Terlihat Normal Tapi 9 Tanda Ini Menunjukkan Kamu Tidak Baik-baik Saja
Daftar Isi
- 1. Merasa bersalah karena beristirahat
- 2. Bilang "Aku baik-baik saja" padahal tidak
- 3. Terlalu sering minta maaf
- 4. Rasa paling aman saat sibuk
- 5. Butuh suara latar terus-menerus
- 6. Menghindari kesendirian dan keheningan
- 7. Kurang tidur
- 8. Menganggap rasa sakit sebagai realitas kedewasaan
- 9. Terputus dari hal yang pernah dinikmati
Secara fisik, mungkin seseorang terlihat baik-baik saja. Namun sebenarnya kamu sedang tidak baik-baik saja, atau bahkan mengarah pada masalah kesehatan mental. Berikut beberapa tandanya.
Di permukaan, teman yang selama ini dikenal terlihat baik-baik saja. Kamu tidak melihat ada yang salah. Dia terlihat ceria, punya kesibukan, dan bisa bersosialisasi seperti biasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi, apa yang sebenarnya terlihat baik justru sebaliknya. Jika menemukan tanda-tanda berikut, kamu atau orang lain sangat mungkin tidak sedang baik-baik saja.
1. Merasa bersalah karena beristirahat
Lelah dan stres bukan hal aneh di tengah dunia yang serba sibuk. Istirahat adalah hal yang mutlak diperlukan. Namun beberapa orang justru merasa bersalah karena beristirahat.
Melansir dari Your Tango, rasa bersalah ini timbul karena orang mengaitkan harga diri mereka dengan produktivitas. Orang-orang ini meyakini bahwa mereka tidak layak mendapatkan pujian, koneksi, dan cinta kecuali mereka menawarkan sesuatu yang nyata sebagai imbalan.
Sekilas ini normal tapi sebenarnya ini tanda dan gejala orang mengalami banyak hal dan merusak kesejahteraan mereka sendiri.
2. Bilang "Aku baik-baik saja" padahal tidak
Upaya menekan emosi dan menghindari perasaan yang kompleks digunakan untuk mengatasi masalah dan menghemat waktu serta energi.
Kamu mungkin sering mendengar teman berkata "Aku baik-baik saja" hingga enggan ditanya-tanya lagi. Hal ini sebenarnya menandakan mereka tidak sedang baik-baik saja.
3. Terlalu sering minta maaf
Ilustrasi. Terlalu sering minta maaf bisa menandakan seseorang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. (Nazwa Yuliana) |
Permintaan maaf itu normal tapi bisa menjadi tidak normal ketika dilakukan berulang atau berlebihan.
Orang yang merasa tidak aman kronis, takut ditolak, atau trauma yang belum terselesaikan cenderung terlalu sering meminta maaf untuk mengatasi rasa ketidakmampuan mereka sendiri.
4. Rasa paling aman saat sibuk
Ternyata ada orang yang merasa paling aman saat dirinya sibuk. Apa kamu juga demikian? Kamu mungkin menjadwalkan kegiatan secara berlebihan, mengisi kekosongan dengan bermain gadget atau hiburan tanpa makna untuk menghindari gejolak emosi.
Strategi ini kadang dianggap dapat mengatasi masalah untuk sementara. Namun jika digunakan sebagai penghindaran maka muncul rasa kewalahan internal dan kecemasan.
5. Butuh suara latar terus-menerus
Studi dari The Gerontologist menemukan penggunaan suara latar belakang dan suara tv di rumah untuk mendapatkan rasa tenang sebenarnya paling umum terjadi pada orang yang mengalami isolasi dan kesepian.
Suara dan informasi sensorik digunakan untuk menemani mereka meski ini didorong kerinduan bahwa sadar mereka akan koneksi dan dukungan.
6. Menghindari kesendirian dan keheningan
Kadang kamu perlu menghabiskan waktu sendirian untuk memberi sistem saraf, otak, dan tubuh kesempatan untuk bersantai, merenung, dan 'charge' energi. Meski kamu bukan seorang introvert, waktu sendirian tetap penting.
Akan tetapi, jika kamu sedang menghadapi gejolak emosi, stres, atau emosi tidak nyaman, kemungkinan besar kesendirian terasa mustahil. Kondisi ini memicu semua emosi dan perasaan yang telah ditekan kembali muncul ke permukaan sekaligus.
7. Kurang tidur
Begadang semalaman kerap diagungkan dan dibanggakan. Seseorang kuat begadang demi produktivitas. Namun situasi ini bisa merugikan kesehatan dan kesejahteraan
Kurang tidur bisa memicu masalah antara lain, kelelahan, susah fokus, dan merusak hubungan pribadi.
8. Menganggap rasa sakit sebagai realitas kedewasaan
Banyak konten atau meme berkaitan dengan kehidupan usia dewasa. Kamu mungkin merasa 'related'. Pun muncul anggapan bahwa perjuangan sehari-hari, rasa lelah, sakit adalah realitas kedewasaan. Padahal itu semua 'tanda bahaya' seseorang merasa kesulitan.
9. Terputus dari hal yang pernah dinikmati
Studi dari European Child and Adolescent Psychiatry menemukan banyak orang menderita depresi dan masalah kesehatan mental mengalami anhedonia.
Anhedonia adalah kehilangan atau kurang kesenangan terhadap hal-hal yang dulu dinikmati. Hal ini bisa berhubungan dengan hobi atau meluangkan waktu untuk melakukan ritual tertentu.
(els)[Gambas:Video CNN]

Ilustrasi. Terlalu sering minta maaf bisa menandakan seseorang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. (Nazwa Yuliana)