Memaknai Syukur dengan Mengenali Siapa Pemberi Nikmat
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita lupa untuk bersyukur atas nikmat yang Allah SWT telah berikan kepada kita. Padahal, mengingkari nikmat itu merupakan perbuatan tercela.
Orang yang mengingkari nikmat, berarti tidak mensyukuri apa yang telah Allah berikan, dan hal tersebut mencerminkan rendahnya jiwa seseorang.
Lihat Juga :![]() Kultum Kemuliaan Ramadan Tanda Makrifat Orang yang Taat Akan Terlihat secara Lahiriah |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa kita itu tidak mensyukuri nikmat? Karena kita tidak mengenal sebenarnya... siapa yang memberi kita nikmat itu," ujar ulama sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia.
Mengutip dari Syekh Nawawi, Ma'ruf menjelaskan ada tiga jenis orang yang menerima nikmat. Pertama, orang yang ghafil. Kedua, orang yang mutawasith. Ketiga, orang yang arif atau kamil.
Orang yang ghafil atau lupa, hanya melihat nikmat dari sisi lahiriah saja, tanpa menyadari bahwa nikmat itu berasal dari Allah.
Ia merasa segala yang didapat adalah hasil usaha sendiri. Akibatnya, ia tidak pernah teringat atau berterima kasih kepada Sang Pemberi.
Orang kedua, yakni mutawasith, yang menyadari nikmat berasal dari Allah, tetapi masih fokus pada nikmat itu sendiri. Ia tahu Allah sebagai pemberi, tetapi rasa syukurnya hanya sampai pada penggunaan nikmat tersebut.
"Kalau kita tahu siapa itu yang memberi kita, yang berbuat baik, pasti kita akan mencintai dia. Begitu juga kalau kita tahu bahwa nikmat itu Allah berikan kepada kita, maka kita akan mencintai Allah," tutur Ma'ruf.
Adapun orang yang ketiga, Ma'ruf katakan sebagai orang yang hebat sekali, yakni orang arif. Ia tidak terpaku pada nikmat yang diterima, tetapi pada siapa yang memberinya.
Orang arif pun tidak risau jika nikmat itu hilang, karena hatinya bertumpu pada kecintaan kepada Allah. Ia selalu ingin berterima kasih dan berbuat baik kepada Allah, bukan hanya menikmati nikmat semata.
Terkait jenis-jenis orang yang menerima nikmat ini, Imam Al-Ghazali memberikan ilustrasi yang lebih konkret dengan kisah seorang raja yang memberi kuda kepada tiga orang.
Orang yang pertama hanya senang dengan kudanya tanpa peduli siapa pemberinya. Adapun orang kedua senang karena kudanya berasal dari raja, bukan dari orang lain.
Kemudian orang yang ketiga, ia senang karena kudanya bisa digunakan untuk mendekatkan diri kepada raja, bukan hanya karena kudanya semata. Ia cenderung menggunakan kuda tersebut untuk menjalankan tugas dari raja.
Tujuannya, agar lebih dekat kepada raja dan nantinya mendapat kedudukan, menteri misalnya. Namun ketimbang kedudukan itu sendiri, ia lebih memilih ingin dekat dengan raja.
"Andaikata dia disuruh milih [menjadi] menteri [tetapi] tidak dekat dengan raja, atau dekat dengan raja tapi tidak jadi menteri, dia lebih memilih dekat dengan raja walaupun tidak jadi menteri," tutur Ma'ruf.
Dari sini, kita belajar bahwa syukur bukan hanya sekadar menikmati nikmat, tetapi juga mengenali dan mencintai Sang Pemberi nikmat, yaitu Allah SWT. Syukur sejati adalah menggunakan nikmat sesuai kehendak-Nya dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.
(rti) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
