GERD dan Henti Jantung, Ada Hubungannya atau Sekadar Mirip?

CNN Indonesia
Senin, 26 Jan 2026 07:15 WIB
Meninggalnya selebgram Lula Lahfah memicu tanya, gerd dan henti jantung apakah ada hubungannya? Dokter jelaskan perbedaan gejala yang sering keliru.
Ilustrasi. Meski gejalanya mirip, tapi GERD tidak akan menyebabkan henti jantung, begitu juga sebaliknya. (Istockphoto/stevanovicigor)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

GERD dan henti jantung apakah ada hubungannya?

Pertanyaan ini ramai diperbincangkan netizen setelah selebgram Lula Lahfah meninggal dunia akibat dugaan henti jantung. Perbincangan kian meluas karena Lula diketahui memiliki riwayat penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD), kondisi yang selama ini dianggap "sekadar asam lambung".

Fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa literasi kesehatan masyarakat masih perlu diperkuat. Banyak orang belum menyadari bahwa gejala GERD dan serangan jantung bisa sangat mirip, dan justru di situlah letak bahayanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejala serangan jantung bisa mirip GERD

Dokter spesialis jantung di Siloam Hospital, Vito Damay dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com menjelaskan bahwa secara klinis, keluhan GERD dan serangan jantung memang dapat tumpang tindih.

Pada GERD, keluhan yang umum dirasakan antara lain:

• Rasa panas atau perih di dada hingga ke leher, atau nyeri di ulu hati

• Keluhan sering muncul saat berbaring atau pada malam hari

• Rasa asam di mulut, mual, bahkan muntah

• Pada sebagian kasus, bisa muncul sesak napas mendadak

Sementara pada serangan jantung, gejalanya meliputi:

• Rasa tidak nyaman di dada yang berat, tertekan, atau seperti ditindih

• Nyeri dapat menjalar ke lengan, leher, rahang, atau punggung

• Disertai keringat dingin, mual hebat, dan sesak napas

"Memang, pada serangan jantung juga bisa muncul nyeri ulu hati dan mual. Itu yang sering membuat orang mengira keluhannya hanya GERD," jelas Vito melalui telepon, Minggu (25/1).

Masalahnya, yang membuat situasi semakin rumit, lanjut Vito, pada sebagian orang terutama perempuan, usia lanjut, dan penderita diabetes serangan jantung tidak selalu muncul sebagai nyeri dada khas.

"Keluhannya bisa hanya seperti maag atau GERD. Ini yang membuat serangan jantung sering terlewat," ujarnya.

Tak jarang, pasien datang terlambat ke rumah sakit karena menganggap keluhan yang dirasakan sebagai masalah lambung biasa.

Di masyarakat juga beredar anggapan bahwa jika nyeri ulu hati terasa sakit saat ditekan, berarti itu GERD, bukan jantung. Menurut Vito, anggapan ini ada benarnya, tetapi tidak bisa dijadikan patokan mutlak.

"Nyeri karena GERD memang sering terasa saat perut bagian atas ditekan. Tapi untuk memastikan, tetap perlu pemeriksaan klinis dan EKG," kata dia.

Bahkan, ada kondisi di mana GERD dan serangan jantung terjadi bersamaan. Seseorang bisa saja memiliki riwayat maag menahun, namun pada saat yang sama juga mengalami sumbatan pembuluh darah jantung.

GERD tidak menyebabkan henti jantung

Di tengah ramainya diskusi publik, Vito menegaskan satu hal penting, yakni GERD dan penyakit jantung adalah dua kondisi yang berbeda.

"GERD tidak menyebabkan sumbatan jantung, dan sumbatan jantung tidak menyebabkan GERD. GERD juga tidak menyebabkan henti jantung," tegasnya.

Sebaliknya, serangan jantunglah yang bisa berujung pada henti jantung jika tidak ditangani dengan cepat. Karena itu, masyarakat diminta tidak serta-merta menganggap keluhan nyeri dada atau ulu hati sebagai GERD, terutama jika gejalanya mengarah ke masalah jantung.

Kapan harus waspada dan segera periksa?

Nyeri ulu hati patut dicurigai sebagai kondisi serius bila muncul bersamaan dengan:

• Keringat dingin

• Mual hebat atau muntah

• Sesak napas

Risiko semakin tinggi jika seseorang memiliki faktor seperti tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes, kolesterol tinggi, atau riwayat merokok.

"Lebih aman segera periksa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu," ujar Vito.

Kasus yang ramai dibicarakan publik ini kembali menegaskan pentingnya edukasi kesehatan. GERD dan henti jantung apakah ada hubungannya? Jawabannya tidak secara langsung. Namun, kemiripan gejala bisa berakibat fatal jika masyarakat keliru menilai dan menunda pemeriksaan.

"Pesannya sederhana, lebih baik dibilang 'cuma GERD' setelah diperiksa dokter, daripada menyesal karena terlambat menangani serangan jantung," katanya.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]