Terbangun Sebelum Alarm Bunyi, Mending Bangun atau Lanjut Tidur?
Bangun lebih awal sebelum alarm berbunyi terkadang bikin galau antara langsung bangun atau memanfaatkan sisa waktu untuk lanjut tidur.
Sebenarnya mana yang sebaiknya dilakukan, melanjutkan tidur atau memutuskan untuk bangun saja?
Dikutip dari laman Real Simple, para ahli tidur menjelaskan bahwa keputusan untuk kembali tidur atau tidak nyatanya tak sesederhana itu. Jawabannya adalah tergantung pada waktu kamu terbangun dan fase tidur yang tengah berlangsung.
Ada kondisi ketika keputusan untuk tidur lagi bisa bermanfaat, tetapi ada situasi yang justru bakal bikin kamu merasa lebih 'berat' saat bangun nanti.
Ketika kamu terbangun sekalipun hanya sebentar, sebenarnya itu dapat mengganggu proses pemulihan tubuh saat tidur.
Dokter pengobatan integratif Lamees Hamdan menjelaskan bahwa dalam kondisi ideal, tubuh akan melewati beberapa tahap tidur, mulai dari non-REM dalam hingga REM.
"Selama tidur yang sehat, otak melewati siklus tidur non-REM dalam (untuk perbaikan fisik, aktivitas imun, pelepasan hormon pertumbuhan) dan tidur REM (untuk pemrosesan memori, regulasi emosi, dan pemulihan otak)," ujar Hamdan.
"Saat terbangun tengah malam lalu kembali tidur, tubuh sementara keluar dari pola tidur normalnya dan kemudian mencoba masuk kembali ke dalamnya," imbuhnya.
Gangguan ini bisa memicu lonjakan sementara pada hormon stres seperti kortisol, detak jantung, dan tingkat kewaspadaan. Sebab otak menganggap kondisi terbangun sebagai sinyal sebelum kembali tenang.
Namun tak perlu khawatir, terbangun di malam hari merupakan hal yang lumrah dan dapat terjadi sesekali tanpa kita sadari.
Yang perlu diwaspadai ketika terbangun terjadi terlalu sering tiap malam karena dapat mengganggu tidur dalam dan REM. Dampaknya pada tubuh antara lain kelelahan, gangguan mood, hingga meningkatnya stres.
Lebih baik lanjut tidur atau bangun saja?
Nah, jika kamu terbangun sebelum alarm berbunyi, sebaiknya apa yang dilakukan? Para ahli mengatakan bahwa keputusan untuk kembali tidur atau tidak dipengaruhi oleh waktu dan kondisi tubuh saat itu.
Merujuk Sleep Foundation, orang dewasa yang sehat umumnya membutuhkan 7 hingga 9 jam tidur berkualitas setiap malam untuk menjaga kesehatan tubuh serta fungsi kognitifnya.
Ketika kamu terbangun, apakah durasi tidurmu sudah cukup dan memenuhi sekitar 7 hingga 9 jam?
Dikutip dari laman Fortune, kalau durasi tersebut belum terpenuhi maka kamu disarankan untuk kembali tidur.
Namun ada satu pengecualian penting. Kalau alarm akan berbunyi dalam waktu 90 menit atau kurang, maka sebaiknya tidak usah tidur lagi.
Hal ini dijelaskan oleh penasihat medis utama Sleepopolis Raj Dasgupta. Katanya, satu siklus tidur lengkap berlangsung sekitar 90 menit. Jika kamu terbangun di tengah siklus ini, tubuh bisa mengalami sleep inertia.
Sleep inertia ditandai dengan rasa pusing, linglung, dan kesulitan berkonsentrasi yang sering dirasakan banyak orang setelah bangun tidur.
Meski begitu, bangun lebih awal tidak selalu berarti buruk. Dasgupta menyebut, jika kamu terbangun sekitar 30 menit atau kurang sebelum alarm berbunyi, itu justru bisa menjadi sinyal yang baik.
"Itu adalah tanda bahwa jadwal tidur Anda sudah selaras dengan ritme sirkadian," ujarnya.
Ia menambahkan, dalam kondisi tertentu memang tidak perlu memaksakan diri untuk kembali tidur, terutama jika tubuh sudah terasa cukup segar atau waktu bangun sudah dekat.
Para ahli menyarankan untuk tetap beristirahat dengan tenang sebagai alternatif jika tidak ingin langsung beranjak dari kasur.
"Jika Anda tidak bisa tidur, berbaring dengan tenang adalah pilihan terbaik berikutnya. Hal ini bisa memberikan beberapa manfaat seperti meditasi," ujarnya.
Intinya, kamu perlu mendengarkan sinyal tubuh. Jika terbangun tengah malam dan masih mengantuk, lanjutkan tidur. Tapi jika sudah benar-benar terjaga dan mendekati waktu alarm berbunyi, lebih baik adalah bangun agar tidak mengalami linglung dan pusing.
(fef)