Benarkah Semprot Parfum di Leher Bisa Picu Kanker? Ini Kata Ahli
Menyemprotkan parfum langsung ke area leher disebut-sebut berpotensi memengaruhi kelenjar tiroid karena kandungan bahan kimianya.
Kebiasaan ini memang umum dilakukan agar aroma lebih tahan lama dan tercium lebih kuat. Namun, muncul kekhawatiran soal dampaknya terhadap kesehatan hormonal.
Pakar multiomics cancer IPB University, Agil Wahyu Wicaksono menjelaskan, secara ilmiah memang terdapat indikasi hubungan antara penggunaan parfum dan gangguan kelenjar tiroid.
Meski demikian, ia menegaskan kaitannya dengan kanker tiroid belum terbukti secara langsung.
"Berdasarkan sebuah studi tinjauan sistematis, kebiasaan menyemprotkan parfum, termasuk di area leher berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid," ujar Agil, Minggu (1/3), seperti dilansir detikhealth.
"Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung," lanjutnya.
Agil mengungkapkan, parfum atau cologne umumnya mengandung bahan kimia seperti phthalates, paraben, dan triclosan. Zat-zat tersebut diketahui berpotensi mengganggu sistem hormonal atau berperan sebagai endocrine disruptors.
Sejumlah penelitian menunjukkan, triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid. Sementara beberapa jenis paraben juga dilaporkan berdampak pada keseimbangan sistem endokrin tubuh.
Menurutnya, bahan kimia tersebut diserap melalui kulit. Besar kecilnya penyerapan dipengaruhi oleh lokasi pemakaian, frekuensi, serta durasi penggunaan parfum.
"Area leher secara anatomis berada dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki kulit yang relatif tipis, sehingga paparan phthalates, paraben, dan triclosan yang berulang di lokasi ini secara teoritis dapat meningkatkan peluang efek zat tersebut secara lokal maupun sistemik," jelasnya.
Meski ada potensi risiko, Agil menegaskan, dampak tersebut tidak terjadi secara instan dan umumnya berlangsung perlahan. Ia juga mengingatkan tidak semua pengguna parfum pasti mengalami gangguan kesehatan.
"Namun, pemakaian berlebihan dan terus-menerus selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko gangguan hormon, terutama pada ibu hamil, anak-anak, remaja, serta orang dengan gangguan hormon sebelumnya," ujar Agil.
Untuk mengurangi potensi risiko kesehatan jangka panjang, masyarakat disarankan lebih bijak dalam menggunakan parfum. Beberapa langkah sederhana bisa diterapkan, seperti menyemprotkan parfum pada pakaian alih-alih langsung ke kulit, serta menghindari pemakaian rutin di area leher atau ketiak.
Penggunaan parfum secukupnya juga menjadi kunci untuk membatasi paparan bahan kimia. Selain itu, konsumen dapat lebih cermat memilih produk.
"Jika memungkinkan, pilih produk yang mencantumkan label 'phthalate-free' atau 'paraben-free'," tutupnya.
(nga/asr)