Psikolog Sebut Baligo Film 'Aku Takut Mati' Bisa Berbahaya buat Mental

CNN Indonesia
Senin, 06 Apr 2026 17:15 WIB
Para ahli kesehatan jiwa ikut menyoroti bahaya di balik baliho film Aku Takut Mati yang kini tengah menjadi sorotan.
Ilustrasi. Para ahli kesehatan jiwa ikut menyoroti bahaya di balik baliho film Aku Takut Mati yang kini tengah menjadi sorotan. (dok istimewa via detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia --

Papan reklame atau baliho raksasa dengan judul film Aku Harus Mati kini tengah jadi sorotan. Materi hiburan itu dinilai meresahkan bagi banyak orang.

Tak main-main, para ahli kesehatan jiwa bahkan memandangnya sebagai ancaman nyata bagi kenyamanan psikologis masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter spesialis kesehatan jiwa Lahargo Kembaren mengingatkan bahwa paparan pesan tersebut bisa sangat melukai jiwa-jiwa orang yang sedang berjuang melawan depresi.

Sayangnya, kita tak bisa benar-benar tahu siapa saja yang berjuang melawan depresi. Lahargo mengatakan, banyak orang yang tampak tenang dari luar, namun tengah mengalami peperangan batin yang sangat berat.

"Bagi individu yang sedang merasakan keputusasaan atau memiliki trauma, kalimat 'aku harus mati' bukan lagi sekadar judul film. Kalimat itu bisa jadi pemicu psikologis yang memperkuat pikiran negatif, seolah kematian adalah satu-satunya jalan keluar," ujar Lahargo, melansir detikhealth.

Jalan raya sendiri merupakan ruang publik yang bisa diakses oleh siapa saja. Lahargo menekankan pentingnya menjaga psychological safety atau keamanan psikologis di ruang terbuka.

Paparan visual yang dramatis tentang kematian, lanjut Lahargo, dapat memicu fenomena werther effect atau penularan perilaku bunuh diri.

Lahargo mengajak semua masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang publik. Beberapa pesan bisa saja dianggap sepele oleh beberapa orang, tapi bagi beberapa lainnya, pesan justru bisa jadi berbahaya.

"Ada judul yang menjual rasa takut, tetapi bisa melukai mereka yang sedang berjuang untuk tetap hidup. Pesan di ruang publik seharusnya mempertimbangkan psychological safety," pungkasnya.

(asr) Add as a preferred
source on Google