Wegovy Oral Tawarkan Alternatif Baru Terapi Obesitas

CNN Indonesia
Kamis, 05 Feb 2026 01:00 WIB
Ilustrasi. Obesitas jadi salah satu masalah kesehatan yang cukup mengkhawatirkan di seluruh dunia. (iStock/InspirationGP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus obesitas kian menjadi perhatian dunia, termasuk di Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapai 23,4 persen, naik dari 21,8 persen pada 2018.

Tak hanya itu, hampir satu dari tiga penduduk Indonesia tercatat memiliki lemak perut berlebih, dengan prevalensi obesitas sentral mencapai 36,8 persen pada usia 15 tahun ke atas.

Obesitas berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga gangguan metabolik lain. Di tengah tantangan tersebut, inovasi pengobatan obesitas terus berkembang dan menarik perhatian global.

Perusahaan farmasi asal Denmark, Novo Nordisk meluncurkan Wegovy versi pil di Amerika Serikat pada awal Januari 2026. Sebelumnya, Wegovy dikenal sebagai obat suntik berbasis hormon GLP-1 yang digunakan untuk membantu penurunan berat badan.

Kehadiran versi tablet dinilai sebagai terobosan karena menawarkan cara konsumsi yang lebih sederhana, tanpa jarum suntik.

Peluncuran Wegovy pil dimulai pada 5 Januari 2026 dan menyasar pasien yang membayar secara mandiri (self-pay), mengingat sebagian besar asuransi di AS belum menanggung obat penurun berat badan. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari US$149 atau setara Rp2,4 juta per bulan untuk dosis 1,5 mg dan 4 mg, hingga US$299 atau setara Rp5 juta per bulan untuk dosis 9 mg dan 25 mg.

Akses obat ini diperluas melalui jaringan apotek besar seperti CVS dan Costco, serta platform layanan kesehatan digital, termasuk Ro, LifeMD, WeightWatchers, dan GoodRx.

Strategi ini tampaknya efektif. Data IQVIA yang dikutip Reuters pada 23 Januari 2026 mencatat, Wegovy versi pil meraih 18.410 resep hanya dalam pekan penuh pertama yang berakhir 16 Januari. Bahkan, dalam empat hari awal peluncuran, jumlah resep sudah mencapai 3.071.

Analis menilai capaian tersebut sebagai sinyal kuat tingginya minat pasien terhadap terapi obesitas berbentuk oral. Angkanya bahkan melampaui tren awal beberapa obat suntik GLP-1 sebelumnya.

Respons ini turut tercermin di pasar modal. Pada 16 Januari 2026, saham Novo Nordisk di Denmark melonjak sekitar 6,5 persen, menyentuh level tertinggi sejak September 2025.

Namun, pasar obat obesitas global tak hanya diisi satu pemain. Persaingan diperkirakan semakin ketat seiring Eli Lilly, rival utama Novo Nordisk, menanti keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) terkait pil obesitas eksperimental mereka, orforglipron, yang diperkirakan keluar pada April 2026.

Di sisi lain, Wegovy versi pil juga tengah menjalani proses peninjauan di sejumlah negara lain, termasuk Inggris.

Keunggulan obat berbentuk pil bukan hanya soal kenyamanan pasien. Dari sisi logistik, tablet tidak memerlukan penyimpanan rantai dingin seperti obat suntik. Hal ini membuat distribusi menjadi lebih mudah dan efisien, terutama untuk negara dengan tantangan geografis seperti Indonesia.

Bagi masyarakat Indonesia, tren global ini terasa relevan. Terapi oral dinilai berpotensi meningkatkan kepatuhan pasien, terutama untuk pengobatan jangka panjang.

Meski demikian, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa obat bukanlah solusi tunggal. Pengendalian obesitas tetap memerlukan pendekatan menyeluruh, mulai dari perubahan gaya hidup, aktivitas fisik teratur, hingga edukasi pola makan sehat.

Aspek keterjangkauan juga menjadi catatan penting jika terapi inovatif ini kelak tersedia di Indonesia. Tanpa strategi regulasi dan integrasi yang tepat ke dalam sistem layanan kesehatan nasional, risiko kesenjangan akses tetap mengintai.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK