China Rhythm Membangun Jembatan Budaya Antara Indonesia dan Tiongkok

Advertorial | CNN Indonesia
Rabu, 21 Jan 2026 13:00 WIB
China Rhythm Membangun Jembatan Budaya Antara Indonesia dan Tiongkok
Foto: Arsip PT Expo Indonesia Jaya
Jakarta, CNN Indonesia --

Musik kembali membuktikan kemampuannya melintasi batas budaya dan geografis. Melalui program pertukaran budaya China Rhythm, alunan musik kontemporer Tiongkok hadir di Big Bang Festival Indonesia dan berhasil menyentuh penonton.

Antusiasme pengunjung terlihat dari respons spontan, mulai dari menari bersama hingga meminta penampilan tambahan (encore).

Program yang digelar pada 24-25 Desember ini menghadirkan band ethno-rock NAMO serta duo neo-tradisional Yu Zijun × Zhang Ziwei.

Kehadiran keduanya memberikan kesempatan langka bagi pengunjung festival untuk menikmati ragam musik Tiongkok masa kini dalam salah satu ajang keluarga akhir tahun terbesar di Indonesia.

Ikatan Terjalin dalam Irama dan Hujan

NAMO tampil di Panggung Big Bang pada 25 Desember. Hujan deras di siang hari sempat menunda jadwal, tetapi hampir tidak mengurangi kerumunan penonton.

Dengan memadukan instrumen tradisional Tiongkok seperti suling bambu dengan irama rock kontemporer, pelopor "Gelombang Baru Tiongkok" asal Beijing ini membuat penonton bergerak mengikuti beat sejak nada pertama.

Suasana memuncak ketika NAMO membawakan "Separuhku", versi Indonesia dari Love Follows Us. Saat band bernyanyi dalam bahasa setempat, suara-suara dari kerumunan penonton bergabung, menciptakan paduan suara spontan yang bergema di venue yang basah oleh hujan.

"Saya selalu percaya pada kekuatan musik untuk menyatukan orang dari berbagai belahan dunia," kata vokalis utama NAMO Liu Xiangsong yang tampak tersentuh.

"Melihat penonton bertahan di tengah hujan hanya untuk berbagi momen ini bersama kami - itu adalah kenangan yang akan saya bawa selamanya," ujarnya menambahkan.

Pada 24 Desember, Yu Zijun × Zhang Ziwei membawa keajaiban berbeda ke Panggung Supernova, di mana musik mereka dengan cepat menemukan penikmatnya.

Duo Gen-Z ini memesona penonton dengan perpaduan unik antara musik tradisional Tiongkok dan suara elektronik modern, memainkan alat-alat langka termasuk mangkuk nyanyi Tibet dan drum shaman.

Saat irama berkembang, anak-anak di depan panggung mulai bertepuk tangan dan menari secara naluriah, sementara orang tua menyaksikan, tersenyum, dan mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen tersebut.

Energi elektrik penampilan langsung dengan cepat menjadi sensasi digital, dengan video di media sosial terkait China Rhythm melampaui 10 juta tampilan saat penggemar membagikan momen favorit mereka secara online.

Melampaui Panggung

Jauh dari panggung, China Rhythm juga menciptakan ruang untuk pertukaran yang lebih tenang. Kedua penampil bertemu secara informal dengan musisi muda lokal dan pecinta musik, berbagi cerita di balik karya mereka dan memperkenalkan instrumen tradisional yang mereka gunakan.

Percakapan santai itu memberikan pandangan yang lebih dekat dan personal tentang bagaimana tradisi musik Tiongkok diinterpretasikan ulang saat ini.

Musisi Indonesia Raynaldo Wijaya mengaku terkesan dengan penampilan tersebut. Ia menilai energi musik yang dibawakan mampu menembus hambatan bahasa dan budaya.

"Penampilannya luar biasa, dan energinya dengan mudah melintasi hambatan bahasa," ujarnya.

Menurutnya, kehadiran program seperti China Rhythm menjadi angin segar bagi ekosistem musik di Indonesia. "Saya sangat bersemangat melihat kancah musik kontemporer Tiongkok di Jakarta. Kami membutuhkan lebih banyak program seperti ini," kata dia.

Sementara itu, Direktur Operasional PT Expo Indonesia Jaya Novry Hetharia mengatakan, China Rhythm menyoroti nilai kolaborasi budaya internasional.

Dengan membawa seniman dari Tiongkok ke festival besar Indonesia, katanya, program ini memperkuat ikatan budaya antara kedua negara sekaligus menawarkan pengalaman yang segar dan beragam, khususnya bagi audiens yang lebih muda.

Disponsori oleh Pusat Komunikasi Budaya Internasional (CICC), China Rhythm berdedikasi untuk memperkenalkan musik Tiongkok orisinal dan sangat dicintai kepada audiens global.

Dengan menempatkan seniman kontemporer Tiongkok di panggung festival internasional besar seperti Big Bang Festival, program ini menunjukkan bagaimana musik dapat berfungsi sebagai bahasa bersama - membangun pengertian, hubungan, dan persahabatan melintasi batas negara.

(adv/adv)