9 Kiat untuk Mengendalikan Amarah Selama Bulan Ramadhan
Mengendalikan nafsu makan dan minum ternyata tidak sesulit mengendalikan amarah. Berikut beberapa kiat untuk mengendalikan amarah selama bulan Ramadhan.
Tekanan darah mungkin melonjak saat ada orang yang memotong antrean. Kamu mungkin sudah nyaris berkata kasar saat teman melupakan janji bertemu.
Lihat Juga : |
Ada saja alasan untuk marah. Namun selama bulan Ramadhan, muslim dianjurkan untuk bisa melatih kesabaran dan mengendalikan diri selain mengendalikan nafsu makan dan minum.
Berikut beberapa kiat atau cara mengendalikan amarah agar ibadah tidak terganggu dan mental tetap sehat.
1. Mikir sebelum bicara
Dalam situasi panas, sangat mudah berkata sesuatu yang bisa disesali nanti. Saat marah, luangkan waktu sebentar untuk berpikir. Hal ini juga berlaku buat orang yang sedang marah denganmu.
2. Ungkapkan kekhawatiran
Saat pikiran sudah cukup jernih, ungkapkan rasa frustrasi kamu dengan cara tegas tapi tidak konfrontatif. Ungkapkan apa yang jadi kekhawatiran dan kebutuhanmu dengan jelas. Ingat, kamu sedang mengungkapkan apa yang kamu rasakan, bukan sedang menyakiti orang atau mencoba mengendalikan mereka.
3. Olahraga
Aktivitas fisik bisa mengurangi stres yang dapat memicu amarah. Kalau amarah sedang meningkat, coba jalan kaki dengan tempo agak cepat. Kamu juga bisa melakukan aktivitas fisik lain jelang buka puasa atau setelah buka puasa.
4. Istirahat sebentar
Beri waktu untuk tubuh beristirahat apalagi di hari-hari yang cenderung memicu stres. Istirahat sejenak membantumu merasa lebih siap menghadapi apa yang di depan tanpa rasa jengkel atau marah.
5. Identifikasi solusi yang memungkinkan
Alih-alih fokus pada apa yang memicu amarah, coba cari solusi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Apa anggota keluarga yang berisik di rumah? Coba pakai headphone selama bekerja. Susah makan bareng pasangan? Coba agendakan makan bersama tanpa harus bertabrakan dengan jam kerja.
Selain itu, melansir dari Mayo Clinic, pahami bahwa beberapa hal berada di luar kendali. Saatnya realistis tentang apa yang bisa dan tidak bisa diubah.
6. Mulai dengan "Aku"
Kritik atau menyalahkan orang hanya akan meningkatkan ketegangan. Saat menjelaskan masalah, coba mulai dari "Aku" misal, "Aku kesal kamu enggak beresin meja", "Aku enggak nyaman kamu ngomong gitu".
7. Jangan simpan dendam
Memaafkan adalah sesuatu yang ampuh dan sehat. Membiarkan kemarahan dan perasaan negatif dapat 'membunuh' perasaan positif. Kamu bisa tenggelam dalam kepahitan atau rasa ketidakadilan terhadap diri sendiri.
Memaafkan bisa membantumu belajar dari situasi tersebut dan memperkuat hubungan.
8. Gunakan humor
Bersikap lebih santai bisa membantu meredakan ketegangan. Humor membantu menghadapi apa yang membuatmu marah dan mungkin harapan yang tidak realistis tentang bagaimana seharusnya sesuatu berjalan. Namun hindari sarkasme sebab itu bisa memperburuk keadaan.
9. Latih ketrampilan relaksasi
Saat amarah meluap, latih ketrampilan relaksasi. Lakukan pernapasan mendalam, bayangkan pemandangan yang menenangkan atau ulangi kata atau frasa yang menenangkan.
Kamu juga bisa menulis jurnal atau melakukan beberapa pose yoga.
(els)