5 Kelebihan Jalan Kaki Dibanding Lari, Kamu Perlu Tahu
2. Lebih mudah dilakukan secara konsisten
Lari memang efisien membakar kalori, tetapi tidak semua orang mampu menjalaninya secara konsisten. Rasa lelah berlebihan, nyeri otot, hingga tekanan mental sering membuat rutinitas lari terhenti di tengah jalan.
Berbeda dengan lari, jalan kaki lebih fleksibel dan mudah dilakukan ke dalam aktivitas harian. Bisa dilakukan sebelum sarapan, setelah makan malam, atau di sela jam kerja saat istirahat.
Karena tidak terasa terlalu berat, jalan kaki cenderung minim hambatan. Konsistensi inilah yang membuat dampaknya justru lebih terasa dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
3. Lebih menenangkan bagi kesehatan mental
Lari dan jogging memicu respons tubuh seperti detak jantung meningkat, napas memendek, dan fokus pada performa.
Bagi sebagian orang, hal itu menyenangkan. Namun, bagi mereka yang mengalami stres, kecemasan, atau kelelahan mental, intensitas tersebut justru bisa menambah beban.
Jalan kaki menawarkan efek sebaliknya. Aktivitas ini bersifat ritmis dan menenangkan, terutama jika dilakukan di ruang terbuka hijau. Banyak terapis bahkan merekomendasikan sesi 'walk and talk' karena berjalan dapat membantu menurunkan ketegangan sistem saraf dan memperbaiki suasana hati secara alami.
4. Lebih bersahabat bagi metabolisme tertentu
Dari sisi metabolisme, jalan kaki juga memiliki keunggulan tersendiri. Lari membakar kalori lebih cepat, tetapi sering kali diikuti rasa lapar berlebih setelahnya. Tak sedikit pelari yang justru makan lebih banyak setelah olahraga.
Jalan kaki menjaga pembakaran energi tetap stabil tanpa terlalu merangsang nafsu makan. Aktivitas ini membantu mengontrol gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin, terutama jika dilakukan setelah makan.
Oleh karena itu, jalan kaki kerap direkomendasikan bagi penderita diabetes tipe 2, PCOS, atau mereka yang memiliki gangguan hormonal.
5. Lebih inklusif dan mudah diakses
Tidak semua orang memiliki kapasitas paru, stamina, atau kondisi jantung yang memungkinkan untuk berlari. Anak-anak, lansia, penderita asma, orang dalam masa pemulihan, hingga mereka yang lama menjalani gaya hidup sedentari seringkali kesulitan memulai olahraga lari.
Jalan kaki jauh lebih inklusif. Tidak memerlukan peralatan khusus, teknik rumit, atau tempat tertentu.
Kecepatannya pun bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Inilah yang membuat jalan kaki terasa lebih ramah dan tidak mengintimidasi dibanding lari.
Meski demikian, lari tetap memiliki tempat tersendiri. Bagi mereka yang mengejar peningkatan stamina, kecepatan, dan kebugaran kardiovaskular tingkat lanjut, lari bisa menjadi pilihan tepat.
Lari juga cocok bagi orang yang sudah terbiasa berolahraga, memiliki teknik yang baik, serta tidak memiliki riwayat masalah sendi.
Jalan kaki ataupun lari sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh dan tujuan masing-masing. Jalan kaki unggul dari sisi keamanan, keberlanjutan, dan aksesibilitas. Sementara lari unggul dalam intensitas dan efisiensi waktu.
(nga/asr)[Gambas:Video CNN]

