Agar Anak Tak Lagi GTM, Ini Strategi Jitu Orang Tua
Anak sulit makan atau gerakan tutup mulut (GTM) sering kali menjadi tantangan terbesar orang tua. Menu sudah disiapkan dengan penuh cinta, tetapi si kecil justru menolak, memilih-milih, atau hanya mau makanan tertentu sesuai suasana hatinya.
Padahal, di masa tumbuh kembang, asupan gizi yang cukup dan seimbang sangat menentukan tinggi badan, daya tahan tubuh, hingga kemampuan kognitif anak.
Lantas, bagaimana agar anak mau makan tanpa drama berkepanjangan?
Dokter Spesialis Gizi Klinik, Juwalita Surapsari, menekankan bahwa edukasi tentang zat gizi makro dan mikro sebenarnya sudah banyak tersedia. Namun, yang sering dibutuhkan para ibu adalah solusi praktis.
"Pengetahuan tentang makro dan mikro nutrient itu sudah banyak. Ibu-ibu dan moms itu ingin yang practical, menu yang bisa dimodifikasi untuk anak," ujar Juwalita dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/2).
Menurutnya, bahan makanan yang sama bisa diolah dalam bentuk berbeda agar lebih menarik di mata anak. Misalnya, ayam tidak selalu harus disajikan dalam bentuk potongan biasa.
"Ayam itu bisa dibentuk macam-macam. Kita harus inovasi lagi, ayam harus dibikin apa. Misal dicincang, dibikin perkedel. Jadi lebih ke practical. Perlu banyak akal supaya masuk ke anaknya," jelasnya.
Artinya, kreativitas orang tua memegang peran penting. Anak cenderung tertarik pada tampilan, tekstur, dan variasi. Mengubah bentuk, ukuran, atau cara penyajian sering kali lebih efektif dibanding memaksa anak menghabiskan makanan.
Selain itu, seiring bertambahnya usia anak biasanya semakin aktif, gemar bermain, dan eksploratif. Namun, di sisi lain, pilihan makannya bisa sangat bergantung pada suasana hati.
Juwalita mengingatkan bahwa di usia ini, pemenuhan mikronutrien sangat penting. Jadwal makan utama juga harus tetap terjaga.
"Dia sudah aktif, bisa eksplorasi. Mikronutrien harus terpenuhi, jadwal makan besar harus terpenuhi. Harus ada protein hewani, karena akan memberikan protein yang mudah diserap tubuh," ujarnya.
Protein hewani seperti ayam, ikan, telur, dan daging mengandung zat besi, zinc, dan vitamin B12 yang berperan penting dalam pertumbuhan dan daya tahan tubuh.
Namun, ia juga mengingatkan agar orang tua tidak terjebak pada satu jenis zat gizi saja. Karbohidrat tetap dibutuhkan sebagai sumber energi utama.
"Kadang suka ada mispersepsi. Padahal karbo adalah sumber energi yang tetap harus dipenuhi. Mau sebanyak apa pun diberi protein, kalau karbo tidak dipenuhi tetap tidak baik," katanya.
Dengan kata lain, pola makan anak harus tetap seimbang, karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral bukan hanya fokus pada satu komponen saja.
Medical Science Director Danone, Ray Wagiu Basrowi menambahkan bahwa dukungan sosial juga berpengaruh besar terhadap pola asuh makan anak.
"Yang pertama perlu ada dukungan. Moms itu sangat komunal. Meski pengetahuan sudah bagus, akan 'nyontek' moms lain," kata Ray dalam diskusi mengenai pola makan bergizi lengkap untuk optimalkan tinggi dan cepat tanggap yang digelar Danone Specialized Nutrition di Jakarta.
Menurutnya, selain edukasi nutrisi, pendekatan komunitas penting agar informasi lebih mudah diterima dan diterapkan. Diskusi, kuis, hingga kerja sama dengan tenaga kesehatan dapat membantu orang tua memahami kebutuhan gizi anak secara lebih komprehensif.
Ray juga menyoroti pentingnya deteksi dini masalah gizi. Orang tua tidak perlu menunggu hingga anak sakit. Deteksi awal membantu orang tua melakukan intervensi lebih cepat sebelum kondisi memburuk.
"Yang paling penting adalah ketika dia tahu anaknya akan sakit karena kurang nutrisi. Kami punya skrining tools untuk bantu orang tua di awal sebelum ada keluhan, sebelum perlu ke dokter. Contohnya kekurangan zat besi," jelasnya.
Memilih susu yang tepat untuk anak
Di pasaran, tersedia beragam jenis susu pertumbuhan dengan berbagai klaim manfaat. Namun, orang tua perlu cermat memilih sesuai kebutuhan anak.
"Banyak sekali susu, memang banyak jenis di pasaran. Biasanya ada ingredients tertentu yang di-highlight produsen. Yang penting moms perhatikan, tidak semua susu sama, karena tidak semua susu difortifikasi sesuai kebutuhan si kecil," ujar Ray.
Artinya, orang tua perlu membaca label dengan teliti. Perhatikan kandungan protein, zat besi, zinc, vitamin D, dan nutrisi penting lainnya yang mendukung tumbuh kembang.
Namun perlu diingat, susu bukan pengganti makanan utama. Ia hanya pelengkap dari pola makan bergizi seimbang.
(tis/tis)