Bau Mulut Saat Puasa, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Bau mulut menjadi salah satu hal yang cukup mengganggu selama puasa Ramadhan. Tak sedikit orang mengaitkannya dengan makanan yang dikonsumsi saat sahur. Padahal, penyebabnya tak selalu sesederhana itu.
Secara umum, bau mulut saat puasa lebih sering dipicu oleh kondisi mulut yang kering. Selama berjam-jam tidak ada asupan makanan dan minuman, produksi air liur menurun. Padahal, air liur berperan penting dalam membersihkan rongga mulut sekaligus menekan pertumbuhan bakteri.
Ketika produksi air liur berkurang, bakteri di dalam mulut lebih mudah berkembang biak dan menghasilkan senyawa penyebab bau tidak sedap.
Dokter gigi Paulus Januar dari Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) menjelaskan, ada beberapa jenis bau mulut berdasarkan pemicunya.
Pertama, bau mulut patologis. Kondisi ini terjadi akibat bakteri anaerob gram negatif yang memproduksi gas VSCs (Volatile Sulfur Compounds), sehingga menimbulkan bau tidak sedap.
"Bau mulut patologis merupakan yang paling banyak terjadi dan dikeluhkan. Sekitar 85 persen hingga 90 persen kasus bau mulut merupakan jenis ini," jelasnya, mengutip Detik.
Bakteri penyebabnya biasanya berada di area pangkal lidah, gigi berlubang, karang gigi, hingga radang gusi. Bau mulut jenis ini kerap muncul saat bangun tidur karena air liur berkurang dan mengendap selama malam hari.
Meski begitu, kondisi ringan umumnya masih bisa diatasi dengan berkumur dan menjaga kebersihan mulut.
Kedua, bau mulut akibat konsumsi makanan beraroma menyengat. Misalnya petai, jengkol, bawang putih, serta kebiasaan merokok.
"Bila tidak lagi mengonsumsi bahan-bahan tersebut maka bau mulut tidak akan timbul," kata drg Paulus.
Ketiga, bau mulut semu atau pseudohalitosis. Dalam kondisi ini, seseorang merasa mulutnya berbau, padahal secara objektif tidak ditemukan adanya bau tidak sedap.
Menurut Paulus, kondisi ini bisa berkaitan dengan halitofobia, yakni rasa cemas berlebihan dan keyakinan bahwa dirinya mengalami bau mulut.
"Pada pseudohalitosis dan halitofobia bisa dilakukan pemeriksaan secara objektif tidak ditemukan adanya bau mulut. Faktor psikologis seperti rasa cemas, depresi, dan stres merupakan faktor risiko timbulnya keluhan bau mulut yang bersifat subjektif ini," terangnya.
Cara mendeteksi bau mulut
Untuk memastikan adanya bau mulut, dokter gigi dapat melakukan pemeriksaan dengan beberapa metode. Di antaranya metode organoleptik (penilaian langsung melalui penciuman), analisis kromatografi gas, hingga penggunaan alat khusus seperti halimeter.
Pemeriksaan ini membantu menentukan apakah bau mulut benar-benar ada serta mencari sumber penyebabnya.
Bagaimana jika bau mulut muncul saat puasa?
Selama berpuasa, kondisi mulut yang kering memang sulit dihindari. Aliran air liur yang berfungsi membersihkan mulut dan menghambat pertumbuhan bakteri menjadi berkurang.
Akibatnya, bakteri di rongga mulut berkembang dan menghasilkan gas VSCs yang memicu bau tidak sedap. Untuk mengatasinya, drg Paulus menyarankan memperbanyak minum saat sahur.
"Banyak minum terutama pada waktu sahur untuk menstimulasi produksi air liur saat sedang melaksanakan puasa. Hal ini mengingat air liur dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut. Bila mulut terasa kering, mungkin dapat pula diatasi dengan sering berkumur-kumur," ujarnya.
Lihat Juga : |
Selain itu, penting untuk menghindari atau setidaknya membatasi konsumsi makanan berbau tajam seperti petai, jengkol, dan bawang putih, serta tidak merokok.
Namun, jika sudah menjaga kebersihan mulut tetapi bau mulut tetap muncul, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter gigi untuk pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.
Dengan memahami penyebabnya, bau mulut saat puasa tak perlu lagi menjadi sumber rasa percaya diri yang hilang. Kuncinya ada pada kebersihan mulut dan kebiasaan sehat sejak sahur hingga berbuka.
(tis/tis)