3 Kebiasaan yang Menyebabkan Mata Silinder, Kenali Pemicunya

CNN Indonesia
Minggu, 01 Feb 2026 05:45 WIB
Ilustrasi. Mata silinder membuat penglihatan kabur atau berbayang. Kenali kebiasaan apa saja yang menyebabkan mata silinder. (iStockphoto/ RobertBreitpaul)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mata silinder atau astigmatisme merupakan salah satu jenis gangguan pada indra penglihatan. Kondisi ini membuat penglihatan tak optimal karena objek terlihat kabur atau berbayang.

Akibatnya, aktivitas harian seperti membaca, bekerja di depan layar, sampai berkendara pada malam hari pun dapat terasa kurang nyaman.


Mata silinder sendiri merupakan kelainan refraksi akibat kelengkungan kornea mata yang tak merata. Normalnya, kornea berbentuk bulat, tetapi pada mata silinder, kornea cenderung oval mirip telur.

Kondisi tersebut membuat cahaya yang masuk ke mata tak jatuh pada satu titik fokus sehingga gambar terlihat kurang jelas.

Selain penglihatan kabur atau berbayang, gejala lain dari mata silinder antara lain garis lurus tampak bengkok serta mata lebih sensitif terhadap cahaya, terutama pada malam hari.

Tidak sedikit orang yang menganggap keluhan tersebut sebagai hal biasa, padahal kondisi ini dapat mengganggu kualitas penglihatan dalam jangka panjang.

Dalam banyak kasus, silinder bukan karena dipicu faktor bawaan. Ada beberapa kebiasaan yang menyebabkan mata silinder dan kerap dilakukan tanpa disadari.


Kebiasaan yang menyebabkan mata silinder

Ilustrasi. Kebiasaan yang menyebabkan mata silinder. (iStock/PeopleImages)

Melansir laman Eyecare Centre, berikut beberapa penyebab atau kebiasaan yang menyebabkan mata silinder.

1. Trauma mata

Trauma pada mata yang karena kecelakaan atau cedera, secara langsung dapat memicu perubahan bentuk kornea atau lensa. Kondisi tersebut dapat menimbulkan astigmatisme atau memperberat silinder yang sudah ada.

Itu karena benturan langsung pada area mata berpotensi menimbulkan jaringan parut atau ketidakteraturan permukaan kornea. Perubahan itu memengaruhi kelengkungan mata dan berdampak pada fokus penglihatan.


2. Faktor genetik

Faktor genetik memiliki peran penting dalam perkembangan mata silinder. Anak dengan orang tua yang memiliki riwayat astigmatisme memiliki risiko lebih besar mengalami kondisi serupa.

Walau begitu, faktor keturunan tidak selalu menjadi satu-satunya penentu. Kondisi mata tetap dapat dipantau sejak usia dini melalui pemeriksaan rutin.

Anda dapat mendeteksi lebih awal dengan memeriksakan ke dokter agar mata silinder tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari.


3. Faktor gaya hidup

Gaya hidup modern berkaitan erat dengan kesehatan mata. Paparan layar digital sejak usia dini, khususnya pada anak prasekolah, dikaitkan dengan risiko gangguan refraksi termasuk silinder.

Aktivitas jarak dekat dalam waktu lama, seperti menatap gawai atau membaca tanpa jeda, membuat mata bekerja lebih keras untuk mempertahankan fokus.

Selain itu, kebiasaan menunda pemeriksaan mata atau tidak menggunakan kacamata sesuai resep dapat memperburuk kondisi silinder yang telah ada.

Tanpa penanganan yang tepat, kualitas penglihatan yang menderita silinder dapat terus menurun secara perlahan.


Kapan harus memeriksakan mata ke dokter?

Pada sebagian orang, mata silinder terasa ringan. Namun, kondisi ini dapat terasa mengganggu saat keluhan muncul lebih intens. Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:

Saat keluhan tersebut dirasakan, langkah terbaik ialah berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat atau dokter mata.

Pemeriksaan sejak awal membantu mengetahui kondisi mata secara menyeluruh serta menentukan penanganan yang tepat.

Itulah beberapa kebiasaan yang menyebabkan mata silinder. Semoga bermanfaat!

(san/fef)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK