Seperempat Pekerja RI Overwork, Ini Dampaknya bagi Kesehatan

CNN Indonesia
Rabu, 11 Feb 2026 13:30 WIB
Sebanyak 25,47 persen pekerja Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Overwork berisiko memicu gangguan fisik dan mental.
Ilustrasi. Kerja overtime banyak dialami pekerja di Indonesia, sayangnya ini berdampakan buruk untuk kesehatan. (Getty Images/GoodLifeStudio)
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena jam kerja panjang masih menjadi bagian dari keseharian banyak pekerja di Indonesia. Data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025 menunjukkan, sebagian pekerja menghabiskan waktu kerja jauh melampaui batas wajar.

Berdasarkan data tersebut, sebanyak 25,47 persen penduduk bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Artinya, sekitar satu dari empat pekerja di Indonesia masuk kategori bekerja berlebihan atau overwork.

Dalam catatan BPS, jumlah pekerja di Indonesia mencapai 146,54 juta orang. Dari distribusi jam kerja, mayoritas pekerja berada pada rentang 35-48 jam per minggu, yakni sebesar 40,43 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Durasi ini setara dengan sekitar 7 hingga hampir 10 jam kerja per hari dalam skema lima hari kerja.

Sementara itu, pekerja dengan jam kerja relatif lebih pendek, yakni 1-34 jam per minggu, tercatat sebesar 32,68 persen. Sisanya, 1,42 persen penduduk berada dalam kategori tidak bekerja atau 0 jam kerja.

Berikut gambaran distribusi jam kerja pekerja Indonesia:

• Jam kerja 1-34 jam per minggu: 32,68 persen

• Jam kerja 35-48 jam per minggu: 40,43 persen

• Jam kerja lebih dari 49 jam per minggu: 25,47 persen

• Tidak bekerja/0 jam: 1,42 persen

Dari sisi usia, kelompok usia produktif menjadi penyumbang terbesar pekerja dengan jam kerja berlebih. Kelompok usia 35-44 tahun tercatat paling dominan, dengan sekitar 9,5 juta orang bekerja lebih dari 49 jam per minggu.

Posisi berikutnya ditempati kelompok usia 25-34 tahun sebanyak 8,71 juta orang, disusul usia 45-54 tahun sekitar 8,38 juta pekerja yang menjalani jam kerja sangat panjang.

Efek overwork pada tubuh

Bekerja terlalu lama bukan hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga kesehatan fisik dan mental. Dikutip dari Cleveland Clinic, kerja berlebihan dalam jangka panjang dapat memaksa tubuh dan pikiran melampaui batas kemampuannya.

Sejumlah dampak kesehatan yang dapat muncul antara lain infeksi yang sering terjadi akibat sistem kekebalan tubuh melemah, gangguan kesehatan mental seperti depresi, gangguan kognitif berupa brain fog, hingga masalah kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi dan jantung berdebar.

Selain itu, overwork juga kerap berkaitan dengan gangguan tidur, perubahan berat badan dan nafsu makan, meningkatnya risiko cedera dan kecelakaan, hingga kecenderungan penyalahgunaan alkohol atau zat adiktif.

National Geographic mencatat, kerja berlebihan dapat memicu stres berkepanjangan yang berdampak langsung pada tubuh. Stres ini meningkatkan kadar kortisol, memengaruhi gula darah, serta mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Jika berlangsung lama dan menjadi kronis, kondisi tersebut dapat memicu berbagai penyakit, mulai dari sakit kepala, gangguan pencernaan, kecemasan, depresi, hingga penyakit jantung, stroke, dan gangguan tidur.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa lembur atau overtime sejatinya tidak selalu berisiko bagi kesehatan, selama pekerja masih mampu menjaga keseimbangan hidup.

Menurutnya, asupan gizi yang baik, aktivitas fisik yang cukup, serta waktu istirahat yang memadai menjadi kunci agar tubuh tetap mampu beradaptasi.

"Yang pasti kan tubuh kita butuh mekanisme untuk menjaga metabolisme, jadi kalau misalnya asupan gizi kita baik, work life balance, olahraganya tetap ada, itu aman," ujarnya saat ditemui di Kementerian Kesehatan RI, Selasa (27/1) mengutip Detik.

Namun, ia mengingatkan bahwa tubuh yang terus dipaksa bekerja tanpa cukup istirahat berisiko mengalami gangguan metabolisme. Dalam beberapa kasus, kurang tidur dan kelelahan berkepanjangan dapat memicu peningkatan tekanan darah maupun gula darah.

"Kalau overtime sudah berlebihan, tensi bisa naik, gula darah bisa naik karena metabolisme kita terganggu. Kalau ini berlangsung lama, bisa berpotensi menjadi penyakit jantung dan stroke, karena semua berawal dari terlalu capek," kata dr Nadia.

Karena itu, ia menekankan pentingnya setiap orang mengenali sinyal yang dikirimkan tubuh. Rasa lelah yang tak kunjung hilang, pusing berulang, hingga gangguan tidur bisa menjadi tanda bahwa tubuh sudah melewati batas toleransinya.

"Selama tubuh masih bisa beradaptasi, tidak apa-apa. Tapi kalau sudah ada sinyal bahaya, itu harus segera disadari dan ditangani," pungkasnya.

(tis/tis)


[Gambas:Video CNN]