Mengakui Kelemahan Diri Merupakan Kunci Meraih Rida Allah SWT
Seseorang yang mengakui kekurangan dan kelemahan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT, tergolong sebagai sikap sangat terpuji. Ia menunjukkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa kita selalu lemah dalam taat.
Orang yang merasa kurang taat dan mengakui kelalaiannya disebut sebagai tanda amal yang diterima oleh Allah. Sebaliknya, rasa ujub atau berbangga diri, justru menjadi penghalang utama penerimaan amalnya oleh Allah SWT.
Lihat Juga :![]() Kultum Kemuliaan Ramadan Orang Taat Akan Lebih Dekat dengan Allah SWT secara Batiniah |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ada orang yang merasa suci, merasa baik, padahal belum tentu dia baik. Walaupun kita sudah melakukan ibadah dengan baik, apa yang kita lakukan itu kan belum tentu diterima oleh Allah SWT," tutur ulama sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI Ma'ruf Amin dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia.
Rasulullah SAW mengungkapkan, orang-orang saleh yang senantiasa melaksanakan kewajiban dan ketaatan, tetap merasa takut dan khawatir apakah amalnya diterima oleh Allah. Mereka tidak merasa suci atau sempurna, tetapi selalu merasa belum cukup taat.
Dalam sebuah riwayat, Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah, apakah orang-orang tersebut dahulu pernah berbuat dosa besar seperti zina, mencuri, atau mabuk, sehingga ketika menjalankan ibadahnya itu dia menangis, karena mengingat masa lalunya?
Rasulullah menjawab, mereka bukan orang seperti itu, melainkan mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah sejak lama dan selalu bergegas dalam melakukan kebaikan.
"Mereka menangis kalau melakukan ibadah, karena merasa dia masih belum memenuhi taatnya itu, dan mereka takut tidak diterima oleh Allah SWT. Itu sesuatu yang dipuji oleh Allah SWT," ujar Ma'ruf.
Ini tentu berbeda dengan orang yang tidak merasakan takut walaupun meninggalkan ibadah, karena bagi mukmin sejati, dosa sekecil apa pun terasa sangat berat.
Sebuah hadis menggambarkan, seorang mukmin melihat dosanya seperti duduk di kaki gunung yang besar dan takut gunung itu runtuh menimpanya.
Sebaliknya, orang yang tidak baik memandang dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, sesuatu yang ringan dan tidak menakutkan.
"[Orang yang] mengaku lalai itu, itu tanda orang diterima [oleh Allah SWT], karena orang ini tidak merasa sombong. Sebab yang dinilai itu bukan amalnya, tapi diterima apa tidak amal kita itu," Ma'ruf menjelaskan.
Ma'ruf menyimpulkan, kita harus melakukan sesuatu yang diterima oleh Allah SWT, terutama di bulan Ramadan yang penuh berkah ini.
(rti) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
