Viral Kurma Kemasan Ditambah Sirup Glukosa, Ini Kata Dokter Gizi
Jagat media sosial ramai membahas temuan warganet terkait produk kurma dalam kemasan. Pada label asli produk tercantum tambahan sirup glukosa, namun pada label tambahan berbahasa Indonesia hanya tertulis kurma.
"Ada yg bisa jelaskan? Di label asli ada tertera bahan lain. Kenapa di label tambahan bahasa Indonesia cuma di-list buah kurma? Bukannya mesti ditulis semuanya ya? Gak semua orang ngerti arti yg di atas, taunya ini kurma tanpa tambahan apapun. Atau glucose syrup dan pengawet E202 itu memang secara alami ada pada kurma?" tulis akun X @SeputarTetangga, Kamis (19/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata menjelaskan bahwa kurma secara alami memang mengandung gula dalam jumlah tinggi.
"Kurma banyak mengandung gula, terutama glukosa, fruktosa, serta sukrosa. Kandungan gulanya berbeda tergantung jenis kurmanya," ujar Johanes kepada CNNIndonesia.com, Selasa (24/2).
Ia mencontohkan, satu butir kurma Medjool dapat mengandung sekitar 16 gram (g) gula. Sementara dalam 100 g kurma tanpa biji, terdapat sekitar 65-70 g gula.
Menurut Johanes, penambahan glukosa, fruktosa, atau sukrosa pada produk berbasis kurma bertujuan untuk meningkatkan rasa manis.
Tingkat kemanisan setiap jenis gula berbeda. Jika rasa manis sukrosa dianggap 1, maka fruktosa memiliki tingkat kemanisan sekitar 1,2 hingga 1,8. Sementara glukosa hanya sekitar 0,7 hingga 0,75.
"Penambahan fruktosa sedikit saja sudah membuat rasa manis lebih kuat. Itu sebabnya jarang orang menggunakan glukosa sebagai pemanis minuman," jelasnya.
Meski kandungan gula alami kurma tinggi, kurma juga kaya serat pangan dan mineral. Serat tersebut membantu memperlambat penyerapan gula dalam tubuh dibandingkan gula tambahan seperti gula pasir atau sirup. Karena itu, rasa manis kurma kerap terasa tidak sekuat gula pasir.
Dalam praktik industri, produsen makanan dan minuman terkadang mencampurkan kurma dan gula dengan perbandingan tertentu, misalnya 1:1, untuk mencapai tingkat kemanisan yang diinginkan sekaligus menekan biaya produksi.
"Pencampuran gula dan kurma dalam proses pembuatan makanan dan minuman bertujuan untuk meningkatkan laba karena harga kurma lebih mahal dibandingkan gula," kata Johanes.
Meski demikian, ia menyebut kurma utuh yang di jual di pasaran umumnya tidak dicampur pemanis tambahan seperti glukosa.
Bagaimana aturan pencantuman label?
Johanes menegaskan bahwa komposisi bahan dalam produk pangan kemasan wajib dicantumkan secara jelas.
"Komposisi bahan makanan dan minuman dalam kemasan wajib dicantumkan pada kemasan produk. Aturan penulisan dimulai dari komponen utama lalu diikuti dengan komponen lain yang lebih kecil hingga yang paling sedikit," ujarnya.
Dalam Peraturan BPOM Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pengawasan Klaim pada Label dan Iklan Pangan Olahan, disebutkan bahwa buah dalam kemasan merupakan produk yang dapat dikemas dengan medium tertentu, seperti air atau jus buah, dengan atau tanpa penambahan gula, serta diproses melalui pasteurisasi atau sterilisasi.
Hal ini berarti penambahan gula pada buah dalam kemasan dimungkinkan, selama dicantumkan secara jelas dalam komposisi produk. Ketentuan tersebut juga mengatur bahwa bobot tuntas buah dalam kemasan tidak kurang dari 40 persen.
Risiko jika dikonsumsi berlebihan
Konsumsi gula berlebihan, baik dari kurma maupun gula tambahan tetap berisiko bagi kesehatan.
Johanes mengingatkan bahwa asupan gula yang tinggi dapat meningkatkan kalori dari karbohidrat. Dalam jangka panjang, konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan risiko obesitas beserta komplikasinya, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Konsumsi gula berlebih juga dapat meningkatkan kadar trigliserida dan asam urat.
Karena itu, saat berbuka puasa, konsumsi kurma sebaiknya tetap dalam batas wajar.
"Secukupnya saja, satu sampai tiga butir kurma tergantung ukurannya, jangan berlebihan," tutupnya.
Pada akhirnya, kurma tetap menjadi sumber energi yang baik, terutama saat berbuka puasa. Namun, seperti halnya makanan manis lainnya, konsumsi yang bijak tetap menjadi kunci untuk menjaga kesehatan.
(anm/asr)
