Jakarta, CNN Indonesia --
Tren olahraga jalan kaki belakangan kian marak, terutama di kalangan anak muda. Media sosial dipenuhi konten jalan santai menyusuri gang-gang kecil hingga kawasan hidden gems yang jarang terjamah kendaraan bermotor.
Fenomena ini muncul sebagai alternatif olahraga yang lebih ringan di tengah citra olahraga lari yang kini dinilai terlalu kompetitif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyambut positif meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas jalan kaki. Menurutnya, jenis olahraga bukan hal utama selama tubuh tetap aktif bergerak secara rutin.
"Bagus dong. Yang penting aktif. Mau olahraga apa pun, lari, jalan kaki, padel, yang penting sesuai anjuran WHO, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari," kata Budi, Senin (19/1), mengutip dari detikhealth.
Budi menegaskan, aktivitas fisik tidak harus selalu berat atau berorientasi pada kompetisi. Selama dilakukan secara konsisten, manfaat kesehatan tetap bisa dirasakan, baik untuk kebugaran fisik maupun kesehatan mental.
Di sisi lain, olahraga lari belakangan kerap dipersepsikan semakin kompetitif. Tidak sedikit pelari yang fokus pada target pace, personal best (PB), podium lomba, hingga konten media sosial.
Kondisi ini membuat sebagian orang merasa tertekan atau enggan memulai olahraga karena takut tidak mampu mengikuti standar tersebut.
Sementara berjalan kaki, mengutip Eating Well, merupakan olahraga dengan dampak lebih rendah dan mudah diakses bagi mereka yang mungkin tidak mampu melakukan aktivitas fisik intensitas tinggi.
Mengutip dari Times of India, berikut beberapa kelebihan jalan kaki dibandingkan lari yang jadi pertimbangan banyak orang.
1. Lebih ramah bagi sendi dibanding lari
Perbedaan paling terlihat antara jalan kaki dan lari terletak pada dampaknya terhadap sendi. Saat berlari, setiap langkah memberi tekanan hingga hampir tiga kali berat badan pada lutut dan pergelangan kaki. Benturan berulang inilah yang kerap memicu nyeri lutut, shin splints, hingga cedera tendon.
Sebaliknya, jalan kaki memberikan manfaat pergerakan tanpa tekanan berlebihan. Aktivitas ini dinilai lebih aman bagi orang dengan masalah lutut, radang sendi, berat badan berlebih, lansia, maupun mereka yang sedang memulai kembali olahraga setelah cedera.
Jalan kaki tetap membantu memperkuat otot dan tulang, namun dengan risiko yang lebih minimal.
Simak kelebihan jalan kaki dibanding lari lainnya di halaman berikutnya..
2. Lebih mudah dilakukan secara konsisten
Lari memang efisien membakar kalori, tetapi tidak semua orang mampu menjalaninya secara konsisten. Rasa lelah berlebihan, nyeri otot, hingga tekanan mental sering membuat rutinitas lari terhenti di tengah jalan.
Berbeda dengan lari, jalan kaki lebih fleksibel dan mudah dilakukan ke dalam aktivitas harian. Bisa dilakukan sebelum sarapan, setelah makan malam, atau di sela jam kerja saat istirahat.
Karena tidak terasa terlalu berat, jalan kaki cenderung minim hambatan. Konsistensi inilah yang membuat dampaknya justru lebih terasa dalam jangka panjang.
3. Lebih menenangkan bagi kesehatan mental
Lari dan jogging memicu respons tubuh seperti detak jantung meningkat, napas memendek, dan fokus pada performa.
Bagi sebagian orang, hal itu menyenangkan. Namun, bagi mereka yang mengalami stres, kecemasan, atau kelelahan mental, intensitas tersebut justru bisa menambah beban.
Jalan kaki menawarkan efek sebaliknya. Aktivitas ini bersifat ritmis dan menenangkan, terutama jika dilakukan di ruang terbuka hijau. Banyak terapis bahkan merekomendasikan sesi 'walk and talk' karena berjalan dapat membantu menurunkan ketegangan sistem saraf dan memperbaiki suasana hati secara alami.
4. Lebih bersahabat bagi metabolisme tertentu
[Gambas:Infografis CNN]
Dari sisi metabolisme, jalan kaki juga memiliki keunggulan tersendiri. Lari membakar kalori lebih cepat, tetapi sering kali diikuti rasa lapar berlebih setelahnya. Tak sedikit pelari yang justru makan lebih banyak setelah olahraga.
Jalan kaki menjaga pembakaran energi tetap stabil tanpa terlalu merangsang nafsu makan. Aktivitas ini membantu mengontrol gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin, terutama jika dilakukan setelah makan.
Oleh karena itu, jalan kaki kerap direkomendasikan bagi penderita diabetes tipe 2, PCOS, atau mereka yang memiliki gangguan hormonal.
5. Lebih inklusif dan mudah diakses
Tidak semua orang memiliki kapasitas paru, stamina, atau kondisi jantung yang memungkinkan untuk berlari. Anak-anak, lansia, penderita asma, orang dalam masa pemulihan, hingga mereka yang lama menjalani gaya hidup sedentari seringkali kesulitan memulai olahraga lari.
Jalan kaki jauh lebih inklusif. Tidak memerlukan peralatan khusus, teknik rumit, atau tempat tertentu.
Kecepatannya pun bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Inilah yang membuat jalan kaki terasa lebih ramah dan tidak mengintimidasi dibanding lari.
Meski demikian, lari tetap memiliki tempat tersendiri. Bagi mereka yang mengejar peningkatan stamina, kecepatan, dan kebugaran kardiovaskular tingkat lanjut, lari bisa menjadi pilihan tepat.
Lari juga cocok bagi orang yang sudah terbiasa berolahraga, memiliki teknik yang baik, serta tidak memiliki riwayat masalah sendi.
Jalan kaki ataupun lari sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh dan tujuan masing-masing. Jalan kaki unggul dari sisi keamanan, keberlanjutan, dan aksesibilitas. Sementara lari unggul dalam intensitas dan efisiensi waktu.