Beda dengan Cuek, Ini Ciri-ciri Orang Avoidant dalam Hubungan
Ciri-ciri orang dengan avoidant attachment kerap tidak disadari, baik oleh diri sendiri maupun pasangan. Padahal pola ini bisa menjadi salah satu penghambat utama dalam membangun hubungan yang sehat.
Mengutip dari Simply Psychology, avoidant attachment adalah gambaran seseorang yang memiliki ketakutan tinggi terhadap penolakan, kritik, atau rasa malu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketakutan ini membuat mereka cenderung menghindari kedekatan emosional, bahkan dalam situasi ketika mereka sebenarnya menginginkan koneksi.
Pakar hubungan Stan Tatkin menggambarkan tipe ini seperti "pulau", terlihat kuat dan mandiri tetapi terpisah dari lingkungan sekitarnya.
Analogi ini mencerminkan bagaimana mereka memandang diri sebagai sosok yang tampak tidak membutuhkan orang lain, meski pada kenyataannya tetap memiliki kebutuhan emosional.
Melansir Your Tango, berikut sejumlah ciri yang umum ditemukan pada orang dengan avoidant attachment.
1. Terbiasa mengandalkan diri sendiri
Bagi orang dengan avoidant attachment, kemandirian bukan sekadar nilai, tetapi kebutuhan utama. Mereka terbiasa mengandalkan diri sendiri dalam berbagai situasi, termasuk secara emosional.
Dalam hubungan, hal ini sering membuat mereka sulit membuka diri atau meminta bantuan, karena ketergantungan dianggap sebagai kelemahan. Akibatnya, pasangan bisa merasa tidak dibutuhkan atau tidak memiliki peran penting dalam kehidupan mereka.
2. Membatasi kedekatan emosional
Meski mampu menjalin hubungan, kedekatan emosional yang ditunjukkan cenderung terbatas. Mereka mungkin menunjukkan kasih sayang, tetapi enggan membicarakan hal-hal yang terlalu personal atau emosional.
Ekspresi seperti rindu, sedih, atau takut kehilangan sering kali ditekan. Hal ini membuat hubungan terasa tidak terbuka bagi pasangan yang menginginkan kedekatan lebih intens.
3. Takut berkomitmen
Bagi orang avoidant, komitmen seringkali dipandang sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan. Ketika hubungan mulai serius, orang dengan gaya ini bisa merasa tidak nyaman.
Mereka mungkin mencari celah untuk menciptakan jarak, salah satunya dengan fokus pada kekurangan pasangan atau meragukan hubungan itu sendiri. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena rasa takut kehilangan kontrol atas diri sendiri.
4. Tidak suka dikontrol
Orang dengan avoidant attachment cenderung sangat peka terhadap tanda-tanda yang dianggap sebagai bentuk kontrol dari pasangan.
Permintaan sederhana seperti menghabiskan lebih banyak waktu bersama bisa diartikan sebagai ancaman terhadap kebebasan. Respons yang muncul biasanya berupa menarik diri, bersikap dingin, atau menghindari komunikasi.
Dalam beberapa kasus, mereka bahkan menunjukkan perilaku menjauh secara sengaja untuk menegaskan batas.
Saat hubungan menghadapi masalah, mereka tidak selalu bereaksi secara terbuka. Alih-alih menghadapi konflik, orang avoidant justru lebih memilih menghindar atau menekan emosi.
Mereka bisa terlihat tidak peduli atau tenang, padahal sebenarnya sedang menjauh dari situasi yang dirasa tidak nyaman. Sikap ini kerap disalahartikan sebagai kurangnya perasaan, padahal lebih pada bentuk perlindungan diri.
Memiliki avoidant attachment bukan berarti seseorang tidak mampu mencintai atau menjalin hubungan yang sehat.
Dengan kesadaran diri dan komunikasi yang terbuka, pola ini bisa dikelola. Seseorang dapat belajar untuk lebih nyaman dengan kedekatan, sementara pasangan bisa memahami batasan tanpa merasa ditolak.
(nga/fef) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
