Sewa Jet Pribadi Tembus Rp5 Miliar, Turis Tajir Berebut Kabur dari UEA

CNN Indonesia
Kamis, 05 Mar 2026 17:15 WIB
Ilustrasi. Permintaan sewa jet pribadi melonjak di tengah krisis penerbangan UAE. (dok gulfstream)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tarif sewa jet pribadi melonjak tajam setelah penutupan sejumlah bandara di Dubai akibat dampak ledakan rudal dari Iran. Situasi ini membuat para turis kaya yang terjebak di Uni Emirat Arab (UEA) berebut menyewa pesawat jet pribadi untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Sebagai serangan balasan terhadap Amerika Serikat dan Israel, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke wilayah UEA pada Sabtu (28/2). Dampaknya, beberapa bandara di area terdampak, termasuk di Dubai, menghentikan operasional sementara. Penutupan ini membuat banyak wisatawan tidak bisa segera pulang.

Sebagian wisatawan di Dubai kemudian mencoba berpindah ke Oman karena Bandara Muscat masih beroperasi, meski jadwal penerbangannya terus mengalami penundaan. Namun, di situs pemesanan tiket, sebagian besar penerbangan dari Oman menuju Eropa dilaporkan sudah penuh hingga akhir pekan.

Ketika kursi penerbangan komersial semakin sulit didapat, permintaan jet pribadi pun melonjak. Lonjakan permintaan ini terutama datang dari wisatawan yang ingin segera keluar dari kawasan UEA.

Melansir The Guardian, perusahaan jet pribadi yang berbasis di Muscat, JetVip, mengonfirmasi bahwa tarif penerbangan rute Muscat-Istanbul menggunakan jet kecil naik hingga tiga kali lipat dari harga normal. Harga kursi kini mencapai sekitar 85 ribu euro atau setara Rp1,6 miliar per orang.

Sementara itu, perusahaan penyewaan jet pribadi asal Austria, AlbaJet, juga menyebut ketersediaan pesawat sangat terbatas. Mereka menawarkan penerbangan jet pribadi menuju Eropa dengan harga sekitar 90 ribu euro atau sekitar Rp1,7 miliar.

"Banyak operator pesawat tidak melakukan penerbangan karena persyaratan asuransi dan keputusan pemilik pesawat. Jadi permintaan sangat tinggi, tetapi pasokan sangat terbatas," ujar perwakilan AlbaJet, dikutip dari The Guardian.

Beberapa perusahaan jet swasta lainnya bahkan mengaku belum dapat mengerahkan armadanya. Mereka menghadapi kesulitan operasional untuk menerbangkan pesawat di kawasan Timur Tengah yang sedang dilanda ketegangan.

Karena itu, sebagian orang yang ingin meninggalkan UEA memilih menempuh perjalanan darat hingga 10 jam menuju Riyadh, Arab Saudi.

Bandara di Riyadh dilaporkan masih beroperasi. Kepala Eksekutif pialang jet pribadi Vimana Private Jets, Ameerh Naran, mengatakan tarif penerbangan jet pribadi dari Riyadh ke Eropa kini mencapai US$350.000 atau sekitar Rp5,9 miliar.

Sementara itu, sebagian besar wisatawan lain yang tidak mendapatkan penerbangan atau tidak mampu menyewa jet pribadi terpaksa menunggu di Dubai hingga situasi kembali memungkinkan untuk pulang.

Pada Senin (9/3), operasional bandara di Dubai dan Abu Dhabi dilaporkan masih mengalami kekacauan. Gangguan mencakup keterlambatan penerbangan, pembatalan, hingga ketidakjelasan jadwal keberangkatan berikutnya.

Maskapai besar seperti Emirates, Flydubai, dan Etihad menyatakan tetap melanjutkan penerbangan, tetapi dengan kapasitas yang terbatas.

Sambil menunggu situasi kembali normal, Dewan Pariwisata Dubai juga telah menginstruksikan hotel-hotel setempat agar tidak mengusir wisatawan yang terjebak akibat pembatalan penerbangan massal. Hotel diminta memperpanjang masa inap para tamu dengan ketentuan yang sama seperti pemesanan awal tanpa menaikkan harga.

(ana/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK