DBD Masih Mengintai, Meski Angka Kematian Terus Menurun
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, case fatality rate (CFR) dengue di Indonesia menunjukkan tren penurunan signifikan dalam lima tahun terakhir. Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes, Asnawi Abdullah, menyebut CFR dengue turun konsisten dari 0,96 persen pada 2021 menjadi 0,42 persen pada 2025.
"Case fatality rate kita menurun secara konsisten dari 0,96 persen pada tahun 2021 hingga 0,42 persen pada tahun 2025," kata Asnawi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (10/2).
Penurunan angka kematian ini terjadi di tengah tantangan meningkatnya kasus dengue yang dipengaruhi faktor perubahan iklim dan urbanisasi. Meski penularan masih tinggi di masyarakat, risiko kematian akibat dengue kini semakin dapat ditekan.
"Angka ini menunjukkan bahwa meskipun dengue masih tinggi di komunitas kita, hanya sedikit orang yang meninggal," ujar Asnawi.
Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya sistem layanan kesehatan, sekaligus peran aktif masyarakat dalam pencegahan. Program berbasis komunitas, seperti pemantauan jentik dari rumah ke rumah, dinilai menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan.
Dengan menjaga CFR di bawah 0,5 persen, Kemenkes optimistis Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mencapai target nasional nol kematian akibat dengue pada 2030.
"Dengan menjaga case fatality rate di bawah 0,5 persen, Indonesia sekarang dalam perjalanan untuk mencapai tujuan nol kematian dengue pada tahun 2030," ujarnya.
Meski demikian, pengendalian dengue tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif lintas negara, terutama di kawasan Asia Tenggara.
"Infeksi dengue di kawasan ASEAN ini memang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, kolaborasi antarnegara anggota ASEAN menjadi penting untuk memperkuat penanggulangan dengue," kata Prima.
Indonesia, lanjutnya, mengambil inisiatif menjadi tuan rumah forum regional pertama pencegahan dan pengendalian dengue di Asia Tenggara dengan dukungan Koalisi Bersama Lawan Dengue (KOBAR) dan para mitra. Forum ini diharapkan menghasilkan usulan konkret dari masing-masing negara yang dapat dibawa ke tingkat ASEAN.
"Penyakit menular itu tetap urgent untuk ditanggulangi bersama. Kalau kita bisa saling membantu dan saling mendukung di tingkat regional, tentu penanganannya akan lebih baik," ujar Prima.
Di dalam negeri, pemerintah menargetkan pengendalian dengue secara komprehensif melalui integrasi berbagai pendekatan, mulai dari pengendalian lingkungan dan faktor risiko hingga perlindungan pada manusia. Salah satunya melalui vaksin dengue yang saat ini sudah tersedia dan memiliki izin edar, meski belum masuk dalam program nasional.
Introduksi vaksin dengue masih mengandalkan inisiatif pemerintah daerah, khususnya di wilayah dengan beban kasus dan kematian tinggi.
Sejak 2023, uji coba vaksin telah dilakukan di lima daerah dan akan terus dievaluasi sebelum diperluas.
"Kalau hasilnya baik, tentu ada mimpi untuk memperluas ke lebih banyak daerah, tetapi kita harus selesaikan dulu pembelajaran dari lima wilayah ini," kata Prima.
Ketua KOBAR, Suir Syam, menilai tantangan terbesar dalam pengendalian dengue adalah keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat.
"Tidak mungkin pemerintah pusat saja yang membuat program nasional. Masyarakat dan pemerintah daerah juga harus ikut bersama-sama mencegah dengue," ujarnya.
Ia menambahkan, uji coba di lima daerah membuka peluang pengembangan ke wilayah lain jika hasilnya menunjukkan dampak positif.
Pandangan serupa disampaikan General Manager Takeda Indonesia, Andreas Gutknecht. Ia menilai Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan dalam berbagai pendekatan pengendalian dengue, termasuk inovasi Wolbachia dan vaksin.
"Indonesia adalah salah satu pionir awal Wolbachia dan juga memiliki program publik pertama dengan vaksin dengue kami di dunia," kata Andreas.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian dengue hanya bisa dicapai dengan mengombinasikan seluruh strategi yang tersedia.
"Menggabungkan semua pendekatan ini akan menghasilkan pengurangan dengue yang lebih signifikan. Dengue masih berkembang, jadi kita harus meningkatkan usaha dan menggunakan alat baru untuk mencapai target pengurangan dengue pada 2030," ujarnya.
(tis/tis)