tahun 2007, bersama dengan Colosseum (Roma), Petra (Yordania), Taj Mahal (India), Chichén Itzá (Meksiko), Patung Kristus Penebus (Brasil), dan Tembok Besar China, setelah kompetisi global yang menjaring lebih dari 100 juta suara.
Direktur organisasi tersebut, Jean-Paul de la Fuente, pada 13 September lalu mengeluarkan pernyataan yang menyebut Machu Picchu menghadapi tantangan besar yang memerlukan perhatian mendesak, termasuk volume turis yang tinggi, manajemen yang tidak memadai, dan seringnya ketidakamanan.
Ia memperingatkan bahwa jika masalah ini tidak segera ditangani, hal itu dapat "membahayakan kredibilitas Machu Picchu" sebagai salah satu Keajaiban Dunia Baru.
"Situasi di Machu Picchu telah memburuk selama bertahun-tahun, dan kami mengikutinya dengan kekhawatiran... Sayangnya, tidak ada yang terjadi, dan seperti biasa, ketika Anda berpura-pura masalah tidak ada, itu hanya akan semakin buruk," jelas De la Fuente.
Machu Picchu menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1983 dan saat ini tidak terdaftar dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya UNESCO. Pada Pertemuan Komite Warisan Dunia ke-47 pada Juli lalu, Kementerian Kebudayaan Peru berkomitmen untuk meningkatkan pengalaman pengunjung dan mengembangkan alat pemantauan dan konservasi baru.
Pada Agustus 2025, tim ahli lokal dan internasional yang didukung UNESCO mengunjungi situs tersebut untuk meneliti solusi berbasis teknologi untuk manajemen situs dan pariwisata yang bertanggung jawab.
Machu Picchu sendiri telah menjadi lokasi protes sporadis dalam beberapa tahun terakhir. Kerusuhan anti-pemerintah yang penuh kekerasan pada tahun 2023 membuat ratusan wisatawan terlantar dan situs tersebut ditutup selama hampir sebulan, di mana para pengunjuk rasa juga memblokade titik akses ke objek wisata yang terisolasi tersebut.
Jakarta, CNN Indonesia --
Gelombang kerusuhan di dekat gerbang Machu Picchu pada pertengahan September lalu tidak hanya membuat ratusan wisatawan terlantar, tetapi juga memperlihatkan ketegangan yang sudah lama membara antara masyarakat, pejabat pemerintah, dan industri pariwisata setempat.
Insiden ini mempertaruhkan kredibilitas situs warisan dunia tersebut sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Baru.
Krisis dimulai pada 14 September lalu setelah otoritas Peru mengalihkan konsesi bus Machu Picchu dari perusahaan Consettur, yang sudah memegang hak selama 30 tahun, kepada operator lain, San Antonio de Torontoy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir Outside Online, keputusan ini memicu bentrokan antara perusahaan wisata lokal dan menciptakan blokade yang melumpuhkan layanan transportasi. Akibatnya, wisatawan global terdampar di Aguas Calientes, kota terpencil yang menjadi gerbang menuju benteng Inca abad ke-15 tersebut.
Aguas Calientes terletak jauh di bawah Machu Picchu dan terisolasi dari jaringan jalan raya Kota Cusco, sehingga perjalanan kereta api menjadi vital bagi siapa pun yang tidak melakukan pendakian empat hari melalui Jalur Inca yang terkenal.
Bus di Aguas Calientes memungkinkan pelancong kereta menghindari pendakian menanjak sejauh 8 kilometer dengan kenaikan elevasi 714 meter.
Protes terbaru ini, yang bahkan memicu peringatan perjalanan dari Kedutaan Besar AS di Peru, melibatkan penduduk yang memasang balok kayu dan batu di sepanjang rel kereta api yang menghubungkan Aguas Calientes dengan Cusco dan Ollantaytambo, secara efektif memblokir rute utama ke Machu Picchu.
Pemerintah Peru turun tangan untuk menengahi dan berhasil mengevakuasi 1.400 wisatawan. Layanan kereta api dilanjutkan pada 17 September 2025, dan kedua perusahaan bus sepakat melanjutkan operasi di bawah rencana kontingensi.
Otoritas setempat berjanji akan menjamin transparansi dalam pemilihan operator bus permanen dan memberikan dukungan polisi untuk keselamatan wisatawan. Namun, banyak pertanyaan mengenai manajemen jangka panjang situs tersebut masih belum terjawab.
CEO operator tur SA Expeditions Nick Stanziano, menjelaskan bahwa Peru berada di garis tipis antara menghormati bentuk organisasi sosial Pribumi dan menyeimbangkannya dengan struktur modern masyarakat sipil kota serta industri swasta.
Ia menambahkan, konflik terbaru ini mengungkapkan masalah yang lebih dalam. Tumpang tindih kepentingan lokal dan regional terus menyisipkan diri ke dalam manajemen, tanpa keahlian teknis atau perencanaan jangka panjang yang dituntut oleh tanggung jawab semacam itu.
Machu Picchu Diakui sebagai Tujuh Keajaiban Dunia Baru Sejak 2007
Status 7 Keajaiban Dunia yang disandang Machu Picchu terancam dicabut. (Pablo PORCIUNCULA BRUNE / AFP)
Krisis transportasi ini terjadi pada minggu yang sama ketika organisasi New 7 Wonders of the World merilis pernyataan yang mengklaim bahwa situs tersebut berisiko kehilangan "kredibilitasnya" sebagai keajaiban dunia, yang semakin merusak reputasi internasional Peru sebagai destinasi wisata.
Machu Picchu diakui sebagai salah satu Tujuh Keajaiban Dunia Baru pada tahun 2007, bersama dengan Colosseum (Roma), Petra (Yordania), Taj Mahal (India), Chichén Itzá (Meksiko), Patung Kristus Penebus (Brasil), dan Tembok Besar China, setelah kompetisi global yang menjaring lebih dari 100 juta suara.
Direktur organisasi tersebut, Jean-Paul de la Fuente, pada 13 September lalu mengeluarkan pernyataan yang menyebut Machu Picchu menghadapi tantangan besar yang memerlukan perhatian mendesak, termasuk volume turis yang tinggi, manajemen yang tidak memadai, dan seringnya ketidakamanan.
Ia memperingatkan bahwa jika masalah ini tidak segera ditangani, hal itu dapat "membahayakan kredibilitas Machu Picchu" sebagai salah satu Keajaiban Dunia Baru.
"Situasi di Machu Picchu telah memburuk selama bertahun-tahun, dan kami mengikutinya dengan kekhawatiran... Sayangnya, tidak ada yang terjadi, dan seperti biasa, ketika Anda berpura-pura masalah tidak ada, itu hanya akan semakin buruk," jelas De la Fuente.
Machu Picchu menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1983 dan saat ini tidak terdaftar dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya UNESCO. Pada Pertemuan Komite Warisan Dunia ke-47 pada Juli lalu, Kementerian Kebudayaan Peru berkomitmen untuk meningkatkan pengalaman pengunjung dan mengembangkan alat pemantauan dan konservasi baru.
Pada Agustus 2025, tim ahli lokal dan internasional yang didukung UNESCO mengunjungi situs tersebut untuk meneliti solusi berbasis teknologi untuk manajemen situs dan pariwisata yang bertanggung jawab.
Machu Picchu sendiri telah menjadi lokasi protes sporadis dalam beberapa tahun terakhir. Kerusuhan anti-pemerintah yang penuh kekerasan pada tahun 2023 membuat ratusan wisatawan terlantar dan situs tersebut ditutup selama hampir sebulan, di mana para pengunjuk rasa juga memblokade titik akses ke objek wisata yang terisolasi tersebut.