Bayi yang Miliki Bakteri Ini Bisa Kebal terhadap Asma dan Alergi

CNN Indonesia
Jumat, 27 Mar 2026 10:45 WIB
Ilustrasi. Menurut penelitian terbaru, bifidobacterium ternyata dapat turunkan risiko asma dan alergi pada bayi. (iStockphoto/wildpixel)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penelitian terbaru dari Denmark Technical University (DTU) menemukan, zat tertentu yang diproduksi bifidobacterium dapat menurunkan risiko asma dan alergi pada bayi.

Bakteri ini merupakan salah satu genus bakteri asam laktat yang hidup dalam usus besar manusia dan hewan. Probiotik ini biasanya berperan dalam pencernaan, penyerapan nutrisi, hingga mendukung sistem imun.

Penelitian terbaru menunjukkan, bayi yang dikolonisasi sejak dini dengan jenis bifidobacterium tertentu, cenderung lebih kebal terhadap asma dan alergi. DTU bahkan sudah mematenkan penemuan baru ini.

Zat dari bifidobacterium yang turunkan risiko asma dan alergi

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Microbiology pada Januari 2026 ini, dapat secara signifikan mencegah asma dan alergi. Pasalnya, kedua kondisi tersebut merupakan penyakit kronis yang umum terjadi pada anak-anak.

"Jika kita dapat menerjemahkan pengetahuan ini ke dalam strategi pencegahan, misalnya melalui suplemen probiotik atau susu formula bayi yang diperkaya, ini akan menjadi langkah maju yang besar," tutur Susanne Brix Pedersen, pemimpin penelitian sekaligus profesor bioengineering di DTU, seperti dikutip dari SciTechDaily.

Penelitian Pedersen dkk. ini melibatkan 147 bayi yang baru lahir hingga usia lima tahun. Data yang diambil, mencakup tiga kohort kelahiran besar di Swedia, Jerman, dan Australia.

Berdasarkan pengamatan, bayi yang memiliki banyak bifidobacterium sejak dini, mendapatkan manfaat dari metabolit yang diproduksi mikroba ini.

Salah satu senyawa tersebut, yakni 4-hydroxyphenyl lactate (4-OH-PLA). Senyawa ini mengurangi reaksi berlebihan imunitas tubuh terhadap alergen.

Dalam uji coba laboratorium menggunakan sel imun manusia, 4-OH-PLA ini mengurangi produksi imunoglobulin E (IgE). Ini merupakan antibodi yang memiliki peran sentral dalam reaksi alergi.

Ketika bertemu alergen, antibodi IgE mengaktifkan sel imun yang memicu gejala gatal, eksim, demam, dan asma dalam beberapa kasus. Makin tinggi IgE, makin tinggi pula risiko penyakit alergi.

Namun keberadaan 4-OH-PLA membuat produksi antibodi IgE menurun hingga 60 persen di dalam tubuh, tanpa memengaruhi produksi jenis antibodi lainnya.

Dari mana bifidobacterium ini diperoleh?

Spesialis imunologi sistem di DTU Bioengineering, Rasmus Kaae Dehli, mengungkapkan bahwa bifidobacterium bisa diperoleh bayi dengan cara-cara natural.

Bayi yang lahir secara normal melalui vagina 14 kali lebih mungkin tertular bakteri ini.

"Pemberian ASI eksklusif dan kontak dengan anak-anak kecil lainnya selama masa kanak-kanak, juga berkontribusi pada peningkatan jumlah bifidobacterium di usus," ujar Dehli.

Sayangnya, gaya hidup kita membuat bifidobacterium jadi jauh lebih langka. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah-langkah lain untuk membantu bayi terkolonisasi oleh bakteri ini.

Para peneliti melihat adanya potensi dalam mengembangkan suplemen makanan untuk para ibu yang sedang menyusui. Cara lain, memperkaya susu formula bayi dengan bifidobacterium atau metabolitnya.

Dengan catatan, berbagai suplemen ini berfungsi sebagai pencegahan. Ibu yang sedang menyusui atau bayi perlu mendapatkan asupan ini pada bulan-bulan awal kelahiran, ketika sistem kekebalan tubuh bayi sedang terbentuk.

Adapun untuk pengobatan pasien asma dan alergi, masih diperlukan pembuatan formulasi baru dan uji klinis. Proses ini bisa makan waktu hingga 10 tahun.

(rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK