Kisah Menyentuh Pendaki Selamatkan Anak Kucing Tersesat di Hutan
Cerita menarik dan menyentuh hati datang dari jalur pendakian Te Araroa, Selandia Baru. Seorang pendaki wanita menemukan kucing tersesat dalam petualangannya dan menggendongnya selama tiga hari demi membawa hewan itu keluar dari hutan.
Wanita itu bernama Katie Evans, pendaki asal Cheltenham, Inggris. Ia sebenarnya sudah memulai pendakiannya di Te Araroa sejak awal November 2025. Namun, pada pertengahan Januari 2026, ketika ia sedang mendaki, seekor hewan kecil memberinya pengalaman tak terlupakan.
Awalnya, hari itu pendakian Evans berjalan biasa saja, sampai di tengah jalan matanya menangkap sesuatu. Ia berhenti di dekat Danau Sumner, matanya menyipit melihat seekor anak kucing berwarna hitam.Kucing kecil itu bersembunyi di sela-sela batang kayu dan akar pohon, wajah polosnya terus memperhatikan Evans dengan hati-hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Satu kilometer melewati (Danau Sumner) di hutan yang dalam ini, anak kucing hitam ini tiba-tiba saja muncul. Saya merasa, 'baiklah, itu tidak biasa'," cerita Evans, dikutip Stuff.
Melihatnya, Evan langsung perang batin. Ia dilema karena di Selandia Baru ada aturan ketat mengenai satwa liar dan kucing dianggap sebagai predator yang mengancam keanekaragaman hayati. Namun, sebagai pecinta binatang, hatinya tak tega meninggalkan kucing itu sendirian.
Evans melirik sekitar, berharap ada induk kucing yang menghampiri anak malang itu. Setelah 40 menit menunggu sambil berpikir keras, akhirnya ia memutuskan untuk mengajak kucing hitam ikut bersamanya.
Dia mencoba meraihnya melalui batang kayu. Kucing kecil mengeong pelan, dengan cepat Evans angkat ke pelukannya menggunakan sehelai handuk yang semoga cukup untuk menghangatkan tubuh mungilnya.
Anak kucing itu digendongnya menggunakan satu tangan dan membawa ersamanya untuk trekking, melewati beberapa pohon tumbang, sampai melewati jembatan berayun di atas Sungai Hurunui.
Evans membawanya ke gubuk terdekat, dengan menempuh perjalanan sejauh enam kilometer menggunakan sebelah tangan. Sampai di gubuk, seorang pendaki lain yang melihat mereka langsung membantu. Kucing kecil hitam segera diberi makan susu bubuk dan yoghurt kering.
Keesokan harinya, Evans mendapat ide untuk membawa kucing kecil dengan lebih nyaman. Menggunakan tas bahu kecil, ia membawa sobat perjalanan barunya di dalamnya. Agar semakin hangat, Evans membalutnya dengan hoodie.
Sambil terus memastikan kenyamanan "Lady Bluffy", nama baru yang diberikan untuk si kucing hitam, Evans melanjutkan pendakiannya. Menaklukkan medan terjal selama dua hari ke depan, menempuh setidaknya 25 kilometer perjalanan.
"Kucing itu kebanyakan tidur di sana. Ketika dia bangun, saya hanya mencoba memberinya susu bubuk kering," kata Evans.
Kemudian Evans membagikan ceritanya di grup WhatsApp Te Araroa, dengan maksud membuka tawaran adopsi Lady Bluffy. Awalnya, ia sempat cemas, tentang potensi orang yang mau mengadopsi kucing terlantar itu dengan sepenuh hati.
Sampai akhirnya ia bertemu dengan penduduk Christchurch yang mengatakan mereka berpengalaman merawat anak kucing liar. Bahkan kalau Evans setuju untuk menyerahkan Bluffy, mereka sudah membuat janji temu dengan dokter hewan.
Setelah pertemuan itu, mereka mengetahui bahwa Bluffy sudah disapih (tidak menyusu lagi dengan induk). Evans ingat, selama perjalanan kemarin kucing itu juga ikut melahap telur orak-arik miliknya.
"Penduduk Christchurch seperti terpesona. Mereka bilang sebenarnya sudah memesan dokter hewan, untuk berjaga-jaga. Jadi saya merasa yakin bahwa mereka cukup berpengetahuan tentang anak kucing," ungkapnya.
Sekarang Lady Bluffy sudah berada di tangan yang tepat, jauh lebih aman dibandingkan mengembara sendirian di tengah hutan. Ia sudah bersih dan sehat, meskipun masih sedikit kekurangan berat badan.
Bagaimana dengan Evans? Ia melanjutkan kembali perjalanannya. Sempat berhenti karena diterjang hujan selama beberapa hari, sebelum ia melangkah lagi ke arah selatan. Dia bersyukur mengingat teman kecilnya yang tiba-tiba ikut itu sekarang sudah aman.
(ana/wiw)[Gambas:Video CNN]