Jangan Tunggu Haus, Ini Waktu Ideal Minum Air Putih
Seberapa sering tubuh perlu terhidrasi setiap hari? Pertanyaan ini kerap dianggap sepele, padahal asupan cairan memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan metabolisme, fungsi organ, hingga kemampuan konsentrasi.
Dokter spesialis penyakit dalam, Cynthia Natalia menjelaskan bahwa kurang minum air putih bukan cuma memicu rasa haus. Justru, dampaknya bisa memengaruhi kinerja tubuh secara menyeluruh.
"Kurang minum air putih bukan hanya merasa haus, tapi juga berdampak pada kinerja tubuh secara menyeluruh," ujar Cynthia dalam keterangan tertulis, Kamis (30/1).
Menurut Cynthia, tubuh memang masih mampu beradaptasi ketika tidak terhidrasi dalam satu jam pertama. Namun, kadar cairan perlahan mulai menurun.
Pada tahap ini, produksi air liur berkurang sehingga mulut terasa kering, sementara otak mulai mengirimkan sinyal haus. Pada fase ini, konsentrasi juga bisa sedikit menurun, terutama jika seseorang beraktivitas fisik atau berada di ruangan ber-AC.
Efek dehidrasi ringan akan lebih terasa jika tubuh tidak mendapatkan asupan cairan selama tiga jam. Beberapa orang mulai mengalami sakit kepala ringan, rasa lelah, hingga sulit fokus.
Kulit pun dapat terasa lebih kering, dan warna urine menjadi lebih pekat, yang menjadi tanda awal tubuh kekurangan cairan.
"Kebiasaan kurang minum air putih dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti batu ginjal akibat penumpukan mineral yang tidak terlarut dengan baik, serta gangguan konsentrasi dan kelelahan kronis, terutama pada pekerja aktif dan lansia," ujar Cynthia.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa konsumsi air minum idealnya dilakukan setiap satu hingga dua jam sekali untuk mencegah dampak buruk dehidrasi, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Menjaga tubuh tetap terhidrasi bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga konsistensi.
Namun, kebiasaan minum yang baik juga perlu dibarengi dengan pemilihan jenis air minum yang tepat. Air minum berkualitas menjadi faktor penting untuk menunjang kesehatan tubuh secara optimal.
Bukan sembarangan air
Penelitian yang dilakukan Bint-E-Zahra, ahli biologi molekuler dari Institute of Molecular Biology & Biotechnology, Bahauddin Zakariya University, Pakistan, menunjukkan bahwa konsumsi minuman berperasa dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik.
Dalam penelitian yang diterbitkan di National Journal of Health Sciences pada 2019, Bint-E-Zahra menyebutkan bahwa konsumsi air minum murni dapat menurunkan risiko penurunan fungsi ginjal hingga 11 persen dibandingkan dengan minuman berperasa dan bergula.
"Air minum murni berperan penting dalam menjaga fungsi ginjal dan metabolisme tubuh," tulisnya dalam riset tersebut.
Sejalan dengan hal itu, Astrid Adelaide Siregar, Head of Marketing Amidis, menjelaskan pentingnya mengonsumsi air yang telah melalui proses multifiltrasi dan distilasi. Menurutnya, proses tersebut menghasilkan air murni yang aman untuk memenuhi kebutuhan hidrasi harian.
"Proses multifiltrasi dan distilasi merupakan teknologi keamanan ekstra untuk menjaga ginjal. Uap air yang dihasilkan benar-benar murni untuk dikonsumsi karena tidak ada kontaminan apapun," ujarnya.
(tis/tis)