Biar Aman, Dokter Ungkap Syarat Kehamilan di Usia 40-an
Kehamilan di usia 40-an masih dapat dijalani dengan relatif aman apabila perempuan berada dalam kondisi kesehatan yang optimal dan melakukan perencanaan kehamilan secara matang. Meski demikian, secara medis kondisi ini tetap dikategorikan sebagai kehamilan berisiko tinggi.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Andon Hestiantoro menjelaskan, faktor terpenting bukan semata-mata usia, melainkan kesiapan fisik dan kondisi medis ibu sebelum hamil. Perempuan dengan kesehatan yang optimal memiliki peluang lebih besar menjalani kehamilan tanpa komplikasi berat.
"Jika ibu memenuhi kriteria kondisi kesehatan optimal, tidak memiliki penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau gangguan ginjal, maka kehamilan bisa berjalan relatif aman," jelas Andon saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (20/1).
Selain bebas dari penyakit kronis, berat badan ideal juga memegang peran penting. Indeks massa tubuh (body mass index/BMI) yang normal dapat membantu menurunkan risiko diabetes gestasional, tekanan darah tinggi, serta gangguan persalinan yang lebih sering terjadi pada ibu dengan obesitas.
Menurut Andon, terdapat sejumlah gaya hidup sehat yang menjadi faktor pendukung utama agar kehamilan di usia 40-an dapat dijalani dengan relatif aman, antara lain:
• tidak merokok,
• tidak mengonsumsi alkohol,
• menerapkan pola makan bergizi seimbang,
• serta rutin berolahraga.
Stabilitas gaya hidup ini penting untuk membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan besar yang terjadi selama masa kehamilan.
Selain itu, riwayat kebidanan juga menjadi pertimbangan penting. Perempuan yang sebelumnya pernah hamil dan melahirkan secara normal tanpa komplikasi umumnya memiliki risiko lebih rendah dibandingkan mereka yang baru pertama kali hamil di usia 40-an.
Perencanaan kehamilan menjadi kunci utama agar kehamilan di usia 40-an dapat dijalani dengan lebih aman. Andon menekankan pentingnya pemeriksaan sebelum hamil atau preconception care untuk menilai kondisi kesehatan secara menyeluruh.
"Lakukan persiapan yang matang dan konsultasi pra-kehamilan dengan dokter kandungan serta dokter penyakit dalam. Jangan coba-coba hamil tanpa pemeriksaan awal," ujar Andon.
Pemeriksaan pra-kehamilan memungkinkan dokter mendeteksi penyakit tersembunyi, mengevaluasi fungsi organ vital, serta menyusun rencana pemantauan yang sesuai sejak awal.
"Fokus pada optimasi kesehatan sebelum hamil dengan mencapai berat badan ideal, mengendalikan penyakit kronis, serta mengonsumsi asam folat dosis tinggi, biasanya 4-5 mg per hari, minimal satu bulan sebelum konsepsi," tambahnya.
Pada tahap ini, pasangan juga dianjurkan untuk berdiskusi secara terbuka mengenai risiko serta kesiapan menghadapi kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi.
Selama kehamilan berlangsung, komitmen untuk melakukan kontrol rutin menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Ibu hamil di usia 40-an perlu menjalani pemantauan lebih intensif dan mengikuti seluruh skrining yang dianjurkan dokter.
"Pertimbangkan juga aspek finansial dan dukungan keluarga, karena perawatan bisa lebih intensif dan terdapat kemungkinan bayi memerlukan perawatan NICU," kata Andon.
Meski tidak sepenuhnya bebas risiko, kehamilan di usia 40-an tetap dapat dijalani dengan relatif aman apabila dilakukan pada kondisi kesehatan yang tepat, direncanakan secara matang, dan dipantau secara ketat. Dokter menegaskan, keputusan untuk hamil sebaiknya selalu didasarkan pada kesiapan medis dan keselamatan ibu sebagai prioritas utama.
(nga/tis)