Deret Bahaya Penggunaan Steroid Jangka Panjang Tanpa Pengawasan

CNN Indonesia
Kamis, 26 Feb 2026 19:45 WIB
Penggunaan steroid dalam krim wajah kerap menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait risiko efek samping jika dipakai dalam jangka panjang.
Ilustrasi. Seorang perempuan curhat mengalami breakout setelah berhenti memakai krim yang mengandung steroid. Dokter pun berikan penjelasan soal bahaya atau efek samping steroid. (freepik.com/Mr.Nuttapong Bangnimnoi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang perempuan curhat di media sosial tentang kondisi kulitnya setelah berhenti memakai steroid. Kondisi wajahnya berjerawat sangat parah. Dokter pun memberikan penjelasan tentang bahaya penggunaan steroid jangka panjang dan tanpa pengawasan.

Penggunaan steroid dalam krim wajah kerap menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, terutama terkait risiko efek samping jika dipakai dalam jangka panjang. Namun di sisi lain, krim dengan kandungan steroid justru sering diresepkan oleh dokter spesialis kulit untuk mengatasi berbagai masalah peradangan. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter spesialis kulit dari Klinik Dermalogia, Arini Astasari Widodo menjelaskan bahwa steroid topikal merupakan obat anti-inflamasi yang efektif dan banyak digunakan dalam praktik dermatologi. Dalam jangka pendek dan sesuai indikasi medis, steroid membantu meredakan kemerahan, gatal, dan peradangan kulit.

Akan tetapi, ia menegaskan bahwa risiko muncul ketika penggunaannya tidak terkontrol, terutama jika dipakai dalam jangka panjang dengan potensi kuat.

"Masalah sering muncul ketika pasien membeli krim bebas yang mengandung steroid poten (misalnya kombinasi krim racikan tanpa label jelas), lalu dipakai setiap hari selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun," ujar Arini kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/2).

Menurut Arini, penggunaan steroid topikal jangka panjang memang dapat menimbulkan berbagai efek samping, khususnya pada area wajah yang memiliki lapisan kulit lebih tipis dan sensitif.

alah satu kondisi yang sering terjadi akibat penggunaan berkepanjangan dikenal sebagai steroid induced dermatitis atau steroid dependent face.

Kondisi tersebut terjadi ketika kulit menjadi bergantung pada steroid dan mengalami reaksi peradangan saat pemakaian dihentikan.

Dalam situasi ini, pasien sering kali merasa kulitnya memburuk ketika berhenti menggunakan krim, sehingga kembali memakainya tanpa menyadari bahwa reaksi tersebut merupakan efek penghentian mendadak.

Menurut Arini, efek samping yang paling sering muncul pada wajah antara lain,penipisan kulit (atrofi),

  • pembuluh darah melebar (telangiektasia),
  • jerawat akibat steroid (steroid acne),
  • kemerahan rebound saat dihentikan,
  • perioral dermatitis,
  • hiperpigmentasi atau hipopigmentasi,
  • pada kasus berat misal, rosacea-like dermatitis kronis.

Dia menambahkan area wajah seperti sekitar mata, lipatan hidung, dan sekitar mulut memiliki risiko lebih tinggi mengalami efek samping karena karakter kulitnya yang lebih tipis.

Meski risiko penyerapan sistemik tetap ada, Arini menyebut bahwa pada penggunaan wajah, dampak yang paling sering terjadi bersifat lokal pada kulit. Namun semakin lama dan semakin kuat potensi steroid yang digunakan, semakin besar pula risiko gangguan yang timbul

Jika seseorang sudah mengalami ketergantungan akibat penggunaan jangka panjang, penanganannya tidak bisa dilakukan secara instan. Penghentian secara mendadak tidak selalu dianjurkan karena dapat memperparah reaksi rebound.

Arini menyebut pendekatan yang biasanya dilakukan untuk setop steroid meliputi,

  • evaluasi tingkat keparahan dan potensi steroid yang digunakan
  • tapering off secara bertahap, bukan langsung dihentikan mendadak pada kasus tertentu
  • penggantian dengan non-steroid anti-inflammatory seperti calcineurin inhibitor
  • perbaikan skin barrier dengan pelembab yang tepat
  • terapi tambahan sesuai kondisi (misalnya antibiotik oral/topikal bila ada rosacea-like dermatitis)
  • edukasi pasien mengenai fase "rebound" yang mungkin terjadi sementara
Ilustrasi klinik kecantikanIlustrasi. Usaha lepas dari ketergantungan steroid tidak bisa dilakukan secara instan. Perlu ada langkah-langkah tertentu didampingi dokter kulit. (golyak yuriy/Freepik.com/Holiak)

Proses pemulihan bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan tergantung tingkat keparahan kondisi.

Oleh karena itu, penggunaan produk mengandung zat aktif kuat seperti steroid sebaiknya selalu berada dalam pengawasan medis. Penggunaan dalam jangka panjang tanpa diagnosis dan kontrol dokter berpotensi menimbulkan komplikasi kulit yang lebih kompleks dan membutuhkan waktu pemulihan yang lama.

(nga/els)


[Gambas:Video CNN]