Hati-hati, Berat Badan Bisa Naik 4 Kali Lipat Usai Stop Obat Diet

CNN Indonesia
Sabtu, 10 Jan 2026 14:20 WIB
Riset Oxford ungkap pengguna obat GLP-1 (Ozempic dkk) berisiko kembali ke berat awal dalam 2 tahun jika berhenti tanpa dukungan nutrisi.
Ilustrasi. Hanya mengandalakn obat, berat badan bisa turun tapi juga gampang nailk. (iStock/sorrapong)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penggunaan obat-obatan penurun berat badan golongan glucagon-like peptide-1 (GLP-1) seperti Ozempic, Wegovy, hingga Mounjaro memang tengah menjadi tren global untuk mengatasi obesitas. Namun, sebuah studi terbaru memberikan peringatan keras, berat badan bisa kembali melonjak drastis setelah pengobatan dihentikan.

Riset yang dilakukan oleh University of Oxford dan dipublikasikan dalam jurnal BMJ menemukan bahwa pasien yang berhenti menggunakan obat-obatan ini cenderung kembali ke berat badan asal mereka hanya dalam waktu kurang dari dua tahun.

Hal yang lebih mengejutkan, studi ini mengungkapkan bahwa mereka yang berhenti mengonsumsi obat mengalami kenaikan berat badan hampir empat kali lipat lebih cepat dibandingkan orang yang menurunkan berat badan melalui perubahan pola makan dan aktivitas fisik secara alami.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir EuroNews, Susan Jebb profesor diet dan kesehatan populasi di University of Oxford sekaligus rekan penulis studi tersebut, menjelaskan adanya perbedaan fundamental dalam proses penurunan berat badan tersebut.

"Saat Anda menjalani program diet (alami), Anda harus bekerja keras mengendalikan nafsu makan dan mempelajari strategi untuk menolak makanan," ujar Jebb.

Sebaliknya, obat-obatan GLP-1 bekerja dengan meniru hormon yang menekan rasa lapar secara instan. Ketika bantuan medis ini hilang, tubuh seringkali belum siap secara perilaku maupun biologis untuk menjaga kondisi tersebut.

Berdasarkan analisis terhadap 37 studi yang melibatkan lebih dari 9.000 pasien, tim Oxford memproyeksikan:

• Berat badan: Kembali ke titik awal dalam waktu 1,7 tahun.

• Risiko kesehatan: Penanda risiko diabetes dan penyakit jantung kembali ke level sebelum pengobatan hanya dalam 1,4 tahun.

"Obesitas adalah penyakit kronis yang biasanya kambuh saat pengobatan dihentikan," kata John Wilding, profesor kedokteran dari University of Liverpool.

Ia menyamakan obesitas dengan tekanan darah tinggi atau kolesterol yang butuh penanganan jangka panjang.

Selain risiko berat badan balik (efek yoyo), riset dari University of Cambridge yang diterbitkan di jurnal Obesity Reviews menyoroti bahaya lain yakni penurunan kualitas nutrisi.

Tanpa bimbingan gizi yang tepat, pengguna obat diet berisiko mengalami kekurangan nutrisi dan kehilangan massa otot yang signifikan. Studi ini menyebutkan bahwa massa tubuh tanpa lemak, termasuk otot, dapat mencakup hingga 40 persen dari total berat badan yang hilang selama pengobatan.

"Jika perawatan nutrisi tidak terintegrasi dengan pengobatan, ada risiko kita mengganti satu masalah kesehatan dengan masalah kesehatan lainnya," ungkap Marie Spreckley, penulis utama studi Cambridge.

Kurangnya asupan protein, serat, vitamin, dan mineral akibat nafsu makan yang ditekan secara ekstrem dapat berdampak buruk pada kesehatan jangka panjang.

Para ahli menekankan bahwa obat-obatan ini bukanlah solusi instan yang bisa ditinggalkan begitu saja. Diperlukan dukungan medis dan nutrisi jangka panjang untuk memastikan berat badan yang turun tetap stabil dan tubuh tetap sehat.

Bagi Anda yang sedang atau berencana menggunakan obat penurun berat badan, pastikan untuk tetap mengimbangi dengan edukasi pola makan dan olahraga guna membangun otot serta kebiasaan hidup sehat yang permanen.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]