SURAT DARI RANTAU

Seuntai Kisah Ramadan dari Tempat yang Damai, Brunei Darussalam

Faqih Jalaludin | CNN Indonesia
Minggu, 01 Mar 2026 12:10 WIB
Brunei mungkin bukan tempat bagi mereka yang mencari keriuhan kota metropolis. Namun, bagi saya yang mencari kedamaian, keamanan, dan lingkungan yang kondusif
Suasana salat tarawih di Masjid Mohamed Bolkiah, Kampung Serusop, Brunei Darussalam saat bulan Ramadan tahun ini.(Arsip Faqih Jalaludin)

Tak ada batasan bangsa atau agama. Orang Indonesia, Filipina, Tionghoa, Muslim maupun non-Muslim, semua dipersilakan masuk dan disapa dengan ramah oleh keluarga kerajaan. Di momen itulah, aku merasa bahwa sekat-sekat kewarganegaraan seolah lebur oleh rasa hormat yang mendalam kepada pemimpin yang begitu mencintai rakyatnya.

Rasa Syukur di Brunei dan Kerinduan Kampung Halaman

Hidup saya di Brunei adalah hidup yang diliputi rasa syukur. Sebagai guru, saya melihat betapa pemerintah Brunei sangat memanjakan warganya. Pendidikan gratis, kesehatan gratis, bahkan kebutuhan pokok seperti beras dan bensin disubsidi hingga harganya tak pernah naik sejak aku datang tahun 1999. Anak-anak saya pun merasakan fasilitas pengobatan gratis hingga usia 12 tahun.

Meski begitu, rantau tetaplah rantau. Terkadang ada kerinduan akan kampung halaman saya di Palembang berserta aroma pempek dengan cukonya yang mantap atau keinginan sederhana untuk berziarah ke makam orang tua yang telah tiada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tahun ini, saya memutuskan untuk tidak pulang ke Indonesia karena putri sulung saya, yang kini bekerja sebagai bidan di salah satu rumah sakit di Brunei, belum mendapatkan jadwal cuti.

Kami harus bergantian. Jika kami tidak pulang, biasanya keluarga dari Indonesia yang akan terbang ke sini, hanya dua jam perjalanan dari Jakarta. Dua anak saya tinggal di Indonesia.

Brunei mungkin bukan tempat bagi mereka yang mencari hiburan malam atau keriuhan kota metropolis. Namun, bagi saya yang mencari kedamaian, keamanan, dan lingkungan yang kondusif untuk membesarkan anak, negeri ini adalah pelabuhan yang sempurna.

Di sini, saya belajar bahwa bahagia itu sederhana: cukup dengan rasa aman saat berjalan di malam hari dan hangatnya persaudaraan di tiap gelas teh saat berbuka puasa.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2