Jangan Cuma Duniawi, Risaukan Juga Kehidupan di Akhirat Kelak
Setiap orang pasti pernah merasa gelisah. Tapi, apa sebenarnya yang dirisaukan? Merisaukan kehidupan duniawi atau akhirat?
Setidaknya, merisaukan kehidupan di dunia dan akhirat menjadi dua jenis kegelisahan yang disebutkan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski sama-sama berarti rasa risau akan sesuatu, namun keduanya berbeda.
Dalam tayangan program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia, ulama sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin membahas hal tersebut.
Menurutnya, merisaukan hal-hal yang berbau duniawi hanya akan membuat hati menjadi gelap.
"Kita akan seperti orang yang memikirkan sesuatu, yang bisa [membuat kita] melupakan Tuhan, karena kita selalu sibuk di dunia ini. Jadi, dari pagi sampai pagi lagi, itu yang dipikirkan adalah [kehidupan] di dunia," ujar dia.
Ma'ruf mengibaratkan kegelisahan akan dunia ini dengan kuda yang menggiling gandum. Sejak pagi hari, kuda terus bekerja tanpa henti, namun jalannya hanya berputar-putar di situ saja.
"Nah, kegalauan dunia itu tidak pernah berhenti. Itu membuat kita hatinya menjadi gelap," ujar Ma'ruf.
Sebaliknya, merisaukan kehidupan di akhirat kelak justru akan menerangkan hati. Kegelisahan seperti ini memberikan sinar pada hati.
Kendati demikian, manusia bukannya dilarang mencari hal-hal yang bersifat duniawi. Boleh-boleh saja, asal diimbangi dengan kesadaran akan kehidupan di akhirat kelak.
"Orang yang mencari ketenangan di akhirat, makan dunianya menjadi sangat baik. Dunia bisa menjadi kesenangan, tapi bisa juga menjadi 'wadah' untuk kepentingan akhirat kelak," ujar Ma'ruf.
Itulah mengapa setiap dari kita perlu memohon kepada Allah SWT agar diberikan kegelisahan tentang kehidupan di akhirat, alih-alih hanya pada hal-hal duniawi.
Saksikan program Kultum Kemuliaan Ramadan setiap hari jelang Magrib atau waktu berbuka puasa di siaran CNNIndonesia.
(asr)[Gambas:Video CNN]
