Ini Organ Tubuh yang Mati Paling Awal saat Ajal Tiba

CNN Indonesia
Kamis, 12 Feb 2026 17:00 WIB
Kematian tak terjadi seketika. Tubuh manusia berhenti bekerja secara bertahap, dimulai dari organ vital hingga ke tingkat sel.
Ilustrasi. Ketika meninggal dunia, organ tak langsung mati tapi akan melakukan proses kematian secara bertahap. (Pixabay/PetraBlahoutova)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Organ tubuh manusia tidak berhenti bekerja secara bersamaan ketika ajal menjemput. Sebaliknya, tubuh mengalami proses penghentian fungsi secara bertahap, dari satu sistem ke sistem lainnya.

Melansir Science Times, proses kematian umumnya diawali dengan berhentinya fungsi organ vital yang menopang sirkulasi oksigen dan darah. Setelah itu, kegagalan organ-organ lain menyusul dalam hitungan menit hingga jam.

Dalam dunia medis, kematian tidak dipahami sebagai satu momen tunggal, melainkan sebagai rangkaian kejadian biologis. Ketika satu organ utama gagal berfungsi dan tak dapat dipulihkan, sistem tubuh lain ikut kehilangan dukungan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah penelitian menyebut kegagalan pada salah satu dari tiga organ vital, jantung, otak, dan paru-paru menjadi penanda dimulainya proses kematian.

Jika fungsi organ-organ utama tersebut tidak kembali, tubuh secara perlahan kehilangan kemampuannya menjalankan fungsi kehidupan.

Berikut urutan organ yang mati ketika ajal tiba, melansir berbagai sumber:

1. Jantung

Jantung menjadi organ pertama yang berhenti bekerja. Saat organ ini tak lagi memompa darah, suplai oksigen ke seluruh tubuh terputus. Kondisi tersebut menyebabkan pernapasan berhenti dan memicu kegagalan fungsi organ lain secara cepat.

Pada kasus henti jantung mendadak, seperti ventricular fibrillation, sirkulasi darah terhenti secara tiba-tiba. Akibatnya, kesadaran menghilang dalam hitungan detik dan tubuh tak lagi mampu mempertahankan fungsi dasar kehidupan.

2. Otak

Setelah sirkulasi darah terhenti, otak menjadi organ yang paling cepat terdampak. Sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen dan mulai mengalami kerusakan permanen dalam waktu sekitar empat menit.

Mengutip Biology Insights, aktivitas listrik otak biasanya berhenti dalam 10 hingga 30 detik setelah aliran darah terhenti. Jika kondisi ini berlangsung lebih lama, terjadilah kematian otak (brain death), yang menandai kematian secara medis dan hukum.

3. Paru-paru

Paru-paru kehilangan fungsinya seiring berhentinya pernapasan dan sirkulasi darah. Tanpa oksigen dan aliran nutrisi, organ-organ lain seperti ginjal, hati, dan sistem pencernaan perlahan ikut gagal menjalankan perannya.

Pada penyakit kronis atau kondisi jangka panjang, proses ini dapat berlangsung lebih lambat. Tubuh bisa mengalami penurunan fungsi organ selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sebelum kematian terjadi.

4. Sel tubuh

Meski seseorang telah dinyatakan meninggal, tidak semua sel tubuh mati pada waktu yang sama. Sel otak merupakan yang paling cepat mati, sementara sel otot masih dapat bertahan selama beberapa jam setelah kematian.

Sel kulit dan sel tulang bahkan dapat tetap hidup selama beberapa hari. Sel imun, seperti sel darah putih, diketahui mampu bertahan hingga sekitar 70 jam, sementara sel punca dapat memasuki kondisi dorman sebelum akhirnya mati.

Dalam kematian alami, terdapat sejumlah perubahan fisik yang umum terjadi, seperti:

• Pola pernapasan menjadi tidak teratur

• Warna kulit berubah menjadi keunguan, terutama pada tangan dan kaki

• Muncul suara napas kasar atau death rattle akibat penumpukan lendir di saluran pernapasan

Perubahan tersebut merupakan bagian dari proses biologis menjelang akhir hayat dan umumnya bukan pertanda gangguan medis tambahan.

Kematian menjadi fungsi terakhir yang dijalankan tubuh manusia setelah seumur hidup mempertahankan keseimbangan biologis.

Dari kegagalan satu organ utama hingga berhentinya seluruh sistem tubuh, proses ini berlangsung secara bertahap dan tidak terjadi dalam satu waktu.

(nga/tis)


[Gambas:Video CNN]